
Husein pun melangkah meninggalkan Diska bersama Minah.
"Kamu jangan khawatir, aku akan menjaganya," ujar Minah sebelum Husein melangkah meninggalkan pondok milik Minah.
Minah seorang petani yang ikut berkebun di lahan kosong yang tak jauh dari lokasi perkebