Cinta Sang Pemuda Desa

Cinta Sang Pemuda Desa
Bab 17


__ADS_3

"Hei, ada apa ini?" tanya Rama setelah dia berada di dekat mereka.


Rama sempat melihat seseorang yang berdiri tepat di samping Diska tengah menyodorkan sebilah pisau lipat di pinggang Diska.


Rama melangkah mendekati Diska dan kini dia berada tepat di samping Diska.


"Ra-Rama," lirih salah satu pria di sana saat melihat Rama.


Rama memang terkenal di desanya serta daerah Ranah Batahan.


"Andi, apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Rama tidak suka melihat gadis yang disukainya diganggu oleh orang lain.


Rama mengenali semua pria yang tengah berada di keliling Diska


"Mhm, Eng-enggak ada. Ka-kami cu-cuma i-ingin berkenalan dengan gadis ini. Kelihatannya dia bukan orang sini," jawab Andi gugup.


Dia tidak ingin Rama mengetahui perbuatan mereka yang ingin merampas barang-barang berharga milik gadis itu.


"Sudahlah, aku harap kalian jangan pernah ganggu dia lagi. Dia adalah kekasihku," ujar Rama berbohong pada teman-temannya yang tadinya ingin berbuat jahat terhadap Diska.


"Hah?" Semua pria itu tercengang saat mendengar ucapan Rama.


Mereka tidak percaya bahwa mereka sudah salah sasaran. Bersyukur mereka belum melakukan tindak kejahatan terhadap Diska.


"Iya gadis kota ini adalah kekasihku, jadi mulai hari ini kalian jangan pernah ganggu dia," ujar Rama memberi ancaman pada empat orang pria yang dikenalnya.


"Ba-baiklah, Rama. Kami akan pergi sekarang," ujar pria yang bernama Andi.


"Iya, silakan," ujar Rama santai.


Keempat pria yang tadinya ingin berbuat jahat terhadap Diska pun pergi meninggalkan Diska dan Rama di tempat itu. Mereka terpaksa mengurungkan niat mereka karena Rama merupakan orang yang berpengaruh di daerah Ranah Batahan.


"Rama, aku takut," lirih Diska.


Gadis yang sejak tadi hanya diam ketakutan mulai memeluk tubuh kekar Rama.


"Sudah mulai hari ini tidak akan ada orang yang akan mengganggu kamu," ujar Rama sambil mengelus lembut punggung Diska menenangkan sang gadis yang sempat ketakutan ulah keempat teman Rama tadi.


"Mereka tadi ingin merampok barang-barang berharga milikku," ujar Diska memberitahukan apa yang akan dilakukan keempat pria tadi terhadap dirinya.


"Iya, aku tahu. Mereka memang begitu, tapi mulai hari ini takkan ada yang berani mengganggumu, karena mereka tahu kamu adalah kekasihku," ujar Rama.


"Hah?" lirih Diska.


Gadis itu langsung melepaskan pelukannya dari tubuh kekar milik Rama.

__ADS_1


"Mhm," gumam Rama bingung.


Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kamu bilang,--" Diska bingung melanjutkan pertanyaannya.


Seketika suasana menjadi canggung di antara mereka.


"Ma-maaf, maksud aku menyatakan bahwa ka-kamu ke-kekasihku agar mereka ti-tidak berani mengganggumu lagi," ujar Rama terbata-bata berusaha mencari alasan agar Diska tidak menganggap dirinya mencari kesempatan dalam kesempitan.


"Mhm, sudahlah," lirih Diska.


Diska pun membalikkan tubuhnya, dia menutupi wajahnya yang kini merah menahan malu. Berharap Rama mengungkapkan rasa yang ada di hatinya. Namun, si pemuda desa nan tampan itu masih berusaha menutupi rasa yang ada di hatinya.


"Ya udah, ayo kita kembali ke Puskesmas, takutnya pasien kamu butuh bantuan kamu," ujar Rama mengalihkan pembicaraan.


Rama langsung meraih tangan Diska lalu dia pun menariknya dan langkah kembali menuju Puskesmas.


"Aduh, capek juga jalannya," lirih Diska setelah menghempaskan pantatnya di atas kursi panjang yang tersedia di Puskesmas.


Gadis itu mulai memijat-mijat kakinya yang terasa pegal, Diska memang jarang berjalan kaki sehingga dengan mudah dia merasa lelah, apalagi dia menggunakan sendal ber-hak tinggi.


