Cinta Sang Pemuda Desa

Cinta Sang Pemuda Desa
Bab 46


__ADS_3

Rudi melangkah menuju hutan tempat Rama berada, dia melangkah dengan semangat. Dia sudah tak sabar lagi akan memberitahukan kabar tentang Diska pada sang sahabat.


Saat Rudi sampai di hutan tempat sahabatnya berkebun, dia mendapati Rama tengah menebang pohon-pohon liar yang mengganggu pohon karet yang kini telah tumbuh besar di sana.


"Rama!" teriak Rudi memanggil sang sahabat .


Rama masih asyik dengan pekerjaannya, dia sama sekali tidak mendengar panggilan dari sang sahabat.


"Rama!" teriak Rudi sekali lagi.


Melihat Rama yang tidak menggubris panggilannya, Rudi pun melangkah menghampiri Rama yang tengah bekerja.


"Hei, Ram," panggil Rudi saat dia sudah berada tepat di belakang Rama.


Rama kaget dengan kehadiran sang sahabat, dia menghentikan pekerjaannya sejenak.


"Hei, Rudi. Ada apa?" tanya Rama saat menyadari sahabatnya sudah berada di dekatnya.


"Sejak tadi aku memanggilmu," keluh Rudi mengabaikan pertanyaan yang dilontarkan oleh sang sahabat.


"Maaf, aku sama sekali tidak mendengar panggilanmu," ujar Rama.


"Ada apa kau datang ke sini?" Rama kembali mengulangi pertanyaannya yang belum dijawab oleh sang sahabat.


Rudi melangkah menuju pondok peristirahatan Rama yang ada di hutan itu, Rama pun berjalan mengikuti langkah Rudi.


Mereka duduk di beranda pondok. Rama menunggu apa yang akan dikatakan oleh Rudi.


"Ram, aku sudah menemukan Diska," lirih Rudi memulai pembicaraan dengan Rama.


Rama langsung menoleh ke arah Rudi, dia menatap tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh sahabatnya.


"Apa maksudmu, Rudi?" tanya Rama meminta penjelasan dari apa yang sudah dikatakannya.


"Ram, Diska sudah ditemukan dia saat ini berada di salah satu pondok petani yang berkebun di hutan ini," ujar Rudi memberitahukan keberadaan gadis kota itu saat ini.


"Benarkah, kamu jangan berbohong padaku Rudi, jangan berikan harapan palsu padaku," ujar Rama masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Rudi.


"Benar." Rudi mengangguk.


"Kamu masih ingat dengan pria yang sudah membantu kita saat kita kelaparan dan haus mencari Diska," ujar Rudi.


Rudi mulai menceritakan pertemuannya dengan Husein di pasar tadi pagi.

__ADS_1


Rudi juga menceritakan bagaimana Husein menemukan Diska di pinggir anak sungai.


"Rud, Ayo kita sekarang ke sana. Aku ingin bertemu Diska sekarang juga, aku ingin memastikan keadaannya saat ini, Ayo, Rud kita ke sana," ajak Rama.


Rama terus mendesak Rudi untuk pergi ke pondok milik Husein.


Seketika Rama mengabaikan pekerjaannya yang belum selesai.


Dia bergegas bersiap-siap untuk berangkat menuju pondok Husein yang ada di tengah hutan.


Rudi mengangguk dan mengiyakan apa yang diinginkan oleh sang sahabat.


Mereka pun melangkah menyusuri jalan setapak di tengah hutan menuju pondok yang ditempati oleh Husein.


Langkah Rama semakin cepat dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan gadis yang sangat dicintainya.


Gadis yang telah membuat hidupnya gelap saat dia tak lagi mendapat kabar tentangnya.


Mereka sampai di perkebunan milik Husein setelah menempuh 2 jam perjalanan.


Hati Rama mulai berdebar kencang, dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan gadis pujaannya, gadis yang sudah dilukainya dan disakitinya.


Rama menatap pada pondok yang berada di tengah-tengah kebun itu, kakinya yang sudah berjalan lebih cepat terasa begitu berat untuk dilangkahkan.


"Ada apa, Ram?" tanya Rudi heran.


“Apakah Diska masih mau berbicara denganku?” tanya Rama ragu untuk melangkah.


