Cinta Sang Pemuda Desa

Cinta Sang Pemuda Desa
Bab 54


__ADS_3

Uci Desmi senang mendengar ucapan Diska, dia benar-benar berharap Diska akan datang untuk mengunjunginya suatu hari nanti.


"Uci, aku sudah anggap Uci sebagai ibuku sendiri, jadi aku akan datang menemui Uci di saat aku ada kesempatan," tutur Diska.


Uci Desmi tersenyum, dia membelai lembut puncak kepala Diska yang kini ditutupi hijab.


"Baiklah, kalau begitu sana mandi. Bentar lagi maghrib. Acara akan dimulai sesudah shalat maghrib. Nanti terlambat," ujar Uci Desmi.


Saat ini pun Uci Desmi tidak bisa membujuk Diska untuk membuka hatinya agar dapat berbaikan dengan Rama.


Uci Desmi tidak setuju dengan keputusan Rama yang ingin menikah dengan Annisa.


Dari dulu, Uci Desmi tidak menyukai keluarga Pak Didin, tapi dia selalu menutupi hal itu dari mata masyarakat.


Diska pun berdiri lalu dia melangkah masuk ke dalam kamar untuk mengambil handuk, dia melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sementara itu Uci Desmi mulai bersiap-siap untuk berangkat ke mesjid, mereka akan langsung menuju gedung serba guna yang ada di desa Tanjung.


Gedung itu terletak tidak jauh dari mesjid.


Sebelum azan berkumandang, Uci Desmi dan Diska sudah keluar dari rumah, mereka melangkah menuju mesjid.


Hari ini jama'ah mesjid semakin bertambah karena acara tersebut.


Para penduduk yang rumahnya jauh dari mesjid memilih untuk melaksanakan shalat magrib berjama'ah.


Usai shalat maghrib, warga sudah berkumpul di gedung serbaguna.


"Diska, sini duduk di dekat aku," ujar Annisa memanggil Diska saat dia melihat Diska baru saja masuk ke dalam gedung serba guna itu.


Diska menoleh ke arah Uci Desmi.


"Pergilah, tapi kamu harus hati-hati sama dia," ujar Uci Desmi mengingatkan.


"Iya, Uci," lirih Diska.


Diska melangkah menuju tempat Annisa duduk, sedangkan Uci Desmi memilih untuk duduk dengan kaum ibu lainnya.

__ADS_1


Gedung serbaguna itu sudah dipenuhi oleh warga mulai dari yang berusia lanjut hingga pemuda-pemudi serta anak-anak.


Hampir seluruh masyarakat desa Tanjung ikut hadir dalam acara yang ditujukan untuk Diska.


Tak berapa lama warga menunggu, acara pun dimulai.


Seorang pemudi yang bernama Tasya dan pemuda yang bernama Hafiz maju ke depan untuk memulai acara.


Mereka ditunjuk sebagai pembawa acara dalam acara perpisahan kali ini, acara ini diisi dengan pembacaan Alqur'an, kata sambutan dari kepala desa, pemuka masyarakat dan sepatah kata dari Diska yang sudah mengabdi di desa Tanjung.


Diska maju ke depan untuk mengucapkan sepatah kata sebagai kesan dan pesannya selama berada di desa tersebut.


Di saat Diska berdiri di depan podium, sepasang mata memperhatikan gadis yang dicintainya itu dari kejauhan.


Rama berdiri di luar gedung, dia dapat melihat wajah Diska dari pintu gedung serbaguna yang terbuka.


"Assalamu'alaikum," ucap Diska memulai pembicaraannya.


"Tak banyak kata yang akan saya sampaikan pada kesempatan kali ini, jujur saya sangat bersyukur pada Allah atas diberikan kesempatan untuk dapat mengabdi di desa ini. Saya bersyukur bisa bertemu dengan kalian semua. Kalian menganggap keberadaan saya di sini seperti keluarga sendiri yang saya tidak pernah rasakan saat hidup di kota asal saya."


"Banyak pengalaman hidup yang saya dapatkan selama berada di sini, saya ucapkan terima kasih atas semua itu."


"Di sini juga saya merasakan pengalaman hidup yang sangat berharga, yang mana hampir semua penduduk mencari kehidupan di hutan sana, kalian berjuang demi kehidupan keluarga dengan menghadang berbagai bahaya demi keluarga kalian." Diska pun berbicara dengan nada sedih.


