Cinta Sang Pemuda Desa

Cinta Sang Pemuda Desa
Bab 18


__ADS_3

Matahari bersinar terang memberi kehangatan pada setiap makhluk yang ada di bumi, kicauan burung menjadi musik mengawali setiap langkah insan.


Diska baru saja selesai bersiap-siap untuk berangkat menuju klinik melaksanakan tugasnya seperti biasa.


Sementara itu, Uci Desmi selalu memasak sarapan untuk Diska, dia sudah menganggap gadis itu seperti putrinya sendiri.


Kehadiran Diska membuat hidupnya terasa lebih berarti dan semakin bersemangat dalam menjalani hari-hari.


"Pagi, Uci," sapa Diska yang baru saja keluar dari kamarnya dan sudah siap untuk berangkat menuju klinik melaksanakan tugas dan kewajibannya.


"Pagi, Sayang. Makan dulu, ya. Uci udah menyiapkan lauk ikan sungai untuk kamu," ujar Uci Desmi pada Diska yang kini sudah duduk di kursi meja makan.


"Wah, enak dong, Uci. Aku mau," ujar Diska.


Diska kini sudah terbiasa menjalani hari-hari di desa. Dia juga mulai mengikuti kebiasaan penduduk desa yang setiap pagi mengisi perutnya dengan makanan berat bukan hanya sarapan saja.


"Ya udah, yuk kita makan," ajak Uci Desmi ikut duduk di samping Diska.


Mereka pun menikmati makan pagi yang sudah disiapkan oleh Uci Desmi.


"Dis," lirih Uci Desmi setelah mereka menghabiskan sepiring nasi serta lauknya.


Diska menoleh ke arah Uci Desmi.


"Iya, Ci," lirih Diska.


"Uci perhatikan, sepertinya Rama menyukai kamu, apakah kamu tidak menyukainya?" tanya Uci Desmi terus terang.


"Hah?" Diska kaget mendapatkan pertanyaan dari Uci Desmi.


Uci Desmi menghela napasnya panjang, dia menatap dalam pada wajah cantik Diska.


"Nak, apakah kamu tidak menyukai Rama?" tanya Uci Desmi mengulangi pertanyaannya.


"Mhm, gimana, ya?" lirih Diska bingung harus menjawab apa.


"Dis, Rama itu pemuda yang baik. Hampir semua harus yang ada di desa ini menyukainya. Hanya saja Rama tak pernah terlihat tertarik pada siapa pun, kecuali kali ini, Uci melihat pancaran kekaguman pada seorang gadis," ujar Uci Desmi mengungkap apa yang dilihatnya selama ini pada diri si pemuda desa yang juga sudah dianggapnya sebagai putra kandungnya.


"Memangnya, Uci melihat pancaran kekaguman itu untuk siapa?" tanya Diska penasaran.


"Untuk kamu, Nak," jawab Uci Desmi.


Jantung Diska langsung berdegup dengan kencang, dia merasa belum siap mengungkapkan apa yang ada di hatinya.

__ADS_1


"Dis," panggil Uci Desmi saat Diska terdiam membisu.


"Uci tahu kamu juga menyukai Rama," ujar Uci Desmi lalu dia berdiri sambil mengangkat piring kotor ke tempat cucian piring.


Diska pun berdiri dan merapikan meja makan, menyimpan nasi dan lauknya di bawah tudung saji yang terbuat dari rotan.


“Uci, aku berangkat, ya,” ujar Diska pamit pada uci Desmi setelah meja makan rapi.


“Iya, Nak. Hati-hati, ya,” ujar uci Desmi.


Diska mengenakan pakaian dinasnya yang berwarna putih serta penampilan yang rapi, kini duduk di teras rumah menunggu Rudi datang menjemput seperti biasa.


jarum jam tangan di pergelangan Diska sudah menunjuk ke angka 8, itu artinya dia sudah harus berangkat menuju klinik. Namun, Diska belum melihat tanda-tanda kedatangan Rudi yang biasa menjemputnya.


"Rudi ke mana, ya? Kok sampai jam segini belum datang juga," gumam Diska di dalam hati.


Diska mulai capek memanjangkan lehernya untuk melihat kedatangan Rudi dari persimpangan jalan.


