
"Ish, Mamak Rustam jangan bilang begitu, tidak baik," tegur Rudi kesal.
Seolah-olah Rustam tidak menghargai usaha Rama dan Rudi yang sudah mencari Diska satu malam satu hari.
"Lho, Saya cuma menyampaikan pendapat saja tak lebih dari itu karena kemarin-kemarin dari desa sebelah baru menemukan satu ekor ular yang sedang kekenyangan di sawah, pas ularnya dibunuh. Di dalam perut ular itu ada satu ekor sapi dan satu ekor kambing," ujar Rustam menyampaikan berita yang sempat di dengannya beberapa hari yang lewat.
Rama dan Rudi saling berpandangan, mereka semakin cemas dengan keadaan Diska.
Dua pemuda itu hanya sempat mengira bahwa Diska di terkam harimau yang mereka bunuh kemarin, tapi melihat gelagat si harimau yang sudah terbunuh oleh dua pemuda itu mereka yakin Harimau itu belum makan apa pun.
"Jangan gitu juga, Mamak. Kita semua berharap gadis kota itu selamat. Kalau tidak desa kita akan kena masalah dengan pihak penyalur dokter muda di desa kita. Dokter muda itu mengabdi di sini, dan tanggung jawab kita semua sebagai warga untuk menjaganya," ujar Rudi kesal mendengar ucapan Rustam.
"Iya, sih. Kan saya cuma menyampaikan praduga saja," ujar Rustam berkilah.
"Alah, alasan saja," ujar Rudi.
Rudi menarik tangan Rama, mengajak sahabatnya meninggalkan Rustam yang masih sibuk menapaki jalan setapak memasuki hutan.
"Rud, ini semua kesalahanku. Aku harus bertanggung jawab atas semua ini," ujar Rama terduduk lemas di tanah.
Kakinya kini terasa lemah tak bertulang sehingga dia tak lagi sanggup menopang bobot tubuhnya.
"Arrghh! Apa yang harus aku lakukan saat ini, hiks," tangis Rama pecah.
Perlahan penyesalan menggerogoti jiwanya. Hatinya mulai tak tenang dengan apa yang baru saja yang dikatakan oleh Rustam.
Bayang-bayang gadis yang dicintainya tengah ditelan ular besar pun melintas dibenaknya.
"Aku yang salah atas semua ini, hiks hiks," tangis Rama.
Rudi diam menatap apa yang kini sedang dilakukan oleh sahabatnya itu. Dia merasa kasihan pada Rama, Rudi sengaja membiarkan Rama meluapkan beban yang kini ada di hati sang sahabat.
Ya Allah, jika Kau ingin menghukum, hukumlah aku! Selamatkan Diska, Ya Allah." Rama memohon pada sang pemilik makhluk yang ada di dunia ini.
Dia terus memanjatkan do'a untuk keselamatan gadis yang sangat dicintainya.
__ADS_1
"Ram, sekarang kita lebih baik pulang dulu, setelah itu kita kembali mencari Diska dengan membawa bekal dan persiapan yang matang, atau bila perlu kita membawa persiapan yang matang supaya kita tidak kesulitan dalam masa pencarian Diska.
"Rud, kita mau cari ke mana lagi?" keluh Rama terdengar putus asa.
"Aku yakin, Diska baik-baik saja, kita pasti akan menemukannya. Kita harus optimis bahwa kita dapat menemukannya," ujar Rudi memberi semangat pada Rama.
Rama menatap dalam pada Rudi, tatapan itu dibalas Rudi dengan sebuah anggukan penuh keyakinan.
Setelah itu, Rudi menantu Rama berdiri, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju pemukiman penduduk.
Mereka memilih untuk kembali ke rumah sekadar menyiapkan bekal untu melanjutkan perjalanan mereka dalam mencari Diska.
Saat mereka sampai di depan rumah Rama, terlihat Uci Desmi sudah duduk di sebuah kursi rotan yang ada di teras rumah pemuda tampan itu.
Wanita paruh baya itu langsung berdiri dan menghampiri Rama saat melihat ramah melangkah masuk ke dalam rumah.
