
"Aku tidak tahu, Uci. Tapi, aku dengar Diska minta tolong," jawab Rudi ikut cemas.
Mereka saling melempar pandangan sambil memikirkan sesuatu yang buruk terjadi pada Diska.
Saat Uci Desmi dan Rudi sedang panik. Mereka melihat Rama baru saja datang, dia memarkirkan sepeda motornya di depan rumahnya dan hendak melangkah masuk ke dalam rumahnya.
"Rama!" panggil Rudi.
Seketika Rama menghentikan langkahnya saat mendengar Rudi memanggil namanya, dia menatap heran dengan keberadaan Uci Desmi di depan rumah Rudi.
"Apa yang terjadi?" gumam Rama di dalam hati.
Rudi dan Uci Desmi melangkah menghampiri Rama. Begitu juga dengan Rama ikut melangkah menghampiri mereka.
"Rama, mana Diska?" tanya Uci Desmi pada Rama saat mereka sudah berdiri berhadapan.
"Apa? Diska?" tanya Rama kaget.
Dia tak menyangka Uci Desmi akan datang kepadanya mencari Diska.
Kecemasan mulai menyelimuti hati Rama, saat dia pulang mencari Diska tadi sore, dia tak lagi menemukan gadis kota itu, sehingga dia berpikiran bahwa Diska sudah kembali ke rumah Uci Desmi.
"Iya, Rama. Sejak tadi sore Diska pergi dengan Rudi, Dia belum pulang ke rumah," ujar Uci Desmi semakin panik.
Uci Desmi membayangkan Diska kini berada dalam bahaya, terlebih gadis kota itu sempat menghubungi Rudi dan meminta tolong padanya.
"Ram, Diska dalam bahaya," ujar Rudi seketika membuat Uci Desmi dan Rama menatap tajam padanya.
"Benar, dia tadi menghubungiku dan minta tolong," ujar Rudi menegaskan.
Mereka bertiga pun semakin panik, dan bingung harus melakukan apa saat ini. Mereka terdiam sejenak.
Rama yang menyadari ponselnya tertinggal di rumah, langsung berlari masuk ke dalam rumahnya dan mengambil benda pipih jadul miliknya.
Rama semakin cemas saat melihat puluhan kali panggilan tak terjawab dari wanita yang dicintainya.
Rasa bersalah kini menyelinap di hatinya.
"Maafkan aku, Dis," lirih Rama sedih.
"Kita harus cari Diska ke mana?" tanya Rama pada Rudi.
"Tunggu, tadi Diska bersama denganmu. Lalu bagaimana bisa kalian berpisah?" tanya Rudi pada Rama.
__ADS_1
Rama mencoba mengingat kejadian tadi sore di pinggir sungai.
"Sial, jangan-jangan Diska salah jalan dan nyasar di hutan," jawab Rama
Rama tidak menceritakan detail kejadiannya, tapi dia hanya ingat saat itu Diska pergi tanpa pamit padanya.
Rama juga tidak menyadari gadis itu pergi meninggalkannya.
"Apa? Bagaimana bisa dia nyasar di hutan?" tanya Uci Desmi marah pada Rama.
"Aku juga tidak tahu, Uci. Tadi saat kami mengobrol, aku melamun dan saat aku tersadar dari lamunanku, Diska tak lagi berada di sampingku," tutur Rama jujur.
Dia tak bisa lagi menyembunyikan pertengkaran yang terjadi antara dirinya dan Diska pada wanita paruh baya yang sudah dianggapnya sebagai ibunya.
"Kamu benar-benar ceroboh, Rama!" bentak Uci Desmi marah dan kesal pada Rama.
"Lalu sekarang apa yang akan kita lakukan? Hah?" tanya Uci Desmi panik.
Wanita paruh baya itu sangat mengkhawatirkan keadaan gadis kota yang malang itu.
"Rud, temani aku. Kita harus cari Diska sekarang juga," ujar Rama.
"Uci, maafkan aku yang sudah lalai menjaga Diska. Uci pulanglah terlebih dahulu, mana tahu Diska sudah ada di rumah. Aku sama Rudi akan mencari Diska malam ini, nanti kalau memang Diska tidak ada di rumah, tolong Uci kabari kami," ujar Rama pada Uci Desmi dengan penuh penyesalan.
