
Rama berlari menghampiri tubuh ayah dan ibunya yang tergeletak di tanah dalam keadaan berlumuran darah. Sang ayah, telah terbujur kaku dengan darah segar terus keluar dari lehernya.
“Mak, apa yang terjadi?” tanya Rama panik sambil merangkul ibunya yang mengeluarkan darah di bagian perutnya.
Sang ibu masih dapat membuka matanya, “Ra-ma, jadi-lah a-nak yang ba-ik. Ja-ngan per-nah tinggal-kan sha-lat,” lirih sang ibu dengan terbata-bata sambil menahan rasa sakit bekas luka sabetan di perutnya.
“Apa yang terjadi,Mak?” tanya Rama dengan tangisan yang tak terbendung.
“Ra-ma, mak min-ta tolong jagain adik-adikmu dan didiklah mereka menjadi orang yang jujur,” lirih ibu Rama dengan napas tersengal-sengal menahan rasa sakit yang telah menjalar di sekujur tubuhnya.
“Asyhaduallaillaha ilallah wa asyhaduanna muhammadar rasulullah,” lirih sang ibu lalu memejamkan mata untuk selamanya.
“Mak!” teriakkan Rama menggema di seluruh hutan belantara.
Flash back Off...
“Uci, ada apa?” tanya Diska bingung saat melihat uci Desmi terpaku mengenang masa itu, dia adalah orang pertama melihat Rama kehilangan orang tuanya di kebun.
“Eh, nggak apa-apa,” lirih uci Desmi sambil mengusap air mata yang kini telah membasahi pipinya.
Diska tak ingin memaksa uci Desmi menceritakan apa yang membuat uci Desmi sedih, dia memilih untuk diam.
“Udah siang, hari ini kamu ke klinik kan?” tanya uci Desmi mengalihkan pembicaraan.
“Iya, Uci,” jawab Diska.
“Ya sudah, sana siap-siap!” titah uci Desmi.
Diska pun melangkah keluar kamarnya menuju kamar mandi, di rumah uci Desmi kamar mandi hanya ada satu yang terdapat di samping dapur.
Diska merasa nyaman tinggal bersama uci Desmi, karena wanita paruh baya itu memperlakukan dirinya seperti anak sendiri. Diska banyak belajar tentang kehidupan terutama agama dari uci Desmi.
*****
Matahari sudah beranjak naik untuk menyapa semua makhluk yang ada di bumi, Sinar yang menghangatkan kini berganti sinar yang membuat siapa pun ingin bersembunyi darinya.
Di hawa yang panas, Diska masih semangat menyelesaikan berbagai tugas-tugasnya di klinik, satu per satu dia mulai memeriksa pasien yang berdatang ke klinik. Dengan cekatan dan ramah, si gadis kota melayani semua pasiennya membuat sang dokter muda menjadi disayang oleh masyarakat desa Tanjung.
__ADS_1
“Hai, Diska,” sapa seorang gadis cantik dengan rambut terikat rapi datang menghampiri Diska saat Diska baru saja menyelesaikan pekerjaannya dan bersiap-siap untuk pulang.
Diska menghentikan kegiatannya yang merapikan semua perkakas dokternya ke dalam tas, dia menatap heran pada paras cantik yang kini telah duduk di kursi tempat pasien Diska duduk.
Sang dokter muda mengernyitkan dahinya heran dengan kedatangan si putri kepala desa di ruang pemeriksaan milik Diska.
“Hai, Nisa. Ada yang bisa aku bantu?” tanya Diska terus terang.
“Nggak ada, aku Cuma mau main ke sini aja. Kamu mau pulang?” tanya Annisa basa-basi.
“Iya, nih lagi beres-beres” jawab Diska.
“Kamu pulang sama aku, yuk.” Annisa langsung menarik tangan Diska tanpa persetujuan dari Diska.
Diska pasrah mengikuti langkah Annisa keluar dari klinik, Diska biasanya diantar dan dijemput oleh Rudi untuk berangkat ke klinik, kali ini Annisa menawarkan diri untuk mengantarkannya pulang.
Tanpa rasa curiga, Diska pulang bersama Annisa. Sebelum Diska naik motor milik Annisa, Diska menghubungi Rudi untuk memberitahukan Rudi bahwa dia pulang bersama Annisa sang putri kepala desa.