Hati Rama hancur mendengar penuturan gadis yang dicintainya, dia tak menyangka kejadian dia hilang di hutan menjadi mimpi buruk yang menyeramkan baginya.


Rasa bersalah di hati Rama semakin mendalam, sehingga sang pemuda desa nan tampan itu tak menyadari buliran bening mulai membasahi pipinya.


"Maafkan aku, Dis. Aku memang tidak pantas mendapatkan cintamu, aku adalah pria bodoh yang sudah menyia-nyiakan cintamu," gumam Rama di dalam hati.


"Pengalaman pahit yang pernah aku rasakan membuat aku sadar bahwa kematian itu dekat bagi setiap insan, dari pengalaman itu aku juga dapat mengetahui ketulusan seseorang," ujar Diska lagi.


Diska mengusap air matanya yang sudah mulai membasahi pipinya.


Suasana di gedung serba guna itu pun menjadi sedih, tidak hanya satu orang yang ikut menangis mendengar penuturan Diska.


"Saya ucapkan terima kasih pada semua warga yang Anda di desa ini, kalian adalah keluargaku semuanya," ujar Diska dengan senyuman yang mengembang.

__ADS_1


"Maaf, saya sudah bikin suasana jadi sedih, hehehe," kekeh Diska membuat semua warga kembali tersenyum.


Setelah menyampaikan ungkapan yang dirasakannya, acara pun ditutup dengan beberapa hiburan yang ditampilkan oleh para pemuda dan pemudi sebagai ungkapan terima kasih pada Diska yang sudah ikut membantu petugas klinik desa mengobati pasien di sana.


Saat acara hiburan, mereka pun mengadakan makan bersama. Makan di gedung serba guna dengan menu apa adanya, kesederhanaan dan kekeluargaan yang ditunjukkan dalam acara tersebut membuat Diska merasa terharu.


"Besok berangkat jam berapa, Bu Dokter?" tanya salah satu ibu-ibu yang duduk di samping Diska.


Dia mengajak Diska berbicara di saat dia sedang menyantap makan malam gulai ayam dan nangka.


"Besok berangkat dari sini pukul 07.00, menuju Padang. Mungkin aku nginap di Padang satu malam, lalu langsung berangkat ke Jakarta," jawab Diska.


Rama masih melihat dari jauh apa yang dilakukan Diska. Dia butuh keberanian untuk menghampiri gadis itu tapi tidak di hadapan warga yang kini bersamanya.


Di malam ini apa pun yang dilakukan Diska akan menjadi sorotan, karena semua mata tidak luput dari sosok Diska.


Kebersamaan Diska dengan penduduk desa membuat Rama sadar bahwa hanya dirinya yang tidak hadir dalam acara itu.


Dari awal acara, Diska berharap Rama akan datang menghadiri acara tersebut, Diska berharap dapat melihat wajah tampan pria yang dicintainya sebelum dia pergi meninggalkan desa. Meskipun kekecewaan Diska sangat besar terhadap Rama, tapi dia masih berharap pria itu hadir.


"Ternyata kamu memang tak peduli padaku, semua janji yang telah kamu ucapkan padaku hanyalah sebuah kebohongan," lirih Diska semakin kecewa pada Rama.


Mereka pun saling bercengkrama setelah acara usai, para pemuda dan pemudi masih bernyanyi dan berjoget menikmati keseruan malam perpisahan yang semakin larut.


Perlahan para warga mulai keluar satu per satu dari gedung serba guna, mereka pun pulang karena malam semakin larut.


"Diska sudah malam, ayo kita pulang," ajak Uci Desmi.


"Yuk," sahut Diska.


Diska pun berpamitan pada beberapa orang yang tadi bercengkrama dengannya.


Diska melangkah keluar dari gedung serba guna beriringan dengan Uci Desmi, malam semakin larut mereka berdua melangkah menuju rumah Uci Desmi.


Desa masih terlihat ramai karena beberapa warga juga banyak yang baru pulang dari gedung serba guna.


Diska kaget saat melihat Rama sudah duduk di bangku teras rumah Uci Desmi.

__ADS_1


Jantung Diska mulai berdetak lebih kencang.


Bersambung...


__ADS_2