Cinta Sang Pemuda Desa

Cinta Sang Pemuda Desa
Bab 28


__ADS_3

Diska menatap kagum pada pria tampan yang kini menjelaskan materi di depan panggung.


Setiap materi diterima Diska dengan baik, bahkan dia sempat mengabaikan keberadaan Gina di sampingnya.


Gina heran melihat ekspresi desa yang sangat antusias dengan materi yang diberikan oleh dokter muda dan tampan. Sejak materi dimulai senyum di wajah Deska terus mengambang membuat Gina merasa curiga dengan sikap gadis kota itu.


"Diska, kamu semangat sekali hari ini," ujar Gina pada Diska saat dokter tampan itu sudah turun dari podium.


"Mhm, materinya bagus dan menarik," ujar Diska dengan mata masih menatap sang dokter muda.


"Apakah kamu kenal dengan pemateri tadi?" tanya Gina semakin penasaran.


Riska tidak menghiraukan pertanyaan dari Gina karena dia kini saling bersitatap dengan sang dokter muda.


Gina mengerjitkan dahinya saat melihat sang dokter muda itu tersenyum pada Diska.


"Diska," panggil Gina membuyarkan tatapan Diska pada sang dokter muda.


"Mhm, apa?" tanya Diska heran melihat sikap Gina.


"Kamu kenapa, sih? dari tadi aku mengajakmu bicara tapi aku perhatikan pandanganmu terus pada dokter muda tersebut. Apakah kamu mengenal dokter itu?" tanya Gina terus terang.


"Hah, dokter pemateri tadi?" tanya Diska memastikan pertanyaan dari Gina.


"Iya, dokter muda itu," ujar Gina.


"Oh itu, dokter muda itu Kakak kelas aku, iya putra dari teman kedua orang tuaku," jawab Diska jujur.


"Apakah kamu ada hubungan spesial dengan dia?" tanya Gina mulai curiga.


"Haha, aku menganggapnya sebagai kakak tidak lebih dari itu," jawab Diska jujur.


"Benarkah?" tanya Gina tak percaya.


"Iya, dia terlalu baik untuk dijadikan kekasih, bagiku dia adalah kakak yang paling mengerti diriku." Diska mengungkap perasaannya yang sesungguhnya pada Gina.


"Baiklah, kalau begitu aku percaya padamu? berarti hanya Rama yang ada di hatimu," ujar Gina memastikan.


"Iya, Kak. Di hatiku hanya ada satu nama yaitu Rama. Kakak jangan khawatir aku akan berpaling pada dokter tampan itu," ujar Diska.


Diska tersenyum, dia kembali menoleh pada pria tampan yang kini masih menatap dirinya.


"Hai," sapa Rezi saat materi sesi pertama selesai.


Dokter tampan itu menghampiri Diska dan Gina di mejanya.

__ADS_1


Diska berdiri, lalu memeluk pria yang sudah dianggapnya sebagai kakak kandungnya.


"Ku merindukanmu," lirih Diska.


"Aku juga merindukanmu," lirih Rezi.


Mereka mengurai pelukan mereka setelah puas meluapkan rasa rindu Setelah sekian lama tak berjumpa.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Rezi sambil mencubit lembut hidung Diska.


"Aku baik, kamu bagaimana kabarnya?" tanya Diska.


"Alhamdulillah, aku juga baik," jawab Rezi.


"Wow, penampilan kamu berubah drastis," ujar Rezi saat melihat Diska dengan penampilan berhijab modis yang dikenakannya.


"Benarkah? Aku masih belajar," jawab Diska santai.


Meskipun dia sudah mulai menutup auratnya, tapi dia masih belum bisa menghilangkan kebiasaan-kebiasaan yang sering dilakukannya.


"Kamu terlihat semakin anggun," puji Rezi pada Diska.


"Kamu bisa aja," ujar Diska.


"Oh, iya. Aku sampai lupa, kenalkan ini temanku dari desa, namanya Kak Gina," ujar Diska memperkenalkan Gina pada Rezi.


"Hai, Gina. Senang bertemu denganmu," ujar Rezi sambil mengulurkan tangannya.


"Hai, senang juga berkenalan dengan dokter hebat seperti anda," ujar Gina menjabat tangan Rezi.


"Maaf, kami sudah mengabaikanmu, harap maklum kami sudah lama tak bertemu," ujar Rezi merasa tidak enak hati pada teman Diska.


