
"Terima kasih," lirih Diska.
Mereka kini kembali beradu pandang, rasa yang ada di dalam hati mereka kembali tercurahkan.
Mereka menyelami lautan cinta yang kini telah membuat mereka tenggelam dalam rasa yang semakin menghanyutkan.
"Ehem." Seorang pelayan sengaja berdehem menyadarkan dua insan yang tadinya sempat terbang membawa khayalan mereka.
Diska dan Rama tersadar.
"Eh," lirih Rama.
"Mau minum apa, Bang, Kak?" sapa si pelayan.
"Mhm, aku minum cappuccino aja," ujar Diska sebelum Rama bertanya padanya.
"Mhm, sama." Rama tersenyum sambil melirik gadis kota yang sudah mulai menghiasi hari-harinya.
"Makannya, Kak, Bang?" tanya si pelayan.
"Makan? Mhm, mie goreng aja," jawab Diska.
Dia sama sekali tidak ingin makan, tapi entah mengapa tiba-tiba dia tertarik untuk mencicipi masakan di kafe resort patung kuda itu.
"Abangnya mau makan apa?" tanya Si pelayan pada Rama.
"Aku ikut aja, mie goreng," jawab Rama.
"Baiklah, tunggu sebentar ya, Kak, Bang," ujar Si pelayan sebelum dia berlalu meninggalkan dua insan yang kini mulai dimabuk cinta.
Rama dan Diska kembali memandangi pemandangan alam yang sangat indah, alam yang asri menyejukkan mata siapapun yang memandangnya.
"Ram, aku senang banget bisa selalu berada di sampingmu," ujar Diska pada Rama.
"Mhm," gumam Rama sambil tersenyum.
"Dis, bagaimana kalau mulai hari ini kamu coba jangan memanggilku dengan sebutan nama," ujar Rama pada Diska.
"Hah," lirih Diska gugup.
"Iya, kalau dari umur. Aku lebih tua darimu, dan bagaimana kalau kamu memanggilku dengan sebutan Abang," pinta Rama pada Diska.
"Mhm, Abang?" lirih Diska mencoba mengucapkan sebuah kata yang terasa sulit untuk diucapkannya.
"Iya, mungkin kamu akan lebih nyaman memanggilku dengan sebutan itu," ujar Rama.
"Mhm, Bang Rama," panggil Diska.
__ADS_1
Gadis kota itu mencoba memanggil Rama dengan sebutan 'Abang' panggilan yang biasa diucapkan di daerah itu untuk seorang pria yang lebih tua.
"Iya, Dek," lirih Rama dengan senyuman.
Rama senang sekali bisa memanggil gadis yang dicintainya dengan sebutan 'Dek' karena kata itu menunjukkan kasih sayangnya terhadap gadis itu.
Diska tersipu saat mendengar Rama manggilnya dengan sebutan 'adek' hatinya bergetar semakin merasakan cinta yang diberikan oleh Rama.
Saat ini mereka merasa terikat dengan sebuah hubungan yang sama sekali tak pernah mereka nyatakan dengan jelas, yang pasti hati mereka kini sudah terpaut satu sama lainnya.
Tak berapa lama pelayan datang membawakan pesanan mereka.
Mereka pun menikmati makanan yang ada di hadapan mereka, Rama dan Diska bagaikan dua insan yang kini sudah resmi berpacaran meskipun tak ada pernyataan cinta yang mereka lontarkan secara jelas.
Setelah shalat maghrib, Rama kembali mengantarkan Diska menuju loket bus Bintang Pasaman.
Bus yang akan membawa Diska ke kota Padang. Bus itu sudah terparkir di depan loket menunggu beberapa penumpang yang belum datang.
"Busnya udah datang," ujar Rama saat melihat bus Bintang Pasaman sudah parkir di depan loketnya.
Rama dan Diska hampir saja sampai di loket tersebut.
"Iya, mungkin sebentar lagi mau berangkat," ujar Diska.
Diska turun dari sepeda motor, Rama memarkirkan sepeda motornya lalu melangkah mengikuti langkah Diska mendekati bus tersebut.
"Hai, Dis." Gina turun dari bus saat melihat Diska dan Rama.
