
Mereka pun balik kanan dan melangkah menuju pemukiman penduduk.
Mereka berniat akan kembali mencari Diska setelah Rama menyelesaikan tugas yang diberikan oleh sang kepala desa.
Rama dan Rudi melangkah kembali ke kampung di saat itu, Rudi tak sengaja melihat seekor ular besar berada tak jauh dari posisi mereka.
"Rama, lihat itu!" seru Rudi menghentikan langkah Rama.
Rama kaget saat melihat ekor ular yang bergerak ke sana kemari, seolah si ular tengah menahan rasa sakit.
Ular yang terlihat bagian perutnya membesar, menunjukkan dia baru saja memangsa binatang yang besar.
Rudi dan Rama juga melihat di bagian leher si ular tersebut terlihat gembung dan berduri, jika dilihat dari bentuknya si ular baru saja memangsa seekor landak berduri.
Terlihat jelas saat ini ular tersebut tengah meregang nyawa karena salah mangsa.
"Sepertinya, ular itu baru saja memakan landak sehingga dia mati akibat ketamakannya sendiri." Rudi berpendapat.
"Rud, jangan-jangan Diska berada di dalam perut ular itu," ujar Rama membayangkan wanita yang dicintainya sudah berada di dalam perut ular besar itu.
"Hush, jangan begitu. Kita harus yakin bahwa Diska masih baik-baik saja, kamu jangan terus-terusan berpikir negatif," nasehat Rudi mengingatkan Rama.
"Astaghfirullahaladzim," lirih Rama menyadari kesalahan ucapannya.
Saat siang hari, pria yang sempat membantu Rama dan Rudi melihat persediaan air di pondoknya sudah habis, akhirnya dia melangkah menuju anak sungai tempat biasa dia mengambil air untuk kebutuhannya.
Di saat itu, pria tersebut melihat tubuh seorang wanita yang tergeletak di samping rumpun pisang.
Pria itu mendekati tubuh si wanita, dia mencoba memeriksa keadaannya.
"Wanita ini masih hidup," lirih sang pria.
"Eh, jangan-jangan gadis ini yang dicari oleh dua pria kemarin," gumam si pria menebak-nebak.
"Aku harus menolong gadis ini," ujarnya lalu si pria mengangkat tubuh Diska dan membawanya ke pondoknya.
Pria itu membaringkan tubuh Diska di atas tikar.
Dia membuka jendela pondoknya, setelah itu dia kembali menuju anak sungai untuk mengambil air.
Dia harus menyiapkan makanan serta minuman untuk gadis yang baru saja ditemukannya di saat dia sadar kembali.
****
__ADS_1
"Rama, kamu perginya sama Annisa, ya. Kebetulan Nisa mau cari dasar kain untuk acara pernikahan sepupunya," ujar Didin pada Rama saat pria itu sudah berada di rumah sang kepala desa.
"Mhm, baiklah, Pak." Rama terpaksa setuju.
"Ayo berangkat," ajak Annisa yang baru saja keluar dari kamarnya.
Dia berdiri di samping ayahnya dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.
"Yuk," lirih Rama.
Rama pun menaiki sepeda motor milik Pak kepala Desa yang biasa digunakannya untuk berbagai kepentingan kantor desa.
Dengan bahagia Annisa menaiki sepeda motor yang sudah dinyalakan oleh Rama.
"Kami berangkat, Pak," teriak Annisa dengan riangnya sementara itu Rama merasa risih berboncengan dengan Annisa yang kini mulai melingkarkan tangannya di pinggang Rama.
Saat mereka mulai menempuh jalan mendaki dan tidak ada lagi pemukiman penduduk, Annisa merebahkan tubuhnya ke depan hingga Rama dapat merasakan dua benda kenyal yang menempel di punggungnya.
Perbuatan Annisa itu membuat Rama semakin tidak nyaman pergi dengan gadi tersebut.
Rama pun berusaha bergeser ke depan agar Annisa menyadari ketidaknyamanan yang kini dirasakannya.
