Cinta Sang Pemuda Desa

Cinta Sang Pemuda Desa
Bab 55


__ADS_3

"Assalamu'alaikum, Uci," sapa Rama saat mereka sudah berada di teras rumah.


Rama berdiri, dia menatap Diska yang menundukkan kepalanya, seakan dia enggan untuk bertemu dengan Rama.


"Wa'alaikummussalam, Rama, sejak tadi kamu di sini?" tanya Uci Desmi.


Uci Desmi dapat melihat wajah kusut, pria yang selama ini sudah dianggapnya sebagai putranya.


"Enggak, Uci. Aku baru sampai," jawab Rama dengan suara serak.


"Ya udah, ayo masuk," ajak Uci Desmi.


Uci Desmi ingin mengajak Rama dan Diska mengobrol di ruang tamu.


Diska hanya diam saja, dia enggan untuk berbicara dengan Rama.


Uci Desmi pun membukakan pintu rumah, lalu mengajak Rama masuk.


"Tidak usah, Uci. Aku di luar saja," ujar Rama.


Mendengar ucapan Rama, Diska mengerti bahwa Rama ingin berbicara dengan dirinya.


"Maaf, Uci. Aku masuk duluan, aku ngantuk," ujar Diska hendak masuk setelah pintu rumah terbuka.


Saat Diska hendak masuk, Rama berdiri lalu memegang tangan Diska. Dia menggenggam tangan Diska dengan erat.


"Aku mohon, beri aku waktu untuk bicara," pinta Rama memohon.


Rama menatap dalam wajah gadis yang sangat dia cintai. Wajah Rama terlihat sembab, karena dia baru saja menangis.


Diska menggelengkan kepalanya. Dia tidak sanggup berlama-lama menatap wajah sendu pria yang dicintainya.


"Maaf, aku lelah. Lagian tidak ada lagi yang harus kita bicarakan," ujar Diska menolak.


Diska melepaskan tangan Rama secara perlahan kini buliran bening sudah menggenang di pelupuk matanya.


Sebelum Diska sempat melepaskan tangan Rama, pria itu menarik Diska dan langsung memeluk tubuh gadis yang sangat dicintainya itu.


Rama mengabaikan keberadaan Uci Desmi di dekat mereka. Akhirnya wanita paruh baya itu memilih untuk masuk ke dalam rumah, memberi ruang bagi mereka untuk menyelesaikan masalah mereka.


Diska berusaha untuk melepaskan pelukan itu.


"Aku mohon, beri aku waktu untuk memelukmu, meskipun untuk yang terakhir kalinya," lirih Rama dengan nada serak.


Dia sengaja mempererat pelukannya agar Diska tidak lepas dari pelukannya.

__ADS_1


Diska pun melemah, dia tak lagi meronta, dia dapat merasakan kerinduan yang mendalam dari sosok pria tampan yang sebenarnya sangat dicintainya.


Rama terus memeluk tubuh Diska dengan erat. Dia menunggu hati Diska luluh dengan kehangatan cinta yang diberikannya.


Rama melepaskan pelukannya, lalu mengajak Diska duduk di bangku panjang yang ada di teras rumah Uci Desmi.


"Dek," lirih Rama.


Dia memulai pembicaraan di antara mereka. Dia menghadap pada wanita yang dicintainya itu.


"Abang minta maaf atas apa yang sudah terjadi. Abang tahu Abang salah, tak seharusnya Abang bersikap seperti itu," lirih Rama mulai mengakui kesalahannya pada Diska.


"Jika saat itu Abang tidak cemburu buta, hal buruk itu tidak akan menimpa kamu, Dek." Rama menyesali semuanya.


Terlihat dengan jelas di wajah pria itu bahwa dia benar-benar menyesal.


Diska melihat air mata Rama yang menetes di pipinya, entah mengapa hati Diska terasa sakit saat melihat pria yang dicintainya mengeluarkan air matanya.


Ingin rasanya dia memeluk Rama dan menghapus air mata yang kini mengucur deras di pipi sang pemuda desa nan tampan. Ketampanannya masih terpancar meski wajahnya kini sudah basah karena air mata.


