Cinta Sang Pemuda Desa

Cinta Sang Pemuda Desa
Bab 22


__ADS_3

Hari Sabtu pun tiba, hari yang ditunggu-tunggu oleh Rama. Dia akan membawa Diska jalan-jalan keliling Ranah Batahan (Daerah perkampungan yang ada di Pasaman Barat).


Rama bangun pagi-pagi sekali, dia mempersiapkan diri dengan mengenakan pakaian paling bagus menurutnya.


Sebuah kaos putih dan celana jeans kini telah melekat di tubuhnya, pakaian yang sudah lusuh karena sering dipakainya tidak mengurangi ketampanan yang terpancar dari wajahnya.


"Diska, tunggu aku. Aku akan datang untukmu," gumam Rama saat berdiri di depan cermin usang yang ada di rumah peninggalan kedua orang tuanya.


Rama sudah meminjam sepeda motor milik Rudi untuk dipakainya mengajak Diska kencan hari ini.


"Wah, yang mau nge-date, pagi-pagi udah gagah aja," ledek Rudi saat melihat sahabatnya sudah berada di depan rumahnya.


Rumah Rudi dan Rama tak terlalu jauh, hanya berjarak 2 rumah di antara rumah mereka.


"Alah, jangan ngeledekin gitu dong, Rud," ujar Rama malu.


"Hahaha," tawa Rudi pecah mendengar ucapan sahabatnya.


"Mana kunci sepeda motornya?" tanya Rama, dia tak ingin berlama-lama meladeni ocehan Rudi yang tak berguna itu.


"Nih." Rudi mengeluarkan sebuah kunci motor dari saku celananya.


Pria itu melemparkan kunci tersebut ke arah Rama, dengan sigap Rama pun menangkap kunci tersebut.


"Good job," seru Rudi.


"Thanks," sahut Rama.


Rudi dan Rama memang terkadang suka berbicara menggunakan bahasa Inggris karena mereka berdua memiliki kemampuan bahasa Inggris yang bagus.


Rudi sempat melanjutkan sekolahnya di salah satu universitas di kota Padang, tapi karena ibunya sakit-sakitan tidak ada yang menjaga akhirnya Rudi pun memutuskan sekolahnya, sedangkan Rama sejak dulu sering belajar bersama Rudi.


Dulu semasa mereka sekolah, Rama selalu juara 1 dan Rudi juara 2 karena mereka memang anak-anak yang pintar.


"Ya udah, aku berangkat dulu, takutnya Diska sudah menungguku," ujar ramah berpamitan pada sahabatnya.


"Oke hati-hati, jangan lupa oleh-oleh buat aku,"ujar Rudi dengan senyuman.


"Sip, kamu mau apa?" tawar Rama.


"Haha, terserah. Maunya bidadari seperti Diska," goda Rudi.


"Ya udah, nanti aku Carikan yang lebih cantik dari Diska," ujar Rama.


"Hahaha." Mereka pun tertawa renyah.

__ADS_1


Sebuah pemandangan yang patut dikagumi, dua orang sahabat yang selalu akrab dalam situasi apapun.


"Ya udah, aku cabut dulu, ya," ujar Rama.


"Iya, hati-hati," sahut Rudi sebelum Rama mulai melajukan sepeda motornya.


"Siip," seru Rama.


Rama mulai melajukan sepeda motor milik Rudi, dia sengaja meminjam sepeda motor Rudi agar mereka tidak mendapati kendala dalam perjalanan nantinya karena sepeda motor Rudi masih terbilang baru.


Di rumah Uci Desmi, Diska sudah bersiap-siap dengan menggunakan Jean pensil hitam dipadupadankan dengan tunik di bawah lutut warna biru langit serta hijab pashmina berwarna senada dengan bajunya membuat wajah cantiknya memancarkan keanggunan yang akan memikat semua pria yang melihatnya.


"Aduh, anak Uci cantik sekali," puji Uci Desmi saat melihat Diska keluar dari kamarnya.


Diska mengernyitkan dahinya mendengar pujian dari Uci Desmi.


"Cantik dari mana, Uci?" lirih Diska.


Seketika wajah gadis itu berubah menjadi merah karena menahan malu.


"Cantik luar dan dalam," sahut Uci Desmi.