"Ah, tidak apa-apa. Saya bisa memahaminya," ujar Gina.


Akhirnya mereka terlibat pembicaraan sejenak, hingga akhirnya Rezi mengajak Diska dan Gina untuk makan siang bersama di resto hotel tersebut.


Gina ikut berbaur dengan Rezi karena Rezi terlihat sangat ramah dan tidak sombong, dia bisa memposisikan dirinya saat bersama Diska dan Gina. Walaupun posisinya sebagai pemateri dalam acar pelatihan tersebut, Rezi menganggap Gina sebagai teman sama seperti Diska.


"Aku tak menyangka bisa bertemu denganmu di sini," ujar Diska di sela-sela mereka menyantap menu makan siang yang sudah terhidang di atas meja.


"Aku mau menerima tawaran ini, karena aku tahu kamu ada di sini, seandainya kita tidak bertemu di acar ini. Aku akan mencarimu hingga desa tempat kamu mengabdi," ujar Rezi.


"Wah, benarkah?" Diska tak percaya.


"Iya, aku akan mencarimu ke mana pun, meskipun ke ujung desa di Ranah Minang ini," ujar Rezi sungguh-sungguh.

__ADS_1


"Aku percaya, kamu pasti akan mencariku karena aku tahu kamu pasti sangat merindukanku," ujar Diska dengan penuh percaya diri.


"Hahaha, kamu mang wanita yang paling mengerti aku," ujar Rezi sambil mencubit pelan pipi Diska.


Gina hanya menyaksikan kedekatan yang terjalin di antara keduanya, Gina dapat melihat Diska yang hanya menganggap Rezi sebagai teman, tapi Gina dapat melihat sikap Rezi tidak hanya menganggap Diska sebagai adik, tapi Gina melihat pancaran cinta yang ditujukan Rezi terhadap Diska.


"Hei, Gin. Kamu tahu, Diska ini satu-satunya wanita yang paling dekat denganku, karena sejak dulu dia selalu membatasi pertemananku dengan wanita," ujar Rezi pada Gina.


"Hah? Benarkah?" tanya Gina.


Gina berusaha tetap mengobrol dengan Rezi seperti Diska dengannya, mengikuti alur dan arah pembicaraan mereka.


"Kak, hari ini hingga Minggu ke depan kita akan ditraktir makan siang oleh dokter tampan ini, jadi kita tidak perlu takut kehabisan uang untuk makan siang," ujar Diska pada Gina.


Diska sengaja berbicara seperti itu, agar sang dokter muda bersedia makan siang bersama mereka setiap hari selama pelatihan berlangsung.


"Benarkah?" Gina membesarkan matanya senang.


"Iya, tenang saja. Dokter muda ini tidak akan kehabisan uang sakunya sebagai pemateri kalau hanya untuk makan siang kita berdua," ujar Diska lagi tersenyum bahagia.


Rezi hanya tersenyum mendengar ocehan Diska, dia menggelengkan kepalanya.


"Baiklah anak kecil, kalau memang itu yang kamu mau, aku akan mentraktir kalian berdua makan siang selama satu minggu," ujar Rezi setuju dengan ucapan Diska.


Rezi tahu Diska hanya bercanda, tapi dia juga senang bisa membuat gadis anggun itu tersenyum bahagia dengan apa yang akan dilakukannya.


****


Sebelum maghrib acara pelatihan hari pertama selesai. Diska dan Gina melangkah menuju kamar mereka.


Sesampai di kamar Gina dan Diska langsung membersihkan diri dan bersiap-siap untuk menunaikan shalat maghrib.


Setelah selesai shalat magrib, mereka berdua pun membaringkan tubuh mereka di atas tempat tidur melepaskan rasa lelah melakukan kegiatan seharian penuh. Mereka berbaring sambil membuka ponselnya.


Diska mengangkat telpon dari Rama, mereka saling melepas rindu setelah satu hari berpisah.


Begitu juga dengan Gina, wanita itu pun juga asyik mengobrol dengan suaminya berbagi cerita apa yang telah dilakukannya selama satu hari ini.


Saat mereka sedang asyik menelpon, terdengar pintu kamar diketuk seseorang, Diska pun berdiri untuk membukakan pintu tersebut.


"Kita jalan, yuk!" ajak Rezi saat melihat Diska membukakan pintu.


"Siapa, Dek?" tanya Rama dari seberang telpon saat mendengar suara seorang pria berbicara dengan Diska.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2