Cinta Sang Pemuda Desa

Cinta Sang Pemuda Desa
Bab 30


__ADS_3

"Dis, kalian duluan aja. Aku mau ke toilet dulu," ujar Gina pada Diska saat mereka baru saja memasuki Transmart.


Gina merasa tidak enak hati pada Rezi yang selalu membayar barang-barang belanjaannya secara dia baru kenal dengan dokter muda itu, Gina tidak ingin berhutang Budi pada pria yang baru saja dikenalnya.


Saat Gina tak bersama mereka, Rezi menarik Diska ke sebuah toko perhiasan.


"Hei, ada apa? ngapain kita ke sini?" tanya Diska heran.


"Coba lihat, kamu mau yang mana?" tanya Rezi sambil menunjuk beberapa perhiasan yang terpajang di etalase toko tersebut.


"Mhm, kamu mau belikan aku perhiasan?" tanya Diska memastikan.


"Ya iyalah, masa iya aku mau belikan kamu baju di sini, sudah bisa dipastikan di sini tidak ada jual baju," ujar Rezi santai.


"Kak, kamu enggak perlu repot-repot memberikan aku perhiasan, karena aku sendiri tidak terlalu suka menggunakan barang-barang seperti ini," ujar Diska berusaha menolak tawaran dari Rezi.


"ayolah aku hanya ingin memberi hadiah untuk kamu, hitung-hitung sebagai rasa syukurku dengan apa yang sudah aku dapat saat ini," bujuk Rezi.


Setelah sekian lama Rezi berpisah dengan Diska karena dia mengambil spesialis kedokteran di luar negeri, saat ini dia ingin memberikan sesuatu yang berharga untuk Diska.


"Ah, enggak usah." Diska menarik tangan Rezi untuk keluar dari toko perhiasan tersebut.


"Ayolah, Dis. Paling tidak kamu pilih cincin atau gelang," bujuk Rezi.


Rezi memasang wajah memohon di hadapan Diska.


Berkali-kali bisa berusaha untuk menolak tawaran dari Rezi. Namun, Rezi terus membujuk Riska agar mau menerima tawarannya tersebut.


Akhirnya mau tidak mau Diska pun mengalah, mereka kembali masuk ke dalam toko perhiasan lalu Diska memilih satu buah cincin sederhana dan mengenakannya di jari manisnya.


"Bagaimana kamu suka sekarang?" tanya Rezi pada Riska meminta pendapat.


"Perfecto, aku suka," sahut Rezi.


Dokter muda itu pun membayar tagihan harga cincin yang dikenakan oleh Diska. Setelah itu mereka pun melangkah menuju sebuah foodcourt untuk mengisi perut mereka yang terasa lapar.


"Gina ke mana, ya?" gumam Diska di dalam hati sambil celingak-celinguk mencari sosok Gina.


"Kamu cari siapa sih?" tanya Rezi heran melihat tingkah Diska.


"Kak Gina tadi ke mana, ya? Sejak tadi mau ke toilet sampai sekarang belum juga datang," jawab Diska.


"Mhm, mungkin ada sesuatu yang dicarinya," ujar Rezi berpendapat.


"Mungkin, tapi aku sudah bilang kita nungguin di sini, sejak tadi belum juga datang," lirih Diska.


"Permisi, Kak, Bang, mau makan apa?" tanya seorang pelayan yang datang menghampiri tempat mereka.


"Kamu mau makan apa?" tanya Rezi pada Diska.


"Mhm, aku mau ayam rica-rica, aja," jawab Diska setelah membaca list menu yang ada di atas meja.


"Mhm, ya udah ayam rica-rica 2 porsi sama minumannya es lemon tea 2," ujar Rezi pada pelayan.


Diska tersenyum mendengar ucapan Rezi, pria tampan yang kini berada di hadapannya itu memang sangat mengerti dengan apa yang disukainya.

__ADS_1


"Kamu masih saja paham minuman kesukaanku," ujar Diska pada Rezi.


"Tak ada pria yang bisa memahami melebihi diriku, karena kamu sudah bersamaku sejak kecil," ujar Rezi dengan bangga.


"Mhm, kamu benar, Kak. Hanya kamu yang paling mengerti aku," ujar Diska.


"Eh, itu Kak Gina." Diska melambaikan tangannya memanggil Gina.


"Bentar ya, Kak," ujar Diska pada si pelayan.


Si pelayan mengangguk.


"Kakak dari mana aja, sih?" tanya Diska.


"Hehehe, keliling ternyata banyak tak menarik perhatianku," ujar Gina sambil mengangkat beberapa kantong belanjaan yang ada di tangannya.


"Ya ampun, Kak." Diska geleng-geleng kepala melihat belanjaan Gina.


"Hehehe." Gina terkekeh.


"Oh, iya. Aku jadi lupa, kamu mau pesan apa, Kak? Kami udah pesan makanan," tanya Diska pada Gina saat dia melihat si pelayan masih berdiri di hadapan mereka.


"Mhm, kamu pesan apa, Dis?" tanya Gina.


"Kami pesan ayam rica-rica dan es lemon tea," jawab Diska.


"Ya udah, aku ikut kalian aja, deh," ujar Gina tak ingin ribet.


"Ya udah, semuanya 3 porsi ya, Kak," ujar Rezi pada si pelayan.


Diska dan Gina pun asyik membahas beberapa barang belanjaan yang sudah diborong oleh Gina.


