Cinta Sang Pemuda Desa

Cinta Sang Pemuda Desa
Bab 23


__ADS_3

"Kamu mau makan atau minum?" tawar Rama pada Diska saat seorang pelayan datang menghampirinya.


"Mhm, enggak tahu. Minum ajalah, belum selera makan," jawab Diska.


"Ya udah, kamu mau minum apa?" tanya Rama lagi.


"Teh es aja," jawab Diska.


"Teh es 2 ya, Kak," ujar Rama pada si pelayan.


"Baik, Bang. Makannya apa?" tanya si pelayan pada Rama.


"Enggak usah dulu, Kak," jawab Rama.


Kebetulan mereka sampai di puncak paranginan masih pukul 10.30 pagi, jadi mereka belum selera untuk menikmati makanan apa pun.


Rama mengajak Diska untuk berswa foto di tempat yang memang sengaja disediakan pemilik kafe di sana.


Sambil menunggu minuman mereka datang Diska dan Rama asyik berfoto berdua, baik itu mereka sendiri-sendiri maupun langsung berdua.


Diska terlihat senang dengan apa yang dilakukannya bersama sang pemuda desa .


"Bagaimana, kamu senang?" tanya Rama setelah mereka duduk di sebuah bangku yang terdapat di tempat mereka tadi berfoto.


Diska tersenyum.


"Aku akan senang setiap kali berada di dekatmu," jawab Diska di dalam hati.


Gadis kota itu takut untuk mengungkapkan rasa yang ada di hatinya, karena takut Rama tidak menyukai dirinya.


Rama mengernyitkan dahinya saat melihat Diska hanya tersenyum.


"Kenapa tidak dijawab?" tanya Rama pada Diska.


"Mhm," lirih Diska mengangguk.


Rama ikut tersenyum.


"Andaikan aku bisa memilikimu, aku akan menjagamu sepenuh hati dan jiwaku agar senyuman di wajahmu selalu ada," gumam Rama di dalam hati sambil menatap dalam gadis yang sudah menguasai relung hatinya.


"Bang, minumnya mau di sana atau di sini?" tanya si pelayan yang sedang membawakan dua gelas es teh untu Rama dan Diska.


"Di sana saja, takutnya ada yang datang dan ingin berfoto di sini," ujar Rama.


Rama dan Diska berpindah ke sebuah pondok yang menghadap pada pemandangan alam yang sangat natural.


"Setelah ini kita akan pergi ke pantai Air Bangis," ujar Rama.


"Mhm, apakah tempatnya jauh dari sini?" tanya Diska.


"Sekitar satu jam dari sini," jawab Rama.


"Lumayan jauh juga, ya," ujar Diska.


"Tenang saja, kamu tidak akan merasa jauh selagi bersama denganku," ujar Rama santai.

__ADS_1


"Hehehe, kamu bisa aja." Diska terkekeh mendengar ucapan Rama.


Mereka pun mengobrol dan bercanda sejenak di kafe tersebut, setelah itu mereka pun beralih ke pantai Air Bangis.


Sebelum waktu dzuhur masuk mereka sudah sampai di Pantai Air Bangis.


Rama mencari sebuah mesjid berhenti sejenak sambil menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim.


Usai shalat, Rama mengajak Diska ke sebuah rumah makan. Rama sudah kenal bagaimana Diska, dia memilih rumah makan yang bagus dan bersih meskipun rumah makan tersebut terbilang sangat sederhana.


"Kita bungkus aja, ya. Nanti kita makannya di Pantai," ujar Rama pada Diska yang dijawab dengan sebuah anggukan.


Rama tersenyum, lalu dia pun memesan 2 bungkus nasi Padang lalu mengajak Diska ke pantai.


Rama mengajak Diska ke sebuah kafe yang ada di pinggir pantai, yang mana di sana terdapat pohon Pinus yang rindang.


Sebuah kafe yang terbilang sederhana, dengan pemandangan laut yang luas.





"Aku biasa ke sini bareng Rudi, kami akan memesan minuman di sini sambil menikmati nasi bungkus serta memandang lautan lepas," ujar Rama setelah duduk di sebuah bangku kafe.


"Kalian sangat akrab," ujar Diska menanggapi cerita Rama.


