Cinta Sang Pemuda Desa

Cinta Sang Pemuda Desa
Bab 11


__ADS_3

Pagi yang cerah, matahari bersinar menyinari bumi memberi kehangatan pada setiap makhluk ciptaan Tuhan, Diska baru saja selesai sarapan pagi yang dimasak oleh uci Desmi.


Setiap pagi uci Desmi selalu memasak sarapan untuk Diska, dia sudah menganggap gadis itu seperti putrinya sendiri. Kehadiran Diska membuat hidupnya terasa lebih berarti dan semakin bersemangat dalam menjalani hari-hari.


“Uci, aku berangkat, ya,” ujar Diska pamit pada uci Desmi.


“Iya, Nak. Hati-hati, ya,” ujar uci Desmi.


Diska mengenakan pakaian dinasnya yang berwarna putih serta penampilan yang rapi, kini duduk di teras rumah menunggu Rudi datang menjemput seperti biasa.


Tak berapa lama Rama datang dengan sepeda motornya yang butut. Dia sangat terpesona melihat Diska dengan penampilan yang sudah berbeda dengan penampilan barunya.


Diska yang biasanya masih mengurai rambut indahnya, kini terlihat suah menutupi auratnya dengan hijab modis ala anak kota, tapi masih terbilang sopan.


“Buk Dokter?” lirih Rama menghampiri Diska tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


“Mhm,” gumam Diska mengernyitkan dahinya.


Diska heran melihat Rama pagi-pagi sekali sudah atang ke rumah uci Desmi.


“Ini beneran kamu, Dokter Diska?” tanya Rama penasaran.


Dia masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya, dia semakin terpukau melihat gadis berhijab sopan yang ada dihadapannya. Kecantikan dari paras anggun Diska semakin terpancar dengan penampilan barunya.


“Iya, ini aku,” jawab Diska kesal.


“Subhanallah, Dokter Diska semakin cantik,” puji Rama tanpa basa-basi.


Hatinya semakin bertambah mencintai gadis kota itu.


“Apaan, sih. Kamu ngapain ke sini?” tanya Diska heran.


“Mhm, itu. Rudi tidak bisa menjemput kamu, jadi dia minta tolong padaku untuk menjemputmu dan mengantarkan ke klinik desa.” Rama menyampaikan tujuan kedatangannya.


“Ya sudah, ayo berangkat!” ajak Diska.


Diska sengaja mengalihkan pembicaraan karena dia merasa gugup dengan tatapan kagum yang terlihat jelas dari sorotan mata Rama padanya.


“Oh, iya. Ayo!” seru Rama.


Rama pun melangkah menuju sepeda motornya yang terparkir di pinggir jalan diikuti oleh Diska. Rama menyalakan mesin sepeda motornya, setelah itu Diska pun menaikinya berbonceng di belakang pria tampan yang berpenampilan seadanya itu.

__ADS_1


Jantung Diska berdegup dengan kencang, entah rasa apa yang kini hadir dalam hati gadis itu. Kini setiap berada di dekat Rama, jantungnya tak bisa berdetak dengan normal.


Sepanjang jalan mereka hanya diam, tak ada sepatah katapun yang dilontarkan oleh Diska, karena dia sendiri merasa canggung untuk banyak bicara dengan pemuda yang kini mulai mengisi relung hatinya.


Rama juga bingung akan berbicara masalah apa karena dia merasa tidak ada topik yang cocok untuk mereka bahas.


Mereka sampai di klinik desa setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit. Rama menghentikan sepeda motornya tepat di depan klinik, Diska pun turun dari sepeda motor milik Rama.


“Terima kasih,” lirih Diska.


Rama tersenyum, “ Sama-sama,” ujar Rama.


Senyuman Rama membuat jantung Diska semakin berdegup dengan kencang. Diska membalikkan tubuhnya lalu melangkah masuk ke dalam klinik.


Diska memilih untuk pergi daripada jantungnya keluar dari tempatnya karena rasa yang kini sudah ada untuk si pemuda desa.


Baru saja dia melangkah hingga pintu masuk, seorang pria datang menghampiri Diska.


“Buk Dokter, tolong saya,” ujarnya dengan wajah sangat panik.


“Ada apa?” tanya Diska ikut panik.


“Istri saya mau melahirkan,” jawab pria itu.


“Di rumah,” jawab sang pria.


