Cinta Sang Pemuda Desa

Cinta Sang Pemuda Desa
Bab 53


__ADS_3

"Iya dia akan pergi meninggalkan Desa ini besok adalah hari terakhirnya di sini," ujar Rudi.


Lalu Rudi terdiam sejenak dia menatap kasihan pada sahabatnya. Jelas terpancar di wajah Rama bahwa saat ini dia sangat hancur.


"Jika kamu ingin berbicara dengannya sebelum dia pergi, temuilah dia dan katakan apa yang ingin kamu katakan padanya sebelum kamu menyesali semuanya." Rudi memberi saran kepada sahabatnya agar Rama tidak menyesal di kemudian hari.


Kata-kata Rudi begitu dalam sehingga Rama termenung mendengarnya. Buliran bening mulai jatuh satu persatu membasahi pipi sang Pemuda desa yang tampan itu.


Rama merasa sedih mendengar kata-kata dari sahabatnya.


Di saat wanita yang dicintainya akan pergi jauh dia masih berada di hutan meratapi kesendirian dan pahitnya kehidupan yang selama ini dijalaninya.


Rama masih larut dalam kesedihannya, dia tenggelam dalam luka yang menyakitkan, sang pemuda desa kini menyendiri dibalut sepi.


Rudi menepuk pundak sang sahabat.


"Aku sebagai sahabatmu memberi saran, temui dia dan selesaikan kesalahpahaman yang terjadi di antara kalian sebelum kalian menyesali apa yang terjadi saat ini," nasehat Rudi kepada sahabatnya agar bertindak lebih cepat.


"Rud, bagaimana caraku untuk menemuinya? sedangkan dia sama sekali tidak ingin bertemu denganku?" tutur Rama mengungkap kegalauan yang selama ini.


Rama takut untuk bertemu Diska karena dia tidak ingin menyakiti gadis yang dicintainya.


"Kalau masalah itu aku akan bantu kamu untuk bertemu dengannya, aku akan membujuk Diska untuk mau bertemu denganmu." Rudi memberikan solusi perihal yang ditakuti oleh sahabatnya.


Rudi akan melakukan apapun demi sahabat dan wanita yang pernah dicintainya. Dia rela mengorbankan cintanya demi kebahagiaan sahabatnya Rama.


Sebagai seorang sahabat Rudi ikut sedih dengan apa yang terjadi antara Diska dan Rama saat ini.


Selama ini dia mundur demi Rama, dia mengalah agar Rama dapat menemukan kebahagiaannya bersama Diska.


Rama masih terdiam membeku, Dia terpaku tidak tahu apa yang akan dilakukannya.


"Mhm, aku rasa tidak ada yang harus aku selesaikan dengannya karena aku sudah menerima permintaan Pak Didin, aku akan menikah dengan Annisa, jadi percuma saja aku bertemu dengannya." Rama mengambil keputusan tanpa memikirkan perasaan Rudi.


"Apa? kamu menerima permintaan Pak Didin? Kamu mau menikah dengan gadis yang jelas-jelas kamu tidak suka?" tanya Rudi kaget mendengar penuturan sahabatnya.


Rudi tidak menyangka Rama mengambil sebuah keputusan penting tanpa meminta pendapat padanya.


Rudi sangat kecewa dengan apa yang dilakukan oleh sahabatnya itu.

__ADS_1


"Aku terpaksa melakukan hal ini, Pak Didin memaksaku untuk menerima permintaannya, karena Anisa mengancam Pak Didin, jika Pak Didin tidak berhasil membujukku menikah dengannya maka Annisa akan bunuh diri," tutur Rama jujur.


Rama memberi alasan atas keputusan yang sudah diambilnya.


"Aku kecewa padamu, Ram. aku tidak menyangka kamu serapuh dan sebodoh ini," ujar Rudi kesal.


"Aku tidak tahu akan berbuat apa lagi, di saat seperti ini lebih baik aku membantu Pak Didin daripada berjuang mengajar cintanya sementara dia sangat membenciku," lirih Rama pelan.


"Seharusnya kamu berusaha dulu untuk meraih hatinya," ujar Rudi terlihat kasar pada sang sahabat.


"Semua sudah terlambat, Rud."Rama putus asa.


