
"Apaan sih, Kak," lirih Diska malu menanggapi godaan Fani.
"Benar, kalian cocok lho. Rama itu pemuda yang tampan, kamu gadis yang cantik, udah jadian aja" usul Fani.
Sebagai salah satu tenaga senior di klinik desa, Fani sempat memperhatikan kedekatan Diska dan Rama.
Meskipun dia hanya melihat Rama mengantarkan Diska sesekali, tapi dia sudah dapat membaca raut wajah keduanya menyimpan rasa yang terpendam.
"Ish, ngaco ih. Yuk, masuk." Diska melangkah masuk menuju ruangannya.
Fani hanya tersenyum melihat tingkah Diska yang mau malu saat dia menggoda gadis itu.
Hari ini tak banyak pasien yang datang ke klinik, sehingga petugas klinik tidak terlalu repot bekerja.
Petugas klinik di desa Tanjung terdiri dari 3 orang, 1 orang ibuk Mawar si kepala klinik, Fani sebagai Bidan dan Diska sebagai dokter umum.
3 tenaga medis ini sudah mendapatkan tugas mereka masing-masing dalam menjalankan tugas mereka.
"Dis, Minggu depan ada pelatihan kesehatan yang diadakan di kota Padang. Kamu yang ikut, ya," ujar Buk Mawar di sela-sela waktu istirahat mereka.
Di saat semua pasien sudah pulang, 3 petugas medis itu bercengkrama di ruang tunggu.
"Hah? Kenapa aku, Buk?" tanya Diska merasa tidak enak hati karena masih ada Fani yang lebih senior dari dia.
"Mhm, Saya dan Fani kan sudah sering ikut acara-acara pelatihan, jadi untuk kesempatan kali ini, kami serahkan padamu, supaya kamu juga memiliki pengalaman," jawab Bu Mawar bijak.
"Iya, Dis. Selama ini setiap pelatihan aku yang ikut, sekarang gantian sekali-sekali kamu," ujar Fani menambahkan.
"Setiap klinik atau Puskesmas akan mengirimkan satu utusan, nanti kamu bisa pergi dengan utusan Puskesmas dari Silaping," ujar Bu mawar memberikan informasi.
"Oh, ya udah kalau begitu. Kapan acaranya dimulai, Buk?" tanya Diska pada Bu mawar selaku kepala klinik.
"Acara pelatihan akan dimulai pada hari Senin besok," jawab Buk Mawar.
"Jadi kamu bisa berangkat hari Minggu pagi atau Minggu sore, itu terserah kamu dan Gina nantinya," ujar Buk Mawar lagi.
"Jadi utusan dari Puskesmas Silaping Kak Gina?" tanya Diska memastikan dia tidak salah dengar.
"Iya, si Gina. Nanti saya akan memberikan nomor telepon Gina padamu, agar kamu bisa menghubunginya," ujar Buk Mawar.
"Syukurlah kalau begitu, aku senang bisa mengikuti pelatihan ini bersama Kak Gina," ujar Diska.
"Kamu kenal dengan Gina?" tanya Fani penasaran melihat reaksi Diska saat Buk Mawar menyebutkan nama Gina.
"Iya, Kak. Aku kenal dengannya waktu mengantarkan pasien ke Puskesmas Silaping untuk melahirkan waktu itu," jawab Diska.
__ADS_1
"Alhamdulillah kalau gitu jadi kamu enggak merasa canggung dalam mengikuti acara pelatihan nantinya," ujar Fani.
"Iya, Kak." Diska tersenyum.
"Udah jam 3, kita balik, yuk," ajak Buk Mawar pada Fani dan Diska.
"Benar kita pulang, Buk?" tanya Fani memastikan.
"Iya, Ayo pulang jarang-jarang loh kita bisa pulang lebih awal," jawab Buk Mawar.
"Ya udah kalau gitu, yuk," ujar Fani bersemangat untuk pulang.
Justru pada kesempatan ini Diska malah bingung, bukannya berdiri dari tempatnya Diska malah asik melihat jam di pergelangan tangannya.
"Kamu kenapa, Dis?" tanya Fani pada Diska saat melihat Diska yang risau.
"Mhm, aku tadi bilang pada Rama untuk menjemputku jam setengah empat, itu artinya aku masih menunggunya hingga dia datang," jawab Diska jujur.