Namun, usaha yang dilakukan Rama terlihat sia-sia. Gadis itu masih saja menempelkan tubuhnya di punggung Rama.
"Kenapa berhenti?" tanya Annisa heran.
Rama diam, dia turun dari sepeda motor, dengan terpaksa Annisa pun ikut turun.
Rama duduk di sebuah batu yang ada di pinggir jalan itu.
"Hei, ada apa?" tanya Annisa semakin penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Rama.
Rama menatap tajam ke arah Annisa, sehingga gadis itu terlihat takut dengan tatapan Rama.
"A-ada a-apa?" tanya Annisa gugup.
"Kamu mau kita sampai di tujuan dengan selamat, kan?" tanya Rama secara langsung.
"Tentu saja, apa ma-maksud dari pertanyaanmu?" tanya Annisa bingung.
"Jika mau kita selamat sampai tujuan, duduklah dengan tenang di belakangku, jika tidak lebih baik kita tidak usah pergi," ujar Rama tegas.
"Apa maksudmu?" tanya Annisa pura-pura tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Rama.
__ADS_1
Rama menyerang napas panjang dia pun berdiri lalu mendekati Annisa.
"Kamu mengerti apa yang aku maksud jadi tidak usah pura-pura tidak paham!" ujar Rama penuh penekanan.
Annisa terdiam dan menunduk, dia tak menyangka akan berbicara dengan nada penuh penekanan pada dirinya karena selama ini Rama tak pernah berbicara kasar padanya.
Rama kembali menaiki sepeda motor lalu menyalakan motor tersebut.
"Naiklah," ujar Rama datar.
Mau tidak mau Annisa pun naik ke atas sepeda motor, Rama mulai melajukan sepeda motornya.
Annisa memberanikan diri memegang pinggang Rama. Tapi, dia tak lagi berani merebahkan tubuhnya di punggung Rama.
Satu setengah jam perjalanan mereka tempuh, akhirnya mereka sampai di pasar Ujung Gading.
Pasar ini biasa di jadikan pusat perbelanjaan oleh penduduk sekitar Ujung Gading karena pasar ini merupakan pasar paling lengkap di daerah kabupaten Pasaman Barat bagian Utara.
Di pasar ini juga banyak grosiran yang mana para pedagang di desa-desa sekitar akan membeli barang-barang di pasar ini untuk mereka jual kembali di desa.
"Kita sudah sampai, carilah apa yang kamu butuhkan. Aku juga akan mencari apa yang aku butuhkan. Nanti akan aku tunggu di sini," ujar Rama pada Annisa.
Awalnya Rama ingin menemani Annisa keliling mencari apa yang dibutuhkannya, tapi sikap Annisa tadi membuat dirinya enggan untuk berlama-lama bersama Putri kepala desa itu.
"Tapi," bantah Annisa.
"Aku tidak bisa main-main, aku harus mencari Diska lagi setelah kembali dari sini," ujar Rama tegas.
Akhirnya Annisa pun mengalah, dia melangkah masuk ke dalam pasar mencari apa yang ingin dicarinya, begitu juga dengan Rama, pria itu langsung ke sebuah toko ATK terbesar di Ujung Gading.
Dia membeli barang-barang yang dibutuhkan lalu setelah itu menunggu Annisa di sebuah warung nasi.
Rama langsung memesan makanan untuknya tanpa menunggu Annisa, dia enggan makan bersama dengan wanita itu. Selain itu dia memang sudah merasa sangat lapar.
Rama makan dengan lahap walau hatinya masih risau memikirkan keadaan Diska saat ini.
Di benaknya, dia harus tetap sehat agar bisa mencari Diska. Dia tidak boleh sakit karena dia harus menemukan gadis yang dicintainya.
Tak berapa lama Rama selesai makan Annisa datang dengan membawa satu kantong plastik yang berisi barang belanjaannya.
Annisa melangkah menghampiri Rama yang dilihatnya sudah berada di sebuah warung nasi.
"Rama! Kamu sudah makan duluan?" tanya Annisa dengan nada penuh amarah.
__ADS_1
Bersambung...