“Ayo, aku antar ke rumah mereka,” ajak Rama yang masih berada di depan klinik.


Tanpa pikir panjang, Diska pun langsung menaiki sepeda motor Rama. Rama langsung melajukan sepeda motornya menuju rumah pria itu. Si pria itu langsung mengikuti sepeda motor Rama dengan berjalan kaki.


Sesampai di rumah si pria Diska langsung melangkah masuk ke dalam rumah.


“Mana pasiennya?” tanya Diska ramah pada seorang wanita paruh baya yang ditemuinya saat masuk ke dalam rumah.


“Ayo sini, Buk Dokter,” sahutnya membawa Diska masuk ke dalam sebuah kamar.


Diska menghampiri wanita yang hendak melahirkan, dia mulai memeriksa kondisi sang wanita.


“Ini tidak bisa ditindak di sini, kita harus bawa pasien ke rumah sakit,” ujar Diska panik.


“Rama, pasien harus di bawa ke rumah sakit secepatnya,” ujar Diska pada Rama.

__ADS_1


Rama pun berpikir sejenak lalu dia pergi keluar dari itu, tak berapa lama Rama datang dengan membawa mobil pick up yang biasa digunakan oleh pemilik mobil untuk mengantarkan sawit ke pabrik.


“Ayo, bawa naik!” seru Rama pada si pria yang merupakan suami wanita yang hendak melahirkan itu.


Rama dan sang suami pun mengangkat tubuh wanita yang hendak melahirkan itu ke atas mobil.


Diska tidak berani menindak wanita itu karena ketubannya sudah pecah duluan dan saat ini tekanan darah wanita sangat rendah, itu akan mengakibatkan hal yang sangat fatal.


Dia hanya seorang dokter muda yang belum memiliki kemampuan spesialis di bidang kebidanan, jadi dia tidak mau mengambil resiko tinggi karena pengalamannya belum terlalu banyak.


Di sepanjang perjalanan Diska selalu memantau tekanan darah pasien, mereka pun menempuh perjalanan panjang dan berliku keluar dari desa.


Satu jam perjalanan akhirnya mereka sampai di puskesmas Silaping. Di puskesmas ini sudah tersedia alat yang memadai serta dokter dan bidan yang lebih berpengalaman.


Mereka membawa pasien masuk ke dalam puskesmas. Bersyukur saat mereka sampai bidan dan dokter sudah stand by di sana. Diska hanya bisa memperhatikan proses persalinan yang dibantu oleh bidan yang bekerja di Puskesmas.


“Syukurlah, kamu cepat membawa pasien ke sini,” ujar Bidan pada Diska setelah proses persalinan selesai.


Diska tersenyum pada ibu Bidan tersebut.


“Mhm, syukurlah, Bu. Saya belum terlalu paham masalah melahirkan, sebagai DOkter Muda yang juga masih belajar, saya tidak mau mengambil resiko jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” ujar Diska.


“Kamu bukan orang sini, ya?” tanya Ibu bidan tersebut pada Diska.


Diska mengangguk.


“Saya hanya dokter Muda yang mendapatkan tugas dari Universitas untuk mengabdikan diri di daerah 3T yang ada di Indonesia, dan kebetulan saya ditugaskan di sini,” ujar Diska mulai memperkenalkan dirinya.


“Saya ditugaskan di sini untuk membantu tenaga medis yang ada di desa.” Diska menambahkan.


“Wah, bagus sekali. Kamu dari mana?” tanya Si Bidan pada Diska.


“Saya asli dari Bandung, Bu,” jawab Diska ramah.


“Bagus, semoga kamu betah di daerah kami ini,” ujar Bu Bidan dnegan senyuman ramah.


“Aamiin, semoga saja, Bu,” lirih Diska.


Selaku tenaga medis yang membawa pasien ke Puskesmas, Diska bertanggung jawab dengan berbagai hal menyangkut si pasien. Dia harus mendampingi pasien selama berada di Puskesmas.


“Dis, aku harus kembali ke desa. Mobil ini akan dipakai oleh pemiliknya,” ujar Rama yang tiba-tiba menghampiri dirinya dan pamit.

__ADS_1


Diska kaget dan membesarkan bola matanya tak percaya, dia tak menyangka Rama akan meninggalkannya di Puskesmas bersama pasiennya.


Bersambung…


__ADS_2