
Keesokan harinya semua orang yang mengkhawatirkan keadaan Diska datang mengunjungi rumah Uci Desmi.
Beberapa ibu-ibu desa datang membawakan makanan dan buah-buahan.
Sikap dan tingkah laku Diska yang ramah membuat warga menyayangi gadis kota itu.
"Syukurlah, kamu baik-baik saja selama di hutan," ujar salah seorang wanita paruh baya yang biasa menjadi pasien Diska.
"Iya, Buk. Aku bersyukur masih ada orang baik membantuku selama berada di hutan," ujar Diska mengingat kebaikan Husein yang sudah membantunya.
"Memangnya siapa orang itu, penduduk sini juga atau gimana Dia?" tanya ibu B penasaran.
"Mhm, bukan penduduk sini, Buk. Dia juga bukan penduduk desa seberang, tapi dia dari Sumatra Utara," ujar Diska.
Diska pun menceritakan kehidupan Husein yang terpaksa pergi dari kehidupan keluarganya hanya untuk menenangkan diri atas pengkhianatan yang dilakukan oleh istrinya.
Dia meninggalkan harta benda dan pekerjaannya demi berkebun di tengah hutan yang asing baginya.
"Ya ampun, kasihan pria itu. Seandainya aku punya anak perempuan maulah aku nikahkan dengan pria itu," ujar Ibu B menanggapi cerita Diska.
"Ish, belum tentu juga dia mau jadi menantumu, Buk," ledek ibu C.
Mereka pun tertawa bersama-sama. Mereka mengobrol sejenak setelah itu ibu-ibu itu pulang ke rumah masing-masing.
Kini tinggallah Diska dan Uci Desmi yang masih duduk di ruang tamu.
"Diska," lirih Uci Desmi.
Dia ingin mengajak Diska mengobrol sejenak dari hati ke hati.
Diska menoleh pada wanita paruh baya yang sudah dianggapnya sebagai ibunya.
"Mhm, ada apa, Uci," lirih Diska.
"Uci tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara kamu dan Rama. Hanya saja, Uci merasa sedih melihat kalian seperti ini sekarang," tutur Uci Desmi mengungkapkan kesedihannya.
Diska terdiam, dia pun termenung mengingat kejadian beberapa minggu yang lalu.
Tanpa disadarinya air matanya kini mulai membasahi pipinya.
Uci Desmi menghela napas panjang, dia pun mengusap lembut punggung Diska.
Uci Desmi mengerti dengan apa yang tengah dirasakannya saat ini. Rasa takut menjalani hidup di dalam hutan belantara beberapa hari pasti membuat dirinya memiliki trauma tersendiri.
__ADS_1
"A-aku, tidak menyangka egonya lebih tinggi dari pada rasa cintanya padaku. Apa yang telah terjadi pada diriku ini adalah kesalahannya," lirih Diska.
Dia menyalahkan Ra yang membiarkan dirinya pergi di saat Rama hanyut dalam rasa cemburu di hatinya.
"Seandainya dia tidak marah padaku hari itu, aku tidak harus menghadapi maut di dalam hutan itu."
Bayangan harimau yang mengincar dirinya serta ular besar yang hendak menelannya kembali terlintas dalam benaknya.
Berbagai peristiwa yang harus dilewatinya menjadi traumatik terdalam bagi jiwa dan pikirannya.
"Uci tahu, tapi tak sepatutnya kamu menyalahkan dirinya. Kalaupun memang dia salah, apakah kamu akan terus membencinya? Tidakkah kamu bisa memberi maaf padanya?" tanya Uci Desmi pada Diska.
Uci Desmi mempertanyakan hati nurani Diska saat ini.
"Uci, saat ini aku tidak tahu jawaban dari pertanyaan, Uci. Yang pasti saat ini aku tidak ingin bertemu lagi dengannya," tutur Diska.
Diska pun menangis, dia merasa dipermainkan oleh pemuda yang sangat dicintainya. Rasa luka itu semakin mendalam saat mendengar pertanyaan dari Uci Desmi.
"Ya sudah, Uci tidak akan memaksamu. Jika memang itu yang terbaik menurutmu, Uci akan mendukungmu," ujar Uci Desmi.