"Lho, Diska. kamu belum berangkat juga? ada apa?" tanya Uci desmi yang baru saja keluar dan masih melihat Diska duduk di teras rumah.


"belum Uci dari tadi aku nungguin Rudi tapi belum datang-datang juga, mana sekarang udah jam 08.00 lagi, aku pasti terlambat,"


“Buk Dokter?” panggil Rama.


Pemuda desa itu turun dari sepeda motornya lalu menghampiri Diska yang masih duduk di depan teras rumah.


Uci Desmi dan Diska menoleh ke arah Rama yang masuk ke dalam pekarangan rumah Uci Desmi.


"Maaf, Buk Dokter. Rudi tidak bisa menjemput Buk Dokter, dia memintaku untuk menjemput dan mengantarkan Buk Dokter menuju klinik desa," ujar Rama setelah dia berada di depan Diska dan Uci desmi.


“Mhm,” gumam Diska mengernyitkan dahinya.


"Memangnya Rudi ada kesibukan apa?" tanya Diska.


Rama hanya mengangkat bahunya sebagai jawaban dari pertanyaan Diska.


“Oh, begitu. Ya sudah, ayo berangkat!” ajak Diska.


Diska berdiri dan berpamitan dengan Uci Desmi, gadis itu pun melangkah keluar dari pekarangan rumah Uci desmi dan menunggu Rama di samping sepeda motornya.


“Oh, iya. Ayo!” seru Rama.


Rama pun melangkah menuju sepeda motornya yang terparkir di pinggir jalan, yang di sana sudah berdiri sang gadis kota.

__ADS_1


"Ayo naik," ajak Rama setelah dia menunggangi kuda besi miliknya.


Jantung Diska berdegup dengan kencang, entah rasa apa yang kini hadir dalam hati sang gadis kota. Kini setiap berada di dekat Rama, jantungnya tak bisa berdetak dengan normal.


Diska menaiki sepeda motor milik Rama dan berbonceng di belakang pria tampan itu.


Sepanjang jalan mereka hanya diam, tak ada sepatah katapun yang dilontarkan oleh Diska, karena dia sendiri merasa canggung untuk banyak bicara dengan pemuda yang kini mulai mengisi relung hatinya.


Rama juga bingung akan berbicara masalah apa karena dia merasa tidak ada topik yang cocok untuk mereka bahas saat ini.


Mereka sampai di klinik desa setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit. Rama menghentikan sepeda motornya tepat di depan klinik, Diska pun turun dari sepeda motor milik Rama.


“Terima kasih,” lirih Diska.


Rama tersenyum, “Sama-sama,” ujar Rama.


Senyuman Rama selalu saja membuat jantung Diska berdegup dengan kencang tak keruan. Diska membalikkan tubuhnya lalu melangkah masuk ke dalam klinik.


Gadis kota itu memilih untuk pergi daripada jantungnya keluar dari tempatnya karena rasa cinta yang kini semakin tumbuh di relung hatinya untuk sang Pemuda desa.


"Diska," panggil Rama membuat Diska menghentikan langkahnya seketika.


Perlahan Diska membalikkan tubuhnya.


"Ada apa?" tanya Diska.


"Mhm, nanti kamu pulangnya jam berapa?" tanya Rama pura-pura tidak tahu.


Rama sengaja mencari topik agar dia masih bisa berbicara sejenak sebelum mereka kembali melakukan aktivitas masing-masing.


"Mhm, biasanya aku pulang jam 15.30," jawab Diska.


"Oh, ya udah kalau begitu, aku harus setel alarm nanti jam setengah empat biar aku tidak lupa untuk menjemputmu," ujar Rama tersenyum.


"He." Diska juga melayangkan sebuah senyuman untuk sang pemuda desa.


"Ya sudah kalau begitu, aku pergi dulu, ya," ujar Rama.


"Oh, iya. Terima kasih," ucap Diska lagi.


Dia kini masih diam berdiri di tempatnya sambil melambaikan tangannya pada Rama yang kini telah mulai melajukan sepeda motor miliknya.


"Ciie... kalian cocok lho," goda salah satu bidan yang juga bekerja di klinik desa.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2