Dia merasa kagum saat melihat keanggunan gadis kota itu mengenakan pakaian yang tertutup serta hijab yang melekat di kepalanya.


"Ih, Uci bisa aja," lirih Diska.


Tiiiith tiiiith.


Terdengar suara klakson sepeda motor dari depan pekarangan rumah Uci Desmi.


Diska dan Uci desmi saling melempar pandangan sambil menunjuk ke arah luar.


"Rama datang," seru Uci Desmi menebak siapa yang datang.


Diska melangkah keluar dan membuka tirai jendela mengintip siapa yang datang.


Terlihat dari sana seorang pemuda kini tengah duduk di sepeda motor yang di bawahnya.


"Uci, Rama sudah datang aku berangkat dulu ya," ujar Diska berpamitan dengan Uci Desmi.


Wanita paruh baya itupun melangkah mengantarkan Diska menuju teras rumah.


Rama pun turun dari sepeda motornya saat melihat Uci desmi dan Diska keluar dari rumah, mereka kini sudah berada di teras rumah Uci Desmi.


Sang Pemuda Desa itu menyalami Uci desmi.

__ADS_1


"Uci, aku mau bawa Diska sejenak berkeliling di kabupaten Pasaman Barat ini," ujar Rama sekaligus berpamitan dengan Uci Desmi.


Uci Desmi tersenyum mendengar ucapan Rama yang berpamitan pada dirinya.


"Boleh, tapi kalian hati-hati, ya," ujar Uci Desmi memberi nasehat.


" Siip, Uci. Insya Allah aku akan menjaga anak gadis Uci dengan sebaik-baiknya," ujar Rama.


"Syukurlah, kalau begitu," ujar Uci Desmi.


Diska hanya diam dan tersenyum mendengar Uci Desmi dan Rama berbicara.


"Uci, aku pamit dulu, ya," ujar Diska berpamitan dengan wanita paruh baya itu.


Diska menyalami tangan Uci Desmi, setelah itu mereka pun melangkah menuju sepeda motor yang terparkir.


"Kamu pakai sepeda motor Rudi?" tanya Diska pada Rama saat dia melihat sepeda motor yang sangat dikenalnya.


"Iya, biar perjalanan kita nantinya tidak terganggu. Kalau aku ajakin kami jalan-jalan menggunakan sepeda motor bututku, yang ada kita tak akan sampai," jawab Rama.


Diska mengangguk paham, mereka pun menaiki sepeda motor tersebut lalu Rama melajukan sepeda motornya setelah memastikan Diska duduk dengan nyaman di atas sepeda motor tersebut.


"kamu mau membawa aku ke mana sih hari ini?" tanya Diska penasaran.


"Mhm, sebenarnya aku sendiri bingung ingin membawa kamu ke mana, tapi paling tidak aku bisa membawa kamu ke tempat-tempat yang indah dan istimewa di daerah sini," jawab Rama.


Rama dan Diska sampai di sebuah tempat makan yang berada di Puncak bukit, penduduk di sana sering menyebutnya dengan puncak paranginan.


Puncak paranginan merupakan salah satu objek wisata yang terdapat di daerah ranah batahan. Puncak peranginan ini terletak di jorong Aek nabirong yang mana dari Puncak tersebut kita dapat menyaksikan pemandangan yang sangat indah.



Dari Puncak Paranginan, para pengunjung dapat melihat keindahan kolam-kolam yang tertata rapi dengan alam nan indah di sekitarnya.


"Wah amazing, tempat ini bagus sekali," seru Diska saat dia menyaksikan keindahan alam yang kini ada di hadapannya.


"Itu kolam apa?" tanya Diska mulai penasaran.


"Kolam-kolam itu terbentuk saat pemilik lahan ini mencari emas dan membuat lokasi crossing di sini, awalnya berbentuk kolam-kolam bekas penggalian kini dijadikan tempat wisata oleh penduduk setempat," jelas Rama pada Diska.


"Keren, ya. Ternyata daerah sini masih banyak keindahan alam yang tersimpan," ujar Diska kagum.


"Ya begitulah, hanya saja tempat seperti ini tidak ada pengelolanya," ujar Rama.


Diska mengangguk paham dengan apa yang diceritakan oleh Rama.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2