
Semua orang yang ada di warung nasi itu pun menoleh ke arah Annisa yang berteriak pada Rama.
"Iya, aku sudah makan, lalu apa masalah buat kamu? Kalau kamu mau makan, silakan. Aku akan menunggumu di luar," ujar Rama tegas.
Rama berdiri lalu membayar tagihan makanannya. Dia keluar dari warung nasi itu tanpa menghiraukan Annisa yang menatapnya dengan kesal.
Annisa melangkah sambil menghentakkan kakinya menghampiri Rama yang kini duduk di atas sepeda motor sambil memainkan ponselnya.
"Rama, kamu jangan berbuat sesuka hatimu atau aku akan melaporkan semua perbuatanmu pada ayahku," ancam Annisa berharap Rama akan takut dan segan padanya.
"Silakan, aku akan beritahu ayahmu perbuatan tak senonoh yang sudah kamu lakukan," ujar Rama balik mengancam Annisa.
Annisa berpikir Rama akan takut dengan ancaman yang diucapkannya, karena sudah bisa dipastikan Rama akan diberhentikan bekerja di kantor Kepala Desa.
Ternyata perkiraan Annisa salah besar, Rama sedikitpun tidak takut dengan ancaman darinya.
Gadis itu bergegas naik ke atas sepeda motor.
"Ayo, pulang," ajak Annisa kesal.
Rama senang mendengar itu, akhirnya dia langsung melajukan sepeda motornya. Mereka pun kembali ke desa Tanjung.
Sepanjang perjalanan tak ada suara di antara mereka. Rama fokus mengendarai sepeda motor dengan kecepatan di atas rata-rata. Dia ingin cepat sampai di desa agar dia bisa kembali mencari Diska.
Sesampai di kampung Rama mengantarkan Annisa terlebih dahulu ke rumahnya. Semua angan-angan yang direncanakan Annisa gagal total.
Dia ingin mengajak Rama berjalan-jalan terlebih dahulu ke Pantai Air Bangis, tapi karena kebodohannya mood Rama hilang drastis.
Rama langsung kembali melajukan sepeda motor setelah Annisa turun. Dia langsung menuju kantor kepala desa mengantarkan semua ATK yang dibutuhkan di kantor kepala desa.
"Pak, semua barang-barang ATK sudah saya simpan di tempatnya," ujar Rama setelah menyimpan barang-barang yang baru saja dibawanya.
"Rama, kamu udah pulang?" tanya Pak Didin heran.
Dia tak menanggapi ucapan Rama barusan.
"Iya, pak," jawab Rama.
"Kenapa cepat sekali?" tanya Pak Didin semakin heran.
"Ya, kebetulan semua barang-barang yang saya cari sudah didapat, begitu juga dengan Annisa, dia juga sudah menemukan barang yang dicarinya," jawab Rama santai.
"Kalian tidak pergi jalan-jalan terlebih dahulu?" tanya Pak Didin penasaran.
__ADS_1
"Tidak, Pak," jawab Rama singkat.
"Mhm, lalu di mana Annisa sekarang?" tanya Didin.
"Di rumah, Pak," jawab Rama.
Semua pertanyaan Pak Didin selalu dijawab dengan singkat oleh Rama.
"Oh, ya udah, kalau begitu nanti malam kamu datang ke rumah, ya. Ada sesuatu yang harus saya bicarakan," pinta Pak Didin pada sang pemuda desa nan tampan.
"Tapi, Pak. Saya masih harus mencari Diska," bantah Rama.
"Kamu tidak perlu sibuk mencari Diska, karena saya sudah menyuruh beberapa orang warga untuk mencarinya," ujar Pak Didin tidak mau dibantah.
Rama menghela napas panjang, dia tidak bisa lagi menolak perintah dari sang kepala desa. Walau bagaimanapun, Pak Didin sudah banyak melakukan berbagai hal untuk dirinya hingga saat ini dia dapat bekerja di kantor Kepala Desa sambil bekerja serabutan lainnya.
"Baiklah, Pak," lirih Rama.
Setelah itu, Rama meminta salah satu petugas kantor Kepala Desa untuk mengantarkannya pulang ke rumahnya. seperti biasa dia akan meninggalkan sepeda motor itu di kantor kepala Desa.
