Cinta Sang Pemuda Desa

Cinta Sang Pemuda Desa
Bab 47


__ADS_3

Diska mengangkat wajahnya, dia menatap dalam manik hitam yang kini menatapnya dengan rasa penuh penyesalan.


Sorot matanya masih menyiratkan rasa cinta yang dalam teruntuk dirinya. Sedikitpun cinta di dalam hati pemuda itu tak sirna untuknya.


"Aku mohon, ikutlah dengan kami kembali ke desa. Jika setelah ini kamu ingin menjauhiku itu adalah hakmu. Aku tak pantas kamu cintai," lirih Rama.


Pemuda desa nan tampan itu kini mulai menitikkan air matanya.


"Baiklah, aku akan bersiap-siap," lirih Diska.


Diska masuk ke dalam pondok, dia menutup pintu pondok itu. Diska mulai menangis, dia melepaskan rasa sesak yang ada di dalam hatinya.


Rama di luar dapat mendengar dengan jelas tangisan gadis yang sangat dicintainya.


Penyesalan yang mendalam terus menyelimuti dirinya. Semakin Rama tak ingin mendengar tangisan itu, semakin menjadi-jadi Diska menangis.


"Maafkan aku, Dis. Maafkan aku, jika kamu mau menghukumku, dengan senang hati aku akan menerima hukuman itu, tolong jangan menangis lagi," gumam Rama menahan luka saat mendengar isak tangis belahan jiwanya.


Diska mengusap air mata yang sejak tadi membasahi pipinya setelah dia merasa tenang, lalu dia mengganti pakaiannya dengan pakaian yang baru saja dibelikan oleh Husein.


Tak berapa lama sudah terdengar suara Rudi dan Husein yang berbicara, raut wajah Rama terlihat tengah bersedih, mereka memilih untuk mengabaikan suasana hati Rama saat ini dengan memilih bercerita tentang berbagai pengalaman.


"Kamu sudah siap?" tanya Husein pada Diska saat Diska sudah berdiri di ambang pintu pondok.


Diska mengangguk.


"Sudah, Bang," lirih Diska.


"Kakimu masih sakit, aku sudah ambilkan obatnya. Bawa sini kakimu, aku akan mengobatinya agar kamu tidak terlalu kesulitan dalam berjalan nanti," ujar Husein.


Diska melangkah, dia duduk di samping Husein di sebuah bangku panjang. Dia mengangkat kakinya lalu meletakkannya di atas bangku tersebut.


Husein mulai memijat sedikit pergelangan kaki Diska, dia menggunakan minyak ramuan yang sudah dibuatnya saat pergi dengan Rudi tadi.


Rama menatap sendu ke arah gadis yang dicintainya, Ada rasa cemburu saat melihat keakraban Diska dengan pria asing yang baru beberapa hari dikenal oleh gadis kota itu.


"Aauww," pekik Diska saat Husein mulai membetulkan posisi urat pergelangan kaki gadis kota itu.


Husein tersenyum mendengar teriakan Diska.


"Berdirilah," perintah Husein.


Perlahan Diska berdiri, dia mencoba melangkahkan kakinya.


"Bagaimana?" tanya Husein pada Diska.


"Alhamdulillah, sudah mendingan, Bang," jawab Diska senang.

__ADS_1


"Alhamdulillah, sinikan lagi kakimu, aku akan balut dengan ramuan ini," ujar Husein.


Dengan jelas terlihat oleh Rama bentuk perhatian Husein pada gadis yang dicintainya.


"Ya sudah, ayo berangkat sekarang," ajak Rudi saat Husein selesai membalut kaki Diska.


"Hati-hati ya, Dek." Husein mengusap lembut kepala Diska.


Diska memeluk tubuh kekar pria yang sudah menyelamatkan nyawanya serta membantunya selama ini.


"Terima kasih, Bang," lirih Diska.


"Sama-sama, kamu harus hati-hati, ya," ujar Husein.


"Aku pasti akan merindukanmu," lirih Diska menatap sendu pada Husein.


"Kalau kamu merindukanku, kamu bisa datang ke sini, aku tak akan pergi ke mana-mana," ujar Husein sambil mengusap air mata Diska yang sudah kembali jatuh begitu saja.


"Pergilah, Rudi dan Rama sudah menunggumu," ujar Husein.