Seumur hidupnya, Rama tidak pernah menangis sesedih ini, kecuali saat kedua orang tuanya meninggal.


Rasa sedih yang dirasakannya saat ini sama dengan kesedihannya saat kehilangan kedua orang tuanya.


"Dek, hiks." Rama belum bisa menghentikan isakannya.


"Ma-maafkan a-aku." Rama terbata-bata.


"Ka-kalau kamu memang tidak bisa memaafkan aku, tidak apa-apa. Kamu mau bertemu denganku saja sudah mengobati rasa sakit yang kurasakan saat ini," lirih Rama.


Melihat Diska yang masih bergeming di tempatnya, hati Rama terasa hancur lebur. Dia merasa Diska tak lagi mencintai dirinya.


Akhirnya Rama pun berdiri.


"Terima kasih atas waktu yang sudah adek berikan, Abang akan menjadikan semua yang sudah kita lalui kenangan terindah dalam hidup Abang," lirih Rama.


Rama melangkah meninggalkan rumah Uci Desmi.


Saat Rama baru saja melangkah beberapa langkah, Diska berlari lalu memeluk Rama dengan erat.


"Maafkan aku," lirih Diska.


Akhirnya Diska pun kembali membuka hatinya untuk Rama, tapi itu semua sudah terlambat. Rama sudah setuju menikah dengan Annisa.


Rama menghentikan langkahnya, seketika hatinya yang tenggelam dalam jurang kepedihan bangkit. Ada rasa lega di saat gadis yang dicintainya kini tengah memeluknya dengan erat.

__ADS_1


Setelah itu Rama membalikkan tubuhnya perlahan, lalu dia kembali memeluk erat gadis yang dicintainya itu.


"Maafkan aku," lirih Diska.


Mereka pun menangisi apa yang sudah terjadi. Gelapnya malam menjadi saksi bisu cinta mereka kembali bersatu meskipun takdir akan memisahkan mereka.


Malam itu, Rama mengajak Diska ke sebuah bukit yang mana terdapat sebuah taman kecil. Di taman itu ada sebuah pondok kecil, entah siapa yang mendirikan pondok itu tak ada yang tahu.


Bahkan siapa yang membuat taman itu pun tak ada yang tahu, hanya saja taman itu selalu dirawat oleh siapa pun yang berkunjung ke sana.


Dari bukit tersebut mereka dapat menyaksikan indahnya perkampungan desa Tanjung.


Di sana mereka menghabiskan malam bersama.


Diska pun menceritakan siapa pria yang bersamanya di hari itu. Hingga saat ini tak ada lagi kesalahpahaman di antara mereka dan tak ada lagi keraguan di antara mereka.


Rama juga menceritakan di saat Diska pergi, dia sama sekali tidak menyadarinya karena larut dalam keterpurukannya karena minder, saat itu dia merasa tidak pantas untuk mendapatkan cinta Diska.


Dia merasa tidak sebanding dengan pria yang mengantar Diska waktu itu.


Mereka berbaring di atas pondok itu dengan posisi saling berhadapan.


"Maafkan aku yang tidak bisa memperjuangkan cinta kita, aku harus menikah dengan Nisa. Semoga kamu mendapatkan pengganti yang lebih baik dariku," ujar Rama pada Diska dengan penuh penyesalan.


Diska mendekap tubuh Rama dengan erat, dia sadar dengan keadaan yang tengah mereka hadapi.


Setelah kepergiannya ini, Diska belum tahu entah kapan akan kembali lagi ke desa ini.


Dia tidak dapat berjanji akan kembali ke desa ini untuk Rama.


Semua sudah terlambat, mereka tidak yakin akan takdir mempertemukan mereka lagi.


"Bang," lirih Diska.


"Mhm," gumam Rama.


Saat ini Rama tengah berusaha menahan gejolak jiwa yang membara di dalam dadanya.


Posisi mereka saat ini membuat dia menginginkan lebih dari diri Diska, hasratnya ingin memiliki Diska seutuhnya.


Diska mendongakkan kepalanya hingga mereka kini saling menatap dalam, menyelami lautan cinta.


Rama tak dapat lagi mengendalikan dirinya, dia pun mengecup lembut bi*ir Diska.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2