"Aku dan Rudi sudah bersahabat sejak kami duduk di bangku SD," ujar Rama.


"Rudi pemuda yang bai," ujar Diska berpendapat.


"Hehehe, kamu bisa saja," lirih Diska.


Diska merasa Rama tengah cemburu saat dia memuji sang sahabat.


"Buktinya memang lebih baik aku," ujar Rama lagi ngotot.


"Iya, kalian berdua memang baik," lirih Diska.


"Bang, Kak, mau pesan apa?" tanya seorang pelayan datang menghampiri mereka.


"Mhm, apa ya?" gumam Diska.


"Chocolatos dingin," ujar Diska saat melihat list menu yang tadi diberikan sang pelayan.


"Cappucino dingin," ujar Rama.


"Ya udah, yuk kita makan," ajak Rama.


Rama mulai membuka bungkusan nasi yang mereka beli tadi. Dia membukakan bungkus nasi untuk Diska.


"Makanlah, dijamin enak," ujar Rama.


"Wah, ini porsinya banyak banget," ujar Diska.

__ADS_1


Diska memang tahu porsi nasi Padang memang banyak dengan campuran lauk yang enak-enak.


"Makanlah, nanti kalau tidak habi aku yang habiskan," ujar Rama tersenyum.


"Ya udah, kalau gitu kamu ambil sekarang aja," ujar Diska.


"Jangan, makanlah sampai kamu kenyang, setelah itu aku akan menghabiskan sisa makananmu," ujar Rama.


"Tapi," lirih Diska tidak enak hati.


"Tidak ada tapi-tapian," bantah Rama.


Pemuda desa itu mulai menyuapi nasi yang ada di hadapannya. Dia makan dengan lahapnya, Diska terpana melihat cara makan pemuda yang ada di sampingnya.


Akhirnya Diska pun ikut menikmati nasi bungkus Padang yang sudah ada di hadapannya.


Mereka sibuk dengan kegiatan makannya. Tak satu pun yang bersuara.


"Rama, aku sudah kenyang," ujar Diska setelah dia menghabiskan setengah nasi bungkusnya.


"Ya udah, biar aku yang habiskan," ujar Rama.


Rama memindahkan bungkus nasi Diska ke hadapannya setelah nasi bungkus miliknya sudah habis.


Dia pun melahap sisa nasi milik Diska, gadis kota itu menatap dalam pada pria yang ada di sampingnya kini, Rama merupakan seorang pemuda yang sederhana yang selalu bersikap apa adanya, dia tidak malu terlihat rakus di hadapan Diska. Hal itu membuat Diska semakin kagum pada sang pemuda desa itu.


"Kenapa liatin aku seperti itu?" tanya Rama setelah dia menyelesaikan kegiatan makannya.


Sejak tadi dia sudah tahu bahwa gadis kota yang menatapnya.


"He, tidak ada," jawab Diska.


"Pasti kamu mau bilang aku rakus," tebak Rama


"Enggak, seorang pria itu sudah biasa makan dengan porsi besar, berbeda dengan wanita," ujar Diska jujur.


"Benarkah?" ujar Rama.


"Ya, begitulah," ujar Diska.


Rama menatap dalam ke arah gadis kota itu, begitu juga dengan Diska, dia menatap dalam pada sang pemuda desa.


Mereka saling beradu pandang, mulai menyelami lautan cinta yang semakin dalam di hati kedua insan itu.


Rasa cinta terus tumbuh di hati mereka, tapi mereka belum mengungkapkan apa yang mereka rasakan karena saling takut cinta mereka bertepuk sebelah tangan.


"Maaf, Bang, Kak," lirih pelayan yang kini sudah berada di hadapan mereka dengan membawakan minuman yang mereka pesan tadi.


"Eh, iya," lirih Rama malu ketahuan sedang menatap gadis yang disukainya.


Si pelayan tersenyum melihat keduanya yang kini salah tingkah.


"Selamat menikmati, Bang, Kak," ujar si pelayan setelah meletakkan minuman yang dibawanya tadi.


"Terima kasih," ucap Diska.

__ADS_1


Dia membiarkan si pelayan pergi meninggalkan mereka.


Bersambung...


__ADS_2