Cinta Sang Pemuda Desa

Cinta Sang Pemuda Desa
Bab 43


__ADS_3

"Apa alasanmu datang ke sini? Apakah kamu memiliki keluarga daerah sini?" tanya Diska penasaran.


"Aku punya teman yang menikah di daerah sini," jawab Husein.


"Awalnya aku hanya ingin menenangkan diri ke sini, temanku menawarkan aku untuk berkebun di sini, kebetulan selama di kampung pekerjaanku juga berkebun. Kebetulan dia memiliki lahan kosong untuk ditanami sawit, menjelang pohon sawit tumbuh besar, aku bisa berkebun tanaman muda seperti jagung, kacang tanah, atau padi ladang," ujar Husein menceritakan alasannya hingga mau tinggal di tengah hutan seorang diri.


"Apakah kamu tidak takut seorang diri di sini?" tanya Diska.


"Aku punya Tuhan, aku yakin Allah akan melindungi hamba-Nya selagi kita tidak merusak atau menggangu ciptaan-Nya," jawab Husein bijak.


"Mhm, lalu bagaimana caramu melengkapi kebutuhan di sini?" tanya Diska pada Husein.


"Setiap hari aku akan pergi ke desa Lubuk Gobing untuk membeli beberapa kebutuhanku selama berada di sini," ujar Husein.


"Berarti kamu bisa bawa aku keluar dari hutan ini?" tanya Diska.


"Bisa, tapi aku mau kamu sehat dulu, saat ini kamu masih belum fit," ujar Husein pada Diska.


Diska mengangguk pasrah, yang penting dia selamat dari bahaya hutan belantara yang ditemukannya dua hari yang lalu.


Beberapa hari Diska bersama Husein di hutan, Setiap hari Diska memperhatikan Husein yang bekerja di kebun, mulai dari menanam bibit jagung, memupuk kacang dan mencabut rumput di padi ladang.


Diska mulai menikmati hari-harinya saat berada di hutan.


Satu Minggu telah berlalu, pagi ini Husein akan membawa Diska untuk keluar dari hutan.


Husein akan mengantarkan Diska ke desa Tanjung melewati desa Lubuk Gobing karena Husein tidak tahu jalan setapak menuju desa Tanjung.


Bagi Diska terserah Husein saja, yang penting dia bisa keluar dari hutan itu.


"Bagaimana, apakah kamu sudah siap?" tanya Husein pada Diska yang kini sedang duduk di sebuah bangku panjang yang ada di depan pondok.


"Mhm, iya," lirih Diska.


Tiba-tiba hati gadis itu merasa sedih, dia merasa enggan untuk melangkahkan kaki karena dia sudah merasa betah tinggal di pondok kecil milik Husein.


Walaupun dia hanya bisa mengenakan pakaian milik Husein, Diska merasa senang mendapatkan perhatian dan perlakuan yang Rama dari pria dewasa itu.


"Ayo, kita berangkat," ajak Husein.


Husein sudah siap untuk keluar dari hutan ke desa, dia membawa beberapa hasil kebunnya seperti terung, cabe, dan sayur-sayuran lainnya untuk dijual nanti saat sampai di desa agar dia bisa mendapatkan uang untuk belanja kebutuhannya selama satu Minggu ke depan.


Husein membungkus hasil kebunnya dengan sebuah kain sarung lalu menyandangnya . Begitulah cara Husein membawa hasil kebunnya ke desa, dia tidak membutuhkan bantuan dari pekerja angkat hasil kebun karena itu sama saja akan membuang-buang uang menurutnya.


"Kamu yakin membawa barang-barang itu seorang diri?" tanya Diska khawatir.

__ADS_1


"Iya, aku harus membawanya karena aku butuh uang," jawab Husein jujur.


Diska semakin kagum pada pria yang sudah bersamanya selama satu Minggu ini.


"Berikan padaku sebagian, aku akan membantumu untuk membawanya," ujar Diska menawarkan diri.


"Tidak usah, aku sudah terbiasa membawa hasil kebun ini sendirian," ujar Husein.


"Ayo, kita berangkat." Husein mulai melangkah.


"Ayo," sahut Diska.