Husein tidak ingin Diska melihat kesedihannya yang merasa enggan melepas kepergian Diska.


Akhirnya mereka mulai melangkah meninggalkan pondok Husein, pria baik hati yang memiliki nasib malang yang menimpanya sehingga dia memilih menyendiri di tengah hutan yang sepi.


Rudi melangkah duluan, Diska di belakang Rudi dan Rama melangkah di belakang Diska. Mereka berjalan di antara Diska agar dapat melindungi gadis itu jika ada bahaya di tengah jalan.


Satu jam perjalanan mereka berjalan. Mata Diska mulai berkunang-kunang. Dia merasa sangat lelah, tapi enggan untuk menyampaikannya pada dua pria yang bersamanya saat ini.


Tiba-tiba, Diska jatuh tak sadarkan diri tepat di hadapan Rama. Beruntung Rama dapat menyambut tubuh Diska yang hampir jatuh ke tanah.


Rudi menghentikan langkahnya.


"Diska," lirih Rama.


"Ada apa, Ram?" tanya Rudi kaget saat melihat Diska sudah jatuh di dalam pelukan Rama.


"Aku tidak tahu," jawab Rama.


"Diska, bangun," lirih Rama terus berusaha membangunkan Diska.


"Ram, kita bawa ke pondokmu aja, dikit lagi kita sampai sana," ujar Rudi memberi ide.


Rama mengangguk, dia pun langsung mengangkat tubuh gadis yang dicintainya itu.


"Apa perlu bantuan?" tanya Rudi menawarkan diri membantu Rama mengangkat tubuh Diska.


"Tidak, jika aku harus mengangkatnya hingga desa. Aku akan lakukan itu asalkan dia mau memaafkan ku," ujar Rama.

__ADS_1


Rudi mengangkat bahunya mendengar ucapan Rama.


"Ya udah, terserah kamu aja," ujar Rudi.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan, Rama mengangkat tubuh Diska dan melangkah menuju pondok.


Dia sama sekali tidak merasa kesusahan dalam mengangkat tubuh gadisnya.


Saat mereka hampir sampai di pondok Diska sadar dari pingsannya. Dia menyadari dirinya tengah berada di atas gendongan Rama.


Dia membuka matanya, dia menatap wajah tampan pemuda yang sudah menanamkan cinta di dalam hatinya.


Sedikitpun Diska tak melihat rasa kesulitan di wajah Rama dalam menggendong dirinya hingga akhirnya mereka sampai di pondok milik Rama.


Diska memejamkan matanya saat Rama membaringkan tubuhnya, di atas bangku bambu panjang yang ada di sana.


Rama mengambil sebuah potongan kardus yang terletak di atas bangku panjang itu.


Dia mengipasi Diska agar tidak gerah, karena dia melihat keringat Diska yang bercucuran.


Perlahan Diska membuka matanya.


"A-aku ha-haus," lirih Diska.


Tenggorokannya terasa sangat kering. Dia berusaha untu bangun dari posisi berbaringnya, Rama hendak menolongnya tapi gadis itu menepis bantuan dari Rama.


Lalu Rama mengambil gelas dan mengisi gelas itu dengan air yang sudah tersedia , dia memberikan gelas itu pada Diska.


"Minumlah," lirih Rama.


Diska mengambil gelas yang ada di tangan Rama, dia langsung menenggak minuman itu, Rama mengurungkan niatnya untuk membantu Diska minum.


Ada rasa canggung yang terjadi di antara mereka, Diska meletakkan gelas di atas bangku panjang itu.


Dengan susah payah, Diska mencoba untuk bangun.


"Ayo kita lanjutkan perjalanan," ujarnya dengan suara parau karena kondisinya masih sangat lemah.


"Tapi, Dis. Kamu masih lemah," bantah Rudi.


"Aku ingin cepat sampai ke rumah Uci Desmi, dia pasti tengah menunggu kedatanganku," ujar Diska.


"Memang benar, dia sudah menunggumu, tapi kamu juga harus memikirkan keadaanmu," ujar Rudi menasehati Diska.


"Aku sanggup untuk melanjutkan perjalanan ini," ujar Diska bersikeras.


Diska tidak ingin lagi berlama-lama berada di dekat Rama.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2