"Meskipun begitu temuilah dia walaupun hanya sekedar untuk melepaskan rasa yang terpendam di hati kalian masing-masing, agar Diska bisa pergi tanpa membawa luka dari Desa ini," nasehat Rudi untuk terakhir kalinya.


Dia tidak dapat berbuat apa-apa lagi untuk mempersatukan Diska dan Rama.


Paling tidak dia dapat membuat Diska dan Rama tidak saling membenci lagi sebelum mereka berpisah.


Rama hanya diam mendengar nasehat sahabatnya, dia mulai meresapi setiap kata yang keluar dari mulut sang sahabat.


"Nanti malam ada acara perpisahan dengan Diska yang diselenggarakan oleh penduduk desa. Jika kamu tidak ingin menyesal datanglah dan temui dia," ujar Rudi.


Rudi kesal dengan sikap ramah yang mudah putus asa.


Selama ini Rudi mengetahui bahwa sahabatnya itu seorang pria yang penuh semangat dan berjuang untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.


Kali ini Rudi kecewa dia tidak menyangka Rama akan serapuh ini dalam menghadapi masalah cinta.


Rudi kembali ke desa, dia ikut membantu teman-temannya yang lain untuk mempersiapkan acara nanti malam.


Sebelum maghrib semua persiapan sudah selesai, warga pun kembali ke rumah masing-masing untuk membersihkan diri setelah lelah bekerja menyiapkan acara nanti malam.


Diska juga ikut kembali ke rumah Uci Desmi. Di saat Diska baru saja sampai di rumah, dia melihat Uci desmi tengah duduk di ruang tamu sambil bermenung.


Diska mengernyitkan dahinya, dia heran melihat wanita paruh baya itu tengah melamun.


Diska pun melangkah menghampiri wanita yang sudah dianggapnya sebagai ibunya. Wanita yang selama ini memberikan kasih sayang padanya seperti ibunya.


Di desa yang jauh dari daerah asalnya, dia mendapat kasih sayang berlimpah dari wanita paruh baya itu.

__ADS_1


"Uci," lirih Diska.


Suara Diska membuat Uci Desmi tersentak dari lamunannya.


"Eh, kamu sudah pulang?" tanya Uci desmi sambil mengusap pipinya yang basah.


"Uci menangis? Ada apa?" tanya Diska heran.


Uci Desmi pun menatap Diska dalam, lalu dia langsung memeluk Diska dengan erat.


"Hiks, huhu." Uci desmi mulai menangis tersedu-sedu.


Orang yang paling sedih saat ini adalah wanita paruh baya itu. Satu tahun hidup bersama gadis kota yang sama sekali tidak memiliki ikatan darah menyisakan kenangan yang mendalam di hatinya.


Terlebih sikap Diska yang menganggap dirinya sama seperti ibunya membuat Uci Desmi merasa memiliki seorang putri.


Diska juga ikut menangis di dalam pelukan wanita paruh baya itu.


Mereka larut dalam kesedihan yang mendalam, melepaskan rasa takut kehilangan antara satu sama lain.


"Selama ini, Uci berharap kamu dan Rama berjodoh, agar kamu bisa menetap di desa ini, Uci sedih harus berpisah denganmu," Isak Uci Desmi.


Wanita paruh baya itu mulai mengungkapkan apa yang dirasakannya saat ini.


"Uci, maafkan aku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, lagian saat ini Rama sudah memiliki calon istri. Aku tidak merusak kebahagiaan Nisa," ujar Diska berusaha memberi pengertian kepada Uci Desmi.


"Jika memang Uci takut berpisah denganku, aku mau membawa Uci ikut denganku ke kota," ujar Diska memberi solusi.


"Tidak, Nak. Uci tidak mungkin meninggalkan desa ini," lirih Uci Desmi.


Diska berusaha tersenyum.


"Uci, jika suatu saat nanti aku ada kesempatan dan rejeki, aku akan datang menemui Uci." Diska berjanji pada Uci Desmi.


Uci Desmi menghapus air matanya.


"Benarkah?" Uci Desmi sangat berharap Diska akan datang kembali ke desa itu.


"Iya, Uci," lirih Diska mengangguk.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2