"Hai, Gin. Apa kabar?" tanya Rama pada Gina.
"Baik," jawab Gina sambil melirik Rama dan Diska dengan lirikan yang sulit diartikan.
"Aku titip Diska, ya. Tolong jagain dia selama di Padang," pinta Rama terus terang pada Diska.
"Tenang, aku akan jagain kekasihmu ini," ujar Gina dengan senyuman yang melebar di wajahnya.
Gina melirik Diska yang hanya tersipu mendengar ucapan Gina membuat wanita itu semakin yakin bahwa mereka sudah terikat.
Rama hanya tersenyum, dia tak membantah.
"Selama di sini, aku bisa menjaganya, tapi kalau di Padang aku harap kamu bisa jagain dia untukku," ujar Rama memohon pada Gina.
"Tenang aja, Ram. Aku akan jagain adik iparku ini," ujar Gina tersenyum.
Entah mengapa sejak hari itu, Gina dan Diska mulai akrab, dia sudah menganggap Diska seperti adiknya sendiri.
__ADS_1
Begitu juga dengan Diska, dia merasa nyaman berbagi cerita tentang hal pribadi dengan Gina, dia juga sudah menganggap Gina sebagai kakaknya.
"Tenang aja, Bang. Aku bisa jaga diri sendiri, aku janji enggak akan merepotkan kak Gina," ujar Diska pada Rama.
"Baiklah, kalau begitu. Aku merasa tenang melepaskan Diska pergi, kalian hati-hati, ya," ujar Rama.
"Siip," sahut Diska dan Gina.
"Yuk, naik," ajak Gina pada Diska saat melihat sopir bus sudah duduk di tempatnya.
"Kamu hati-hati, ya," ujar Rama sambil mengelus lembut kepala Diska.
Diska pun langsung memeluk tubuh kekar sang pemuda desa. Dia enggan untuk berpisah sementara dengan pria yang sudah menghiasi hari-harinya selama berada di desa Tanjung.
"Jaga hatimu untukku," bisik Rama di telinga Diska sebelum gadis itu melepaskan pelukannya.
Diska mengangguk, setelah itu dia pun menaiki bus. Rama melambaikan tangannya saat bus mulai melaju.
Ini pertama kalinya mereka berpisah sementara setelah mereka saling mengungkap rasa yang tersimpan di hati masing-masing.
"Kamu udah jadian sama Rama?" tanya Gina pada Diska penasaran.
Diska hanya mengangkat bahunya. Gina menautkan kedua alisnya.
"Lho?" lirihnya bingung.
"Kalau kata-kata jadian sih enggak ada, Kak. Tapi, kami sudah mengungkapkan rasa yang ada di hati kami secara kiasan," tutur Diska jujur.
"Mhm, baguslah kalau begitu. Asal kamu tahu, Rama merupakan pemuda yang diincar-incar oleh para gadis yang ada di desanya, hanya tak satu pun yang membuat dirinya terpikat," ujar Gina.
Gina memang mengenal Rama dari suaminya, Rama juga sering bertandang ke rumah mereka di saat dia datang ke Silaping.
"Semoga saja kami berjodoh," lirih Diska penuh harap.
Diska dapat membayangkan rintangan yang akan dihadapinya setelah hatinya kini terpaut pada Rama. Namun, dia tidak akan berputus asa, dia akan berusaha memperjuangkan cintanya pada kedua orang tuanya nanti.
"Apakah kamu masih meragukan cinta Rama?" tanya Gina merasa tak enak mendengar ucapan Diska yang terdengar sendu.
"Bukan, Kak. Sedikitpun aku tak pernah meragukan tulusnya cintanya padaku, tapi walau bagaimanapun jalan menuju jodoh itu masih panjang, dan aku berharap perjalanan cinta kami ini sampai ke pelaminan hendaknya," ujar Diska sendu.
Gina menoleh menatap dalam pada gadis kota yang kini duduk di sampingnya.
Dia meraih tangan Diska.
"Semoga kalian berjodoh, aku akan selalu berdo'a untuk kebahagiaan kalian, karena aku sangat berharap kamu menikah di sini dan tinggal di sini," ujar Gina penuh harap.
Bersambung...
__ADS_1