“Ayolah, kita ke sana. Jangan pikirkan apa yang akan dilakukan Diska setelah bertemu denganmu, apa pun yang akan terjadi harus kita jalani.” Rudi berusaha untuk menyemangati Rama.


Akhirnya mereka melangkah mendekati pondok milik Husein, saat mereka berada beberapa meter dari pondok itu, Rama melihat Diska dan Husein tengah bersenda gurau.


Wajah Diska terlihat sangat bahagia, seolah tidak ada beban yang tengah dihadapinya. Keakraban yang terjalin antara Diska dan Husein membuat Rama merasa cemburu.


Seketika keceriaan yang di wajah Diska sirna saat Diska menyadari kedatangan Rudi dan Rama.


Mata gadis kota itu menatap tajam penuh kebencian pada pria yang pernah mengisi relung hatinya. Kekecewaan mendalam terhadap pria itu membuat Diska tak ingin lagi bertemu dengan Rama.


“Ada apa, Dis?” tanya Husein pada Diska saat melihat wajah Diska yang berubah drastis.


Husein mengikuti arah tatapan Diska, dia pun kini mengerti dnegan apa yang terjadi saat ini.


“Hai, Rud,” sapa Husein berusaha mengabaikan apa yang terjadi antara Rama dan Diska saat ini.

__ADS_1


“Hai, Bang.” Rudi menghampiri Husein.


Rama masih berdiri di posisinya, dia tahu saat ini Diska sangat membenci dirinya. Diska berdiri dan berusaha sekuat tenaga untuk masuk ke dalam pondok dengan berjalan tertatih karena kakinya masih sakit.


“Dis,” panggil Rama.


Husein dan Rudi mengerti dnegan apa yang terjadi, akhirnya mereka memilih untuk berjalan mengelilingi kebun. Mereka sengaja memberi ruang untuk Rama dan Diska saat ini.


Diska menghentikan langkahnya.


“Maafkan, aku,” lirih Rama sambil menundukkan kepala.


Diska masih berada di posisinya. DIa tak bergeming.


“Aku tahu aku sudah berbuat salah padamu, aku mohon maafkan aku,” ujar Rama memohon pada Diska.


Diska masih diam, dia masih sangat kecewa dengan pria yang sudah dipercayakannya untuk menjaga hatinya.


Diska kembali mengingat 2 hari perjalanannya berjuang hidup di tengah hutan seorang diri. Berjuang menghindari harimau dan bertemu ular besar. 2 hari perjalanannya yang mengerikan itu menoreh kekecewaannya yang mendalam pada Rama.


Rama mendekati Diska yang masih berdiri di ambang pintu masuk pondok, Rama memeluk tubuh DIska dari belakang.


“Maafkan aku, aku sudah membuatmu seperti ini, ini smeua salahku,” ujar Rama menyesali apa yang sudah dilakukannya.


Diska ingin melepas pelukan itu, tapi hatinya menolak. Hati kecilnya sangat merindukan hangatnya pelukan sang pemuda desa itu.


Mereka terdiam dalam pikiran masing-masing. Rama terus memeluk Diska dengan erat meluapkan rasa rindu yang ada di hatinya.


Tak berapa lama mereka tenggelam dalam rasa yang terus membuat mereka hanyut, Diska tersadar dari lamunannya, dia melepaskan tangan Rama yang melingkar di pinggang seksinya.


Dia membalikkan tubuhnya, dia menatap pada Rama.


“Maaf, pergilah, jangan pernah temui aku lagi,” pinta Diska.


Diska tak sanggup menatap bola mata sang pemuda desa.


“Apakah sebegitu bencinya dirimu padaku, sehingga kamu sanggup untuk menyuruh aku pergi dari kehidupanmu,” lirih Rama.


Diska hanya diam.


“Jika kamu memang membenciku, aku akan terima hal itu. Tapi, aku mohon ikutlah pulang bersamaku, uci Desmi sangat mengkhawatirkanmu. Dia sangat merindukanmu,” ujar Rama.


Rama tak lagi membujuk Diska untuk memaafkan dirinya karena dia sadar atas apa yang telah dilakukannya terhadap Diska. Rama hanya meminta DIska untuk mau kembali ke desa bersama mereka.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2