Diska pun mulai mengikuti langkah Husein.


Di sepanjang jalan, Diska banyak bertanya saat mendengar suara-suara aneh dari posisinya berada.


"Itu suara apa?" tanya Diska menghentikan langkahnya.


"Itu suara burung, beginilah hutan kamu akan banyak mendengar suara-suara aneh yang selama ini belum pernah kamu dengar. Apalagi kalau malam, suara-suara itu akan terdengar sangat menyeramkan," ujar Husein.


Belum sampai mereka satu kilo berjalan, tiba-tiba Diska terjatuh, tidak sengaja menginjak dahan kayu yang melintang di jalan setapak yang mereka lewati.


"Auw," pekik Diska.


Seketika Husein menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan melihat Diska yang sudah terduduk di atas tanah.


"Kakiku sakit," jawab Diska merintih menahan rasa sakit.


Husein pun menghampiri Diska lalu memeriksa keadaan kaki Diska.


"Astagfirullah, kamu terkilir," ujar Husein.


"Apa?" lirih Diska tak percaya.


"Iya, kalau kamu paksakan untuk berjalan sampai desa, kakimu bisa semakin parah. Sementara itu, aku harus membawa hasil kebun ini ke desa." Husein tampak berpikir.


Saat itu seorang wanita yang juga berkebun di hutan itu melintas di jalan yang mereka lewati.


"Ada apa ini?" tanya si wanita.


"Ini, Buk. Kakinya terkilir," jawab Husein.


Wanita itu mencoba memeriksa kaki si gadis kota.


"Iya, ini terkilir," ujar si wanita itu.

__ADS_1


"Kalian mau ke mana?" tanya Si wanita pada Husein.


Wanita itu sudah mengenal Husein, tapi dia belum mengenali Diska sama sekali.


"Begini, Kak. Diska ini berasal dari desa Tanjung, dia nyasar sampai ke pondokku, jadi aku ingin membawanya keluar dari hutan ini. Mungkin dengan membawanya ke desa Silaping, dia bisa kembali ke desa Tanjung," jelas Husein pada wanita itu.


"Mhm, begitu." Sang wanita mengangguk paham.


"Tapi, kalau kalian paksakan berjalan hingga desa sudah dipastikan kakinya akan semakin parah," ujar si wanita mengingatkan.


"Lalu, aku harus bagaimana?" tanya Diska bingung.


"Mhm, bagaimana Bang Husein antarkan adek ini ke pondokku yang tidak jauh dari sini, setelah itu Bang Husein bisa pergi ke desa untuk menjual hasil kebunnya," usul si wanita.


"Iya juga, ya. Bagaimana, Diska?" tanya Husein meminta pendapat.


"Aku juga tidak tahu, apakah itu artinya aku belum bisa kembali ke desa Tanjung?" ujar Diska sedih.


"Mau tidak mau, kakimu harus disembuhkan dulu," ujar Husein memberi nasehat.


"Aku ikut kamu aja, apa yang terbaik untukku," ujar Diska pasrah.


Gadis kota itu terpaksa pasrah dengan keadaan yang kini dialaminya


Akhirnya Husein meletakkan barang-barang bawaannya di pinggir jalan setapak itu, dia meminta Diska untuk naik ke punggungnya.


Diska merasa segan untuk naik ke atas punggung si pria baik hati itu.


"Ayo, naik," ujar Husein.


"Tapi," lirih Diska tidak enak hati.


"Ayo, aku harus sampai di sini lagi sebelum kak Minah pulang," ujar Husein.


Mau tak mau, akhirnya Diska pun naik ke atas punggung pria yang memiliki tubuh kekar itu.


Dengan langkah cepat Husein mengantar Diska menuju pondok si wanita yang tidak jauh dari pondok milik Husein.


"Beristirahatlah di sini dulu, aku akan kembali secepatnya," ujar Husein sebelum dia meninggalkan si gadis kota.


"Bang, aku takut di sini. Jangan pergi lama-lama," pinta Diska.


Saat ini hati Diska merasa sedih karena harapannya untuk kembali ke desa Tanjung pupuslah sudah.


Dia juga merasa takut lama-lama berada di hutan tanpa Husein bersamanya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2