Sang dokter muda hanya tersenyum mendengar ocehan 2 orang wanita yang ada di hadapannya.


Usai makan mereka kembali ke hotel dan beristirahat.


Keesokan harinya, Diska dan Gina check out dari hotel. Begitu juga dengan Rezi, dia sudah menyewa mobil dan seorang sopir untuk mengantarkannya ke desa tempat Diska mengabdi.


"Kamu udah siap?" tanya Rezi saat bertemu dengan Diska dan Gina di lobi hotel.


"Udah, Kak," jawab Diska.


"Ya udah, yuk berangkat. Mobilnya sudah ada di depan hotel," ujar Rezi pada Diska.


Mereka melangkah keluar dari hotel menuju parkiran.


Seorang pria berdiri di depan mobilnya, pria itu menyapa dan menyambut kedatangan Rezi.


"Kita berangkat sekarang, pak?" tanya si pria tersebut yang merupakan sopir yang akan mengantarkan mereka ke desa.


"Iya, supaya kita bisa kembali ke sini setelah itu, aku juga harus berangkat ke Bandung nanti malam," ujar Rezi.


"Baiklah kalau begitu," ujar Si pria.


Pria itu membantu Diska dan Gina memasukkan barang-barang bawaan mereka ke dalam mobil.

__ADS_1


Mereka masuk ke dalam mobil setelah memastikan barang-barang mereka tidak ada lagi yang tertinggal.


Rezi duduk di samping sopir, Gina dan Diska duduk di bangku tengah. Sedangkan bangku belakang sudah dipenuhi oleh barang-barang belanjaan kedua wanita itu.


Sebelum pukul 7.00 mereka sudah mulai melaju meninggalkan kota Padang. Rezi sengaja meminta sang sopir untuk berangkat ke desa lebih awal agar dia tidak ketinggalan pesawat malam nantinya.


"Riyan, nanti kita berhenti di tempat makan untuk sarapan," ujar Rezi pada sang sopir.


"Baik, Pak. Kita nanti sarapan di daerah Pariaman saja,biasanya di sana banyak menu sarapan yang enak-enak," ujar Riyan, sang sopir mobil rental itu.


Pada pukul 11.30, mereka telah sampai di Silaping. Mereka mengantarkan Gina terlebih dahulu, setelah itu mengantarkan Diska ke desa Tanjung.


Sepanjang perjalanan menuju desa Tanjung, Rezi takjub melihat pemandangan alam yang masih asri dan natural. Hanya saja dokter muda itu prihatin melihat infra struktur yang ada menuju desa Tanjung.


"Wajar saja kamu betah tinggal di sini, udara dan alamnya masih sangat asri sehingga udara di sini sangat segar dan masih sehat. Jauh berbeda dengan kota," ujar Rezi mengganggumu daerah yang menjadi tempat yang nyaman bagi Diska.


"Kalau kamu mau, kita bisa mendirikan rumah sakit di sini," ujar Rezi pada Diska.


"Mhm, setelah ini belok kanan ya, Bang," ujar Diska pada Riyan mengarahkan sang sopir menuju rumah Uci Desmi.


Diska sengaja mengabaikan ucapan Rezi, dia tidak ingin Rezi berharap lebih darinya.


"Iya, Bang. Di sini," seru Diska meminta sang sopir menghentikan mobil di depan rumah Uci Desmi.


Diska dan Rezi turun dari mobil, sang dokter muda membantu Diska membawa barang-barang gadis kota itu masuk ke dalam rumah Uci Desmi.


"Diska, Uci kangen," seru Uci Desmi langsung memeluk Diska saat dia tahu gadis kota itu sudah kembali.


Wanita paruh baya itu menatap heran pada Rezi, dia mempertanyakan siapa sosok pria yang bersama Diska.


"Uci kenalkan, ini dokter Rezi Rayandra, dia merupakan putra dari teman kedua orang tua aku," ujar Diska memperkenalkan Rezi.


"Kebetulan pemateri di acara pelatihan tersebut, salah satunya pria tampan ini," ujar Diska pada Uci Desmi.


"Oh, iya silakan masuk dulu," ujar Uci Desmi berbasa-basi.


"Tidak usah, Buk. Kami harus kembali sekarang, karena saya harus berangkat ke Bandung pesawat setelah maghrib," ujar Rezi menolak tawaran Uci Desmi dengan ramah.


"Dis, maafkan aku, ya. Aku harus berangkat sekarang, aku tidak bisa berlama-lama lagi, besok ada acara di rumah sakit, jadi mau tak mau malam ini aku harus kembali ke Bandung," ujar Rezi pada Diska.


"Iya, lagian kamu paket acara nganterin aku ke sini," ujar Diska.


"Sebenarnya aku juga ingin menginap dan berkeliling di sini, tapi tugas mendadak tidak bisa aku tinggalkan," ujar Rezi.


"Iya, enggak apa-apa. Terima kasih ya, Kak." Diska memeluk Rezi dengan erat s bagai ucapan terima kasih pada Rezi.


"Iya, kamu hati-hati di sini, kapan-kapan aku datang mengunjungimu," ujar Rezi.


Pria itu membalas pelukan erat sang gadis kota itu.


"Diska," lirih Rama pelan.


Pemuda desa itu menatap kecewa pada gadis yang beberapa hari ini sudah dirindukannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2