
Setelah shalat ashar, Rama datang menjemput Diska.
"Assalamu'alaikum," ucap Rama sambil mengetuk pintu rumah Uci Desmi.
"Wa'alaikummussalam," jawab Uci Desmi dari dalam rumah.
Uci Desmi yang baru saja selesai shalat ashar langsung bangkit dari posisinya lalu melangkah menuju pintu untuk membukakan pintu.
"Rama," ujar Uci Desmi heran melihat kedatangan Rama ke rumahnya.
"Diska mana, Ci? Rudi memintaku untuk mengantarkan Diska ke Silaping. Dia ada pekerjaan mendadak," ujar Rama menjawab keheranan Uci Desmi melihat kedatangannya.
"Oh, Diska. Tadi katanya lagi siap-siap, ayo masuk dulu, Uci mau lihat dia terlebih dahulu di kamarnya," ujar Uci Desmi.
Rama masuk ke dalam rumah sederhana milik Uci Desmi, dia duduk di kursi tamu yang tersedia di sana. Sementara itu, Uci Desmi masuk ke dalam kamar gadis kota itu.
Uci Desmi menggelengkan kepalanya saat melihat Diska tertidur di atas tempat tidur yang masih berantakan.
Pakaiannya belum semuanya masuk ke dalam travel bagnya.
"Diska," panggil Uci Desmi.
Uci Desmi menggoyangkan tubuh gadis itu berusaha membangunkannya.
"Diska, bangun. Rama sudah jemput kamu," ujar Uci Desmi.
"Mhm," gumam Diska berusaha membuka bola matanya yang masih terasa sangat berat.
Mungkin perjalanannya bersama Rama kemarin benar-benar membuatnya sangat lelah s hingga hari ini dia masih ingin memejamkan matanya.
"Diska," panggil Uci Desmi lagi.
"Kamu jadi, kan berangkat ke kota Padang? Ini sudah ashar," tanya Uci Desmi mengingatkan.
"Astagfirullah," pekik Diska saat menyadari jam di dinding kamarnya sudah menunjukkan pukul 16.05.
"Ya ampun, Uci. Aku ketiduran," ujar Diska.
"Ayo bangun, Rama sudah menunggumu," ujar Uci Desmi.
"Lho, kenapa Rama, Ci?" tanya Diska heran.
"Katanya Rudi tidak bisa antar kamu, dia ada kerjaan mendadak. Ujung-ujungnya dia nyuruh Rama yang jemput kamu," jawab Uci Desmi.
"Ayo, bangun dan siap-siap! Kasihan Rama nungguin lama," ujar Uci Desmi.
"Baik, Ci." Diska bangkit dari posisinya.
Gadis cantik itu pun melangkah menuju kamar mandi, dia sudah membawa pakaian gantinya langsung ke kamar mandi karena Rama sudah berada di rumah Uci Desmi.
__ADS_1
"Tunggu sebentar ya, Rama. Diska tadi ketiduran, dia baru bangun. Untung saja kamu datang lebih awal jemput dia. Kalau kamu terlambat, takutnya dia ditinggal bus," ujar Uci Desmi sembari meletakkan secangkir teh untu Rama.
"Mhm, Uci kenapa repot-repot segala?" ujar Rama sekadar berbasa-basi.
"Cuma teh doang," ujar Uci Desmi.
"Eh, gimana kemarin?" tanya Uci Desmi mode kepo on ingin tahu kelanjutan kisah Rama dan Diska.
"Hah? Kemarin? Apanya, Ci?" tanya Rama pura-pura tidak mengerti tujuan pertanyaan Uci Desmi.
"Udahlah, enggak usah pura-pura enggak paham maksud pertanyaan Uci," desak Uci Desmi tak sabar.
"Mhm, ya begitulah, Ci. Kalau tidak salah aku memahami, dia juga menyukaiku, tapi aku sendiri belum mengikat Diska dengan kata pacaran atau yang lainnya," tutur Rama jujur.
"Ya, paling tidak kalian sudah saling tahu isi hati kalian masing-masing, semoga kalian berjodoh, aamiin," ujar Uci Desmi penuh harap.
"Aamiin," gumam Rama di dalam hati.
Pria tampan itu tidak berani mengaminkan secara keras karena dia takut harapannya terlalu tinggi, karena sebelum dia berani menyukai Diska dia sudah sadar diri akan siapa dirinya.