Wanita paruh baya itupun melangkah gontai menuju rumahnya. Hatinya kacau dan risau mencemaskan keadaan gadis kota yang sudah dianggapnya sebagai putrinya.
"Diska, di mana kamu, Nak?" lirih Uci Desmi.
"Ya Allah, tolong lindungi gadis itu dari segala mara bahaya, aamiin," lirih Uci Desmi memanjatkan do'a di setiap langkahnya.
Rama dan Rudi langsung menuju pinggir sungai tempat mereka bertemu tadi sore. Mereka pergi ke hutan dengan membawa senter dan berjalan kaki.
"Apa yang ada di benakmu? Sehingga kamu bisa tak menyadari gadis itu pergi?" tanya Rudi kesal pada sahabatnya.
"A-aku," lirih Rama menyesali kebodohannya.
"Tak seharusnya kamu bersikap seperti itu padanya, jika ada masalah kamu bisa bicarakan baik-baik," ujar Rudi memarahi sahabatnya.
Rama hanya diam, karena apa yang dikatakan Rudi memang ada benarnya.
"Apa pun yang terjadi kamu harus terbuka dengannya, jangan memendam apa yang kamu rasakan seorang diri, itupun jika kamu memang tidak ingin kehilangannya," nasehat Rudi.
"Kamu tahu, Diska itu sangat khawatir denganmu, makanya dia memintaku untuk mencarimu tadi sore. Kalau aku tahu kamu akan mengabaikannya aku akan membawanya pergi jauh darimu," ujar Rudi kesal.
__ADS_1
Pria itu tidak berhenti-henti menasehati sang sahabat yang hanya diam. Rudi saat ini sangat mengkhawatirkan Diska.
Dia yang sempat menyimpan rasa pada gadis kota itu lebih memilih mundur saat mengetahui sahabatnya juga menyukai Diska.
Dia bertekad akan membuat sahabatnya dan gadis kota itu bahagia hingga mereka bersatu di pelaminan.
"Aku menyesal," lirih Rama setelah lama diam.
Mereka masih terus melangkah menyusuri jalan setapak yang mereka yakini dilewati oleh gadis kota itu.
Gelapnya malam tak menjadi penghalang bagi mereka untuk terus mencari sang gadis kota.
Mereka sudah terbiasa berada di dalam hutan tersebut, jadi mereka sangat paham dengan situasi hutan itu.
Walaupun akan ada binatang buas di dalam hutan tersebut, mereka sudah mempersiapkan sebuah parang yang tajam dan sebuah tombak untuk berjaga-jaga.
"Rama, coba lihat!" ujar Rudi saat melihat sobekan baju yang menempel di sebuah ranting.
Rama mengambil sobekan baju itu, dia mencoba mengingat baju yang dipakai oleh Diska tadi sore.
Rama tidak fokus melihat pakaian yang dikenakan oleh Diska, dia tidak ingat sama sekali.
"Ini baju yang dipakai Diska tadi." Rudi meraih kain yang ada di tangan Rama.
"Berarti dia melewati jalan ini," ujar Rudi yakin dengan dugaannya.
Mereka pun mengikuti jalan setapak itu, berharap Diska berada tidak jauh dari tempat mereka saat ini.
"Ram, kita sudah jalan jauh. Tapi, kita tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Diska di dekat sini, apakah kita harus melewati rute yang lain?" tanya Rudi pada Rama.
"Aku juga tidak tahu harus mencari ke mana," lirih Rama.
Rama terduduk lemas di sebuah batang pohon besar yang rebah di pinggir jalan.
Rama mengusap wajahnya kasar, dia semakin menyesali kebodohannya.
"Ya Allah, hamba mohon lindungi Diska, di mana pun dia berada," lirih Rama putus asa.
Rudi juga ikut duduk di samping Rama, tiba-tiba samar-samar mereka mendengar suara langkah.
Dua pria itu saling melempar pandang, mata mereka melirik ke arah asal suara tersebut.
"Awas!" pekik Rudi.
__ADS_1
Bersambung...