"Bagaimana Rama? Apakah kamu sudah menemukan Diska? Di mana gadis itu sekarang? Ayo katakan Rama di mana Diska?" tanya Uci Desmi.
Wanita paruh baya itu menghujani Rama dengan banyak pertanyaan yang sama sekali tidak sanggup dijawab oleh Rama.
"Ayo jawab pertanyaan Uci, kamu jangan diam saja," ujar Uci Desmi sambil menggoyang-goyangkan tubuh ramah yang hanya diam terpaku.
Dari kejauhan Rudi dapat melihat apa yang terjadi antara uci desmi dan sang sahabat.
Melihat sahabatnya yang tak bergeming, Rudi pun melangkah menghampiri kedua orang itu.
"Assalamu'alaikum, Uci," sapa Rudi berbasa-basi.
Uci Desmi menoleh menatap tajam ke arah Rudi.
"Rud, di mana Diska?" tanya Uci Desmi pada Rudi.
"Maaf, Uci. Kami belum bisa menemukan Diska, tapi setelah ini kami akan kembali mencarinya," ujar Rudi berusaha menenangkan wanita paruh baya itu.
"Ya Allah, jagalah putriku!" lirih Uci Desmi jatuh terduduk di tanah.
__ADS_1
Uci Desmi kini mulai menangis, meratapi nasib yang menimpa sang gadis kota.
"Tenanglah, Uci. Kami akan kembali mencari Diska, semoga malam ini kami dapat menemukannya." Rudi berusaha menenangkan uji resmi yang kini mencemaskan keadaan gadis kota itu.
"Baiklah, Uci sudah menyiapkan makanan untuk kalian, kamu jemputlah ke rumah agar kalian tidak kelaparan sepanjang pencarian Diska," perintah Uci Desmi pada Rudi.
"Baik, Uci. Biar aku saja yang menjemputnya sekaligus mengantarkan Uci ke rumah, " tawar Rudi.
Rudi sengaja menawarkan diri karena dia mengerti suasana hati Rama saat ini.
Rudi pun mengambil sepeda motornya lalu mengantarkan Uci Desmi ke rumahnya.
Sesampai di rumah Uci Desmi, wanita paruh baya itu langsung memberikan bekal nasi dan lauk yang sudah masak serta sebotol air minum yang telah disiapkannya sebelum berangkat ke rumah Rama tadi.
"Ini bawalah, Uci juga sudah menyiapkan beras serta sebuah periuk, mana tahu kalian nanti membutuhkannya," ujar Uci Desmi.
"Terima kasih, Uci. S moga kami dapat menemukan Diska secepatnya," ujar Rudi penuh keyakinan.
Uci Desmi tersenyum getir.
"Semoga kalian dapat menemukan Diska, aamiin," ujar Uci Desmi melepas kepergian Rudi dari rumahnya, setelah itu Dia pun melangkah masuk ke dalam rumahnya.
Wanita paruh baya itu tidak tahu harus berbuat apa lagi, saat ini dia hanya bisa berdo'a dan memohon atas keselamatan Diska.
Jauh di dalam hutan belantara yang Diska sendiri tidak tahu di mana dia kini berada melangkah terseok-seok menapaki jalan setapak yang ada di hadapannya.
Dalam lelah, dia terus melangkah berharap jalan yang dipilihnya dapat membawanya ke pemukiman penduduk.
Rasa lapar masih bisa di tahannya, untuk bertahan di dalam hutan tersebut Diska meminum air anak sungai yang mengalir di tengah-tengah hutan tersebut.
Penampilan Diska sudah acak-acakan dan kotor sekali, gadis itu berhenti sejenak di pinggir anak sungai karena dia benar-benar merasa haus dan lapar.
Dia menampung air sungai dengan kedua tangannya, lalu dia menenggak air anak sungai itu untuk melepaskan hausnya dan untuk menunda rasa lapar yang sudah satu hari satu malam belum makan.
Saat Diska baru saja meminum sekali, dia melihat sesuatu yang bergerak tak jauh dari posisinya saat ini.
__ADS_1
Matanya melebar, ketakutan.
"Bersambung...