Cinta Sang Pemuda Desa

Cinta Sang Pemuda Desa
Bab 38


__ADS_3

Tangan dan kaki Diska gemetar ketakutan, dia melihat seekor ular besar tengah tertidur tak jauh dari posisinya.


Diska melihat ekor ular tersebut bergerak-gerak karena merasa terganggu dengan binatang-binatang kecil yang menghinggapi tubuh besarnya.


"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan," lirih Diska.


Air matanya menetes karena ketakutan, dia tak lagi bisa berbuat apa-apa.


Seketika tubuhnya terdiam dan mematung, di saat dia ingin beranjak dan berlari kakinya terasa sangat lemah.


Bayang-bayang dirinya akan di telan hidup-hidup oleh ular tersebut kini melintas di benaknya.


Dia kembali teringat dengan kejadian malam hari di saat dia beristirahat di pondok pinggir jalan.


Flash back On.


Saat malam semakin gelap, Diska terus mencoba menghubungi Rama dan Rudi.


Di saat panggilan tersambung dengan Rudi, belum sempat dia memberitahukan keberadaannya pada Rudi, terdengar langkah yang berjalan melintas tak jauh dari pondok tempat dia berani.


Dengan jelas Diska melihat seekor harimau dalam kegelapan. Bersyukur di saat itu sang harimau tidak menyadari keberadaan Diska.


Diska turun dari pondok lalu melangkah menjauh dari posisinya semula mencari tempat untuk bersembunyi.


Bersyukur dia menemukan rumah reot yang hampir runtuh. Di dalam rumah itu ada sebuah tempat yang berbentuk seperti tempat tidur, akhirnya Diska beristirahat dan tertidur di sana.


Rasa takut terus menyelinap di hatinya, tapi dia terus menyemangati dirinya bahwa dia bisa keluar dari hutan itu.


Diska menguatkan dirinya untuk tetap bertahan hidup di hutan itu.


Flash back off.


"Ya Allah, berikan hamba kekuatan. Selamatkan hamba dari bahaya yang ada di hadapanku saat ini," lirih Diska memohon.


Di saat itu, kakinya mulai bisa digerakkan. Perlahan Diska melangkah mundur menjauh dari posisinya.


Di saat Diska hendak berbalik dia tak sengaja menabrak pohon pisang sehingga ular besar yang tadi tertidur dengan nyenyak terbangun.


Ular itu memutar kepalanya ke arah asal suara. Diska bersembunyi di rumpun pisang. Dia dapat melihat dengan jelas ular tersebut tengah membuka mulutnya.


Diska memejamkan matanya karena takut dan akhirnya dia pun tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya.


"Rud, aku semakin takut terjadi apa-apa pada Diska. Jika terjadi apa-apa padanya aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri," ujar Rama di sela-sela langkah mereka yang kembali berada di dalam hutan.


"Ini sudah satu hari satu malam dia nyasar di hutan ini, kalaupun dia masih hidup, dia pasti dalam keadaan lemah karena tidak makan dan tidak minum," ujar Rama putus asa.

__ADS_1


Rudi menempuh pundak Rama pelan.


"Ram, kamu harus yakin kalau Diska itu bisa diselamatkan, ini masih satu satu hari satu malam belum sampai 3 hari jadi kita harus yakin bahwa dia masih hidup," ujar Rudi terus memberi semangat pada sahabatnya.


Dalam keputusasaan Rama terus melangkah. Dalam setiap langkah dia memohonkan harapannya pada sang Pencipta.


Dia tak henti-hentinya berdzikir dan berdo'a agar Allah mendengarkan harapannya.


Di tempat lain. Annisa sedang berdiam diri di dalam kamarnya.


"Nisa, ayo makan!" panggil Bu Yuyun mengajak putri semata wayangnya untuk makan malam bersama.


"Tidak, aku tidak mau makan," teriak Annisa menolak.


"Ayolah, Nak. Nanti kamu sakit," ujar Yuyun terus membujuk putrinya.


"Biarkan aku sakit, Bapak sama Ibu sudah janji akan menjodohkan aku dengan Bang Rama, tapi hingga sekarang hal itu belum juga Bapak Ibu lakukan," ujar Annisa mengungkap alasan dia tidak mau makan.


"Ya ampun, Nisa. Jadi kamu ngambek gara-gara ini," ujar Yuyun.