"Oh begitu, kalau tidak kamu pulang bareng aku aja, biar aku antarkan kamu ke rumah Uci Desmi," tawar Fani dengan senang hati.
"Tidak usah, Kak, justru nanti malah menyusahkan kakak." Diska menolak tawaran Fani dengan halus.
"Oh ya udah kalau gitu, kami pulang duluan, ya," ujar Fani dan Buk Mawar yang kini sudah siap untuk meninggalkan klinik.
"Iya, Buk, Kak. Aku tunggu Rama di luar klinik aja," ujar Diska.
"Iya, Kak, Buk," sahut Diska.
2 orang senior Diska itu pun meninggalkan dirinya seorang diri di teras klinik. Diska duduk sambil memainkan ponselnya.
Agar tidak bosan, Diska pun melakukan panggilan dengan mamanya, selain sudah lama dia tidak berkomunikasi dengan kedua orang tuanya, dia juga sudah merindukan sosok wanita yang selalu ada untuknya.
"Halo, Ma," sapa Diska saat panggilan sudah tersambung.
"Halo, Sayang. Kamu apa kabar?" tanya Diana, ibu Diska.
"Alhamdulillah, Diska baik, Ma. Mama bagaimana kabarnya?" tanya Diska pada wanita yang telah melahirkannya.
"Alhamdulillah, juga baik, Sayang," jawab sang mama.
"Mhm, mama lagi apa? Sibuk, ya?" tanya Diska.
Sebagai seorang dokter dia sangat tahu kesibukan sang mama. Mama Diska merupakan seorang Dokter spesialis kandungan begitu juga dengan papanya.
Diska sangat mengerti akan kesibukan kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Enggak, Nak. ini lagi istirahat, papa kamu juga di sini," ujar Diana.
"Iya, Ma? Salam buat papa, ya," ujar Diska.
"Mama kangen sama kamu, kita video call, yuk," ajak Diana pada putrinya.
"Ma, di sini kan enggak ada sinyal, Ma. Aku harus ke luar desa dulu supaya bisa mengakses internet, Ma," ujar Diska.
"Yah, sayang sekali. Padahal saat ini Mama sedang bersama Dr. Rezi Rayandra," ujar Diana.
"Benarkah?" tanya Diska surprise.
"Iya, Dokter ganteng ini juga kangen sama kamu," ujar Diana pada putrinya.
"Sayang sekali ya, Ma. Padahal aku juga kangen sama dokter Rezi, kapan dia balik dari luar negeri, Ma?" tanya Diska.
Rezi Rayandra merupakan putra dari salah satu rekan kerja orang tua Diska. Sejak kecil, Rezi sering bermain d Ngan Diska. Gadis itu sudah menganggap Rezi sebagai kakaknya.
Diska tertarik menjadi Dokter selain dari profesi kedua orang tuanya, Rezi juga menjadi sosok yang dibanggakannya.
"Sudah satu bulan ini dia berada di Bandung, dia sudah mulai bekerja di rumah sakit kita," ujar Diana.
"Benarkah? Alhamdulillah, baguslah kalau begitu. Itu artinya dia tidak akan pergi meninggalkanku lagi," ujar Diska bersemangat.
"Iya, tapi buktinya sekarang kamu yang meninggalkan dia. Sejak datang ke sini dia selalu menanyakan dirimu," ujar Diana.
"Tenang, Ma. Nanti kalau ada waktu libur, aku akan pulang, walaupun hanya seminggu," ujar Diska.
Meskipun Diska sudah betah berada di Desa Tanjung dia tetap merindukan kota kelahirannya.
"Benarkah kamu akan pulang untuk menemuiku?" tanya Rezi.
Tiba-tiba ponsel Diana sudah berpindah ke tangan Rezi.
"Kamu? Iya, aku janji akan datang untuk menemuimu," ujar Diska.
"Baiklah kalau begitu, aku akan menunggu gadis kecilku," ujar Rezi.
"Oke," sahut Diska senang.
"Miss you," ujar Rezi.
"Miss you, Beibh," ujar Diska.
Rama hanya diam mendengarkan Diska berucap mesra dengan seseorang di seberang sana, yang sama sekali tidak dikenalinya. Hati Rama terasa hancur berkeping-keping melihat wajah bahagia Diska berbicara d Ngan seseorang diseberang sana.
__ADS_1
Bersambung...