Rama langsung turun dari sepeda motor saat ntar sampai di depan rumahnya, dia tak langsung masuk ke dalam rumah tapi dia melangkah menuju rumah Rudi yang berjarak satu rumah dari rumahnya.
"Assalamu'alaikum," ucap Rama sambil mengetuk pintu rumah Rudi.
"Wa'alaikummussalam, Rama," seru Rudi kaget melihat sahabatnya sudah berada di depan rumahnya.
"Iya, Rud," lirih Rama terlihat sedang putus asa.
Rama melangkah masuk ke dalam rumah sahabatnya, lalu dia merebahkan tubuhnya di kursi panjang yang ada di ruang tamu.
Rudi heran melihat sikap sahabatnya, dia duduk di kursi tunggal yang ada di samping kursi tempat Rama berbaring.
"Ada apa, Ram? Kamu terlihat suntuk sekali," tanya Rudi mulai penasaran dengan apa yang tengah terjadi pada sahabatnya.
"Mhm, Rud, hari ini kita tidak bisa melanjutkan pencarian Diska," ujar Rama putus asa.
"Eh, kenapa?" tanya Rudi penasaran.
Seharusnya Rama bersemangat mencari Diska karena salah satu penyebab perginya Diska adalah dirinya.
"Pak Kepala desa memintaku datang ke rumahnya nanti malam, ada sesuatu yang akan dibicarakannya. Aku sudah bilang padanya bahwa aku akan mencari Diska sore ini. Namun, dia mengabaikan ucapanku." Rama menceritakan apa yang terjadi.
"Ya ampun, terus bagaimana, dong? Atau aku bawa teman yang lain untuk mencari Diska?" tanya Rudi menawarkan diri.
__ADS_1
Rudi tahu, Diska dan Rama sudah memiliki hubungan khusus tapi sahabat Rama itu juga merasa sedih dengan apa yang kini menimpa Diska.
"Jangan, Rud. Mungkin hari ini kamu istirahat terlebih dahulu, aku akan menemui pak jorong malam ini, mungkin malam ini lebih baik istirahat dulu. Besok pagi-pagi sekali kita lanjutkan pencariannya.
"Baiklah, kalau begitu," lirih Rudi terpaksa setuju.
"Ya sudah kalau begitu kita harus beritahu hal ini pada Uci Desmi," ujar Rama lagi.
"Iya, agar dia tidak salah paham padamu," ujar Rudi.
Rama mengangguk, setelah itu mereka keluar dari rumah Rudi dan beranjak menuju rumah Uci Desmi.
****
Sebelum petang berganti malam, Diska terbangun dari pingsannya, dia membuka matanya secara perlahan.
Pelan-pelan dia mencoba memandangi sekelilingnya.
"Di di-dimana aku?" tanya Diska pelan.
Dia sendiri tidak tahu bertanya pada siapa, karena dia tidak menemukan siapapun di tempat itu.
"Apa jangan-jangan aku sudah berada di dalam perut ular besar itu," gumam Diska.
Gadis itu membayangkan saat ini dia sudah ditelan hidup-hidup oleh ular yang dilihatnya tadi.
"Ya Allah, atau jangan-jangan aku sudah meninggal dunia, dan sekarang aku sudah berada di alam lain?" gumam Diska terus bermonolog seorang diri.
Diska kembali mencermati ke sekelilingnya, dia melihat sebuah jendela yang terbuka. Dia mengernyitkan dahinya, dia mulai memperhatikan dengan seksama.
Dengan susah payah Dia bangkit dari posisi berbaringnya, meskipun kepalanya masih terasa sangat pusing dia tetap berusaha mencerna keberadaan dirinya saat ini.
Diska mendekati jendela pondok tempat dia berada, dia memandangi sekitarnya dari jendela itu.
Di saat itu dia menyadari bahwa saat ini dia berada di sebuah pondok di tengah-tengah hutan.
Sang pria melihat Diska yang mengeluarkan kepalanya dari jendela, sang pria pun menghentikan pekerjaannya lalu dia melangkah menuju pondok.
"Kamu sudah sadar?" tanya Sang pria pada Diska.
Gadis itu taku, lalu mengambil pisau yang tergeletak di lantai pondok dia menyodorkan pisau itu ke arah sang pria.
"Siapa kau?" bentak Diska.
__ADS_1
Bersambung...