"Iya, Bapak sama Ibu sudah ingkar janji," ujar Annisa dengan nada keras.


"Bapak sama Ibu akan pikirkan masalah ini, tapi kamu makan dulu, ya," bujuk Yuyun.


"Annisa kenapa, Buk?" tanya Didin datang menghampiri istrinya yang kini sedang membujuk putri mereka.


"Ya ampun, ini anak," lirih Didin sambil menggelengkan kepalanya.


Dia pun mengetuk pintu kamar putrinya.


"Nisa, anak Bapak," ujar Didin dengan lembut.


"Nisa benci bapak," ujar Annisa mulai merajuk.


Annisa sempat mendengar Rama dan Rudi mencari Diska semalaman dan sore ini dia juga terlihat kembali mencari Diska. Hal itu membuat Annisa mulai curiga dengan hubungan Rama dan gadis kota itu.


Dia ingin mengancam kedua orang tuanya agar bertindak lebih cepat sebelum Rama jatuh ke dalam pelukan gadis kota itu.


"Nisa, buka pintu dulu ya, Sayang. Kita bisa bicarakan masalah ini dengan baik-baik." Didin berusaha membujuk putrinya.


Berkali-kali kedua orang tua itu membujuk putrinya, hingga akhirnya Annisa pun bangun dari tempat tidurnya lalu dia membuka pintu kamarnya.


"Kita makan dulu ya, Nak. Setelah itu baru kita bahas masalah ini," ujar Didin.


Didin dan Yuyun memang sangat memanjakan putri semata wayangnya. Mereka akan melakukan apa pun yang diinginkan oleh putrinya.

__ADS_1


Mereka pun melangkah menuju ruang makan lalu menikmati makan malam dengan lahapnya.


"Besok, Bapak akan menyuruh Rama untuk menemani kamu ke Ujung Gading membeli ATK keperluan kantor desa. Kamu harus berusaha memikat dia agar dia menyukaimu, setelah itu bapak akan memintanya secara langsung untuk menikahimu." Didin memberi janji pada putrinya.


Annisa tersenyum bahagia mendengar ucapan Bapaknya. Dia yakin Rama akan jatuh hati padanya, secara dia Putri kepala desa dan penampilannya juga paling menarik daripada gadis lain yang ada di desa itu.


Keesokan harinya Didin menghubungi Rama.


Rama kini masih berada di hutan, mereka mulai melangkah menuju lahan perkebunan yang menurut sepengetahuan mereka jalan menuju desa sebelah.


Terdengar suara ponsel Rama yang berdering, Rama langsung merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel butut miliknya.


"Halo," ujar Rama saat panggilan sudah tersambung.


"Rama, bisakah kamu membantu saya hari ini?" tanya Didin pada Rama.


"Hah? Bantu apa, Pak?" tanya Rama mengernyitkan dahinya bingung.


"Tolong kamu pergi ke Ujung Gading untuk membeli ATK kantor desa yang sudah habis," ujar Didin tanpa menanyakan keberadaan Rama saat ini.


"Maaf, Pak. Tapi, saya saat ini sedang berada di hutan," ujar Rama menanggapi perintah sang Kepala Desa.


"Ngapain kamu di sana?" tanya Didin heran.


"Saya saat ini sedang mencari Diska, Pak," jawab Rama.


"Saya sudah menyuruh beberapa orang untuk mencari Diska sekarang kamu kembali lagi ke kampung dan langsung berangkat ke Ujung Gading," perintah kepala desa.


"Tapi, Pak," ujar Rama berusaha untuk membantah.


Namun, Didin sudah memutuskan panggilan tersebut.


Rama kembali mencoba menghubungi nomor pak Kepala Desa, tapi nomornya sudah tidak aktif.


"Sial," umpat Rama kesal.


"Ada apa, Ram?" tanya Rudi.


"Kepala desa menyuruhku untuk pergi ke Ujung Gading untuk membeli berbagai keperluan yang dibutuhkan di kantor kepala Desa," jawab Rama.


"Tapi, kita kan masih,--" Rudi terlihat kesal dengan perintah yang diberikan oleh sang kepala desa.


Rama mengangkat bahunya, menyatakan dia tak mengerti dengan sikap si kepala desa.


"Ya udah, kita balik dulu aja," ujar Rudi.

__ADS_1


Tak jauh dari tempat mereka berada, Diska tergeletak pingsan di samping rumpun pisang.


Bersambung...


__ADS_2