"Kamu capek ya?" tanya Rama pada Diska.


"Sini kakinya, biar aku pijitin," ujar Rama.


Dia menarik kaki Diska dan meletakkannya di atas pangkuannya.


"Eh," lirih Diska.


Jantungnya mulai kembali berdetak kencang tak keruan.


"Kalau kaki pegal, biasanya ini yang harus dipijat," ujar Rama memijat betis Diska.


"Auw," pekik Diska merasa sakit.


"Awalnya mang sakit, tapi setelah ini kamu pasti merasa enakkan," ujar Rama dengan senyumannya.


Diska terdiam, saat ini dia tengah berusaha menahan diri agar jantungnya tidak keluar dari sarangnya. Perlahan dia memegangi dadanya, seolah berusaha menenangkan hatinya yang terus berdebar-debar.


Rama melihat dengan jelas saat ini wajah gadis kota yang disukainya itu tengah memerah. Dia juga dapat merasakan debaran jantung Diska yang tidak keruan.


Dia hanya tersenyum menyadari apa yang saat ini dirasakan oleh gadis kota itu.


"Aku yakin, kamu juga merasakan apa yang saat ini aku rasakan," gumam Rama di dalam hati.

__ADS_1


"Udah, sekarang gimana?" ujar Rama setelah memijat kaki Diska.


"Mhm, lumayanlah," lirih Diska dengan suara bergetar.


Diska pun menurunkan kakinya yang tadi sempat berada di atas pangkuan pemuda tampan itu.


Rama tersenyum.


"Dulu sewaktu aku kecil, kalau aku kelelahan berlari di tengah hutan tempat kedua orang tuaku berkebun, ayah akan memijat kakiku seperti tadi, setelah itu aku kembali berlari." Rama mengenang masa lalunya.


"Mhm, sekarang ayah kamu di mana?" tanya Diska mulai penasaran dengan kehidupan kedua orang tua Rama.


Sejak berada di desa Diska belum sempat bertanya-tanya tentang sosok kedua orang tua Rama.


"Mhm, kedua orang tuaku sudah meninggal dunia, saat itu kalau tidak salah aku masih berumur 12 tahun atau 14 tahun aku sudah lupa," ujar Rama menjawab pertanyaan Diska.


"Hah, ma-maaf. Aku tidak tahu," lirih Diska merasa bersalah sudah mempertanyakan keberadaan kedua orang tua Rama.


"Tidak apa-apa, wajar kamu tahu tentang aku. Kemungkinan mereka meninggal karena dibunuh, tapi hingga saat ini aku belum tahu siapa pembunuh kedua orang tuaku," ujar Rama mulai bercerita.


"Apa? Mereka dibunuh? Apa alasan si pembunuh yang tega melakukan hal itu terhadap kedua orang tuamu?" ujar Diska mulai angkat suara.


"Aku juga tidak tahu, setahuku, ayah dan ibu tidak memiliki musuh, pergaulan mereka di dalam masyarakat sangat baik sehingga di saat mereka sudah tidak ada, banyak masyarakat yang ingin merawatku sebagai anak. Hanya saja aku memilih untuk tetap tinggal di rumah peninggalan kedua orang tuaku, dan setiap hari Uci Desmi datang mengantarkan makanan untukku," cerita Rama pada Diska.


Si pemuda desa mulai memberitahukan jati dirinya pada sang gadis kota.


Diska mulai bersimpati dengan nasib yang harus dijalani oleh Rama, jika saja dia tidak kehilangan kedua orang tuanya kemungkinan besar Rama akan berpendidikan dan menjadi orang yang sukses.


"Aku menemukan jasad mereka dalam keadaan berlumuran darah, dengan luka tusukan pisau di perut mereka," tambah Rama.


Bayangan orang tuanya yang meninggal di atas pangkuannya kembali terlintas di benaknya, tanpa disadarinya, kini sudut matanya sudah menggenang air mata kesedihan mengingat takdir hidupnya yang malang.


"Maafkan aku," lirih Diska.


Diska ikut bersedih, dia pun larut dalam luka yang dirasakan oleh Rama saat ini.


Diska menatap dalam pada Rama.


"Allah tidak akan memberi ujian kepada hamba-Nya jika sang hamba tidak kuat menjalaninya," lirih Rama.


"Karena Allah yakin aku kuat maka Allah berikan ujian ini padaku," ujarnya lagi.


Rama mengusap air mata yang sudah membasahi pipinya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2