Mendapatkan cinta Diska merupakan anugrah terbesar dalam hidupnya, dia takut kecewa jika terus berharap lebih.
"Maaf, sudah membuatmu menunggu lama," ujar Diska yang sudah siap untuk berangkat.
Rama menatap wanita cantik dihadapannya. Kaos panjang selutut berwarna denim, dipadupadankan dengan jeans pensil berwarna senada serta hijab biru berbunga-bunga membuat Diska terlihat sangat cantik.
"Eh," lirih Rama tersadar.
"Diska sudah siap," ujar Uci Desmi.
"Mhm, iya. Ayo kita berangkat," ajak Rama.
Rama berdiri dan menghampiri Diska, dia mengambil travel bag milik Diska lalu mengangkatnya keluar.
"Uci, aku berangkat dulu, ya," ujar Diska berpamitan pada Uci Desmi.
"Iya, Sayang. Kamu hati-hati, ya. Kalau sudah sampai kabari Uci, ya," ujar Uci Desmi sedih.
Wanita paruh baya itu sudah dapat membayangkan rumahnya akan sepi tanpa ada Diska bersamanya untuk beberapa hari ke depan.
Dia yang biasa menyibukkan diri merawat gadis kota itu akan mulai kesepian dengan pekerjaan yang tak menentu nantinya.
"Iya, Uci. Uci di sini harus jaga kesehatan, ya. Aku pergi cuma satu Minggu kok," ujar Diska.
"Iya, Nak. Kamu hati-hati, ya," ujar Uci Desmi lagi.
Diska mengangguk, lalu dia menyalami tangan wanita paruh baya itu.
Diska mengikuti Rama yang kini melangkah menuju sepeda motor yang terparkir di pinggir jalan.
__ADS_1
"Kami berangkat, Ci," teriak Rama sebelum melajukan sepeda motornya.
Diska melambaikan tangannya ke arah Uci Desmi yang kini memandangi sepeda motor yang dilakukan Rama hingga hilang di persimpangan jalan.
Satu jam perjalanan mereka sampai di Silaping. Bus akan berangkat pukul18.30 itu artinya masih lama Diska akan berangkat.
Rama meletakkan travel bag milik Diska di agen bus Bintang Pasaman.
"Kamu berangkat nanti setengah delapan, sekarang kamu mau ke mana?" tanya Rama pada Diska.
"Mhm, enggak tahu." Diska mengangkat bahunya.
"Ya sudah, kita jalan aja dulu," ujar Rama
"Hah? Jalan? Ke mana?"tanya Diska.
"Kamu mau ikut aku, enggak?" tanya Rama.
"Eh, iya," ujar Rama.
Diska buru-buru naik ke atas sepeda motor yang siap dilajukan oleh Rama.
"Kamu enggak pulang ke desa? Nanti kemalaman di jalan sendirian," ujar Diska mengkhawatirkan Rama.
"Tenang saja, malam ini aku akan menginap di rumah kak Siti," ujar Rama.
"Aku lebih mengkhawatirkan kamu seorang diri di loket tanpa ada yang menemani," ujar Rama lagi.
Diska tersenyum mendengar ucapan Rama, seketika hatinya berbunga-bunga merasa tersanjung dengan ucapan Rama.
Diska pun melingkarkan tangannya di pinggang Rama, dia memeluk erat tubuh Rama dari belakang.
"Terima kasih," bisik Diska.
Rama tersenyum, tak butuh waktu lama mereka sampai di Resort patung kuda.
Rama menghentikan sepeda motornya di parkiran resort tersebut.
Dia mengajak Diska untuk duduk di sebuah gazebo yang terletak paling tinggi posisinya, dari gazebo itu dapat memandang aliran sungai yang jernih membelah hutan-hutan perkebunan penduduk.
"Bagus sekali," ucap Diska kagum melihat pemandangan alam nan asri dari tempatnya saat ini.
Dari sana mereka juga dapat melihat sunset di hilir sungai nan indah.
"Masih adakah tempat-tempat yang bagus yang akan kamu beritahukan padaku?" tanya Diska pada Rama.
"Kamu tenang saja aku akan membawamu ke berbagai tempat yang indah di daerah sini, sehingga kamu tidak akan pernah melupakan daerah ini seumur hidupmu," ujar Rama dengan sungguh-sungguh.
Bersambung...
__ADS_1