Saat ini Uci Desmi memilih untuk membiarkan Diska mengikuti kata hatinya.
Uci Desmi merangkul Diska, dia membiarkan gadis kota itu meluapkan rasa sedihnya di dalam pelukan wanita paruh baya yang sudah dianggapnya sebagai ibu kandungnya.
Wanita paruh baya itu pun membukakan pintu untuk tamunya.
Diska melihat Rama berdiri di depan rumah Uci Desmi, mereka saling beradu pandang.
Menatap satu sama lain mempertanyakan isi hati masing-masing.
Terlihat jelas di mata Rama bahwa dia masih sangat mencintai gadis kota itu, dia juga terlihat menyesal dengan apa yang sudah terjadi.
Sebenarnya Rama sudah berada di depan pintu rumah Uci Desmi sejak tadi, dia juga dapat mendengarkan keinginan Diska yang sudah tidak ingin lagi bertemu lagi dengannya.
"Ada apa, Rama?" tanya Uci Desmi mencairkan suasana.
"Mhm, a-aku hanya ingin memberikan ini pada Diska," ujar Rama sambil memberikan ponsel Diska yang sudah mati karena habis baterai.
Diska melirik ke arah ponsel miliknya yang kini ada di dalam genggaman Rama.
"Letakkan di atas meja itu!" ujar Diska.
"Setelah itu pergilah," ujar Diska mengusir Rama.
__ADS_1
Diska pun melangkah masuk ke dalam kamar, dia memang benar-benar tidak ingin berjumpa dengan Rama.
"Diska," panggil Rama.
Seketika Diska menghentikan langkahnya. Dia diam dan tidak membalikan tubuhnya.
"Aku tahu, musibah yang sudah menimpamu merupakan karena kecerobohanku, apa yang terjadi merupakan salahku."
"Jika kamu memang tidak ingin bertemu aku, mulai hari ini aku tidak akan pernah muncul di hadapanmu," lirih Rama.
Rama tak ingin Diska semakin tersiksa jika mereka selalu berjumpa, akhirnya Rama pun meletakkan ponsel milik Diska di atas meja.
"Uci, aku pamit dulu," lirih Rama berpamitan pada Uci Desmi.
Uci Desmi hanya bisa mengangguk, dia sedih melihat Rama dan Diska seperti ini, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Rama pun melangkah meninggalkan rumah Uci Desmi.
Wanita paruh baya itu pun melangkah menuju meja, lalu mengambil ponsel Diska dan menyimpannya.
"Mungkin seperti ini lebih baik," lirih Uci Desmi sedih.
Uci Desmi pun menyimpan ponsel milik Diska lalu dia masuk ke dalam kamarnya.
****
Hari-hari di desa mulai dijalani Diska seperti biasanya, tugas Rudi yang sempat digantikan oleh Rama kini kembali dilaksanakan oleh Rudi.
Rudi yang mengantar dan menjemput Diska pergi dan pulang dari klinik. Sedangkan Rama kini sibuk menyendiri di kebun peninggalan kedua orang tuanya.
Dia memilih untuk bermalam di hutan agar Diska tidak bisa bertemu dengannya. Rama menuruti apa yang diinginkan Diska.
Rama tidak ingin menyakiti gadis yang dicintainya dengan terus-terusan mencari atau membujuknya untuk memaafkan dirinya.
Rama rela hidup dalam kebencian gadis yang dicintainya, dia berada di hutan tidak hanya untuk menghindari Diska, dia juga ingin menghindari Annisa dan Pak Kepala Desa yang selalu menagih jawaban atas lamaran yang sempat diberikan oleh sang kepala desa itu.
Saat ini kebun peninggalan kedua orang tua Rama sudah mulai terawat dan menghasilkan, semua usaha Rama tidak sia-sia terlebih di saat ini harga karet naik drastis dari sebelumnya sehingga dia mendapat hasil lebih banyak dari usahanya tersebut.
Dengan hasil karet, Rama sudah memiliki tabungan meskipun sedikit dia terus menabung untuk masa depannya.
Semakin dia mengingat cintanya yang kandas sebelum berlayar, semakin Rama bersemangat untuk terus berusaha.
Bersambung...
__ADS_1