Annisa melajukan sepeda motor miliknya dengan memboncengi Diska di jok belakang motornya. Diska heran melihat Annisa membawanya ke arah berlawanan, Annisa tidak membawa Diska pulang ke rumah uci Desmi.
“Aku mau ngajakin kamu ke suatu tempat, kamu tenang aja.” Annisa tersenyum smirk terus melajukan sepeda motornya ke suatu tempat.
Annisa membawa Diska ke pinggir sungai yang airnya mengalir dengan tenang, air sungai nan beriak menandakan sungai ini tak dalam, di sana terdapat bebatuan yang biasa digunakan untuk duduk-duduk bagi yang datang ke tempat ini.
“Kita ngapain ke sini?” Diska semakin penasaran saat Annisa menghentikan laju sepeda motornya.
“Aku cuma mau ngajakin kamu refreshing, Dis.” Annisa menarik tangan Diska menuju bebatuan yang ada di pinggir sungai.
“Gimana, kamu suka?” tanya Annisa dengan senyuman di wajahnya.
“Suka banget, Nis. Aku belum pernah melihat pemandangan alam seindah yang ada di hadapanku sekarang,” ujar Diska dengan ekspresi kagum melihat ciptaan Tuhan.
Hamparan sungai nan indah, disertai tebing yang menjulang tinggi di pinggir sungai, membuat jiwa-jiwa nan lelah menjadi rileks.
“Tumben kamu bawa aku ke sini?” tanya Diska penasaran.
Tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba saja Annisa datang menghampirinya, sedangkan mereka hanya sekedar kenal biasa. Semenjak Diska tinggal di desa Tanjung. Diska tak banyak berkomunikasi dengan gadis-gadis yang ada di desa karena dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya.
__ADS_1
“Aku Cuma kasihan aja sama kamu, setiap hari kerja-kerja dan kerja tanpa ada istirahat. Aku sengaja bawa kamu ke sini agar kita bisa lebih dekat,” ujar Annisa jujur.
“Oh.” Hanya kata itu yang lolos di bibir seksi milik Diska.
Annisa dan Diska mulai menikmati sejuknya udara sore di pinggir sungai, Annisa dan Diska mulai berbagi cerita satu sama lain. Diska merasa senang, dia tak menyangka Annisa akan melakukan hal ini untuknya.
Sore semakin tinggi, warna kemerahan di ufuk timur menunjukkan sore akan berganti malam, Diska bangkit dari posisi duduknya.
“Udah mau malam, kita pulang, yuk,” ajak Diska mulai merasa takut berada di tengah hutan.
“Yuk,” Annisa ikut bangun dari duduknya.
Mereka melangkah menuju sepeda motor Annisa yang terparkir tak jauh dari posisi mereka. Mereka menaiki sepeda motor milik Annisa, lalu Annisa pun melajukan sepeda motornya meninggalkan tempat indah yang biasa dikunjunginya seorang diri saat hatinya sedang sedih.
Annisa mengantarkan Diska ke rumah uci Desmi, saat mereka sampai di depan rumah uci Desmi. Diska mendapati uci Desmi duduk di depan teras rumah dengan menggunakan mukena bersiap-siap untuk berangkat ke mesjid.
Diska turun dari sepeda motor milik Annisa, “Makasih ya, Nis,” ucap Diska pada Annisa.
“Sama-sama,” jawab Annisa.
“Mampir dulu, Nis,” ajak Diska sekedar berbasa-basi.
“Lain kali aja deh, udah mau maghrib,” sahut Annisa sambil melambaikan tangannya lalu dia mulai melajukan sepeda motornya meninggalkan kediaman uci Desmi.
“Assalamu’alaikum,” ucap Diska saat masuk ke dalam pekarangan rumah uci Desmi.
“Wa’alaikumsalam,” jawab uci Desmi.
“Kamu dari mana aja, tumben kamu pulang jam segini?” tanya uci Desmi panik sedari tadi menunggu Diska.
“Diska diajakkin Nisa ke pinggir sungai di dekat hutan, di sana seru banget deh, Ci.” Diska menceritakan keseruannya bersama Annisa di pinggir sungai tadi.
“Apa yang akan kamu lakukan pada Diska?” gumam uci Desmi menatap jauh Annisa yang semakin hilang dari pandangannya.
Uci Desmi merasa khawatir dengan sikap baik Annisa pada Diska, karena dia sangat mengetahui kebusukkan hati gadis yang berparas cantik itu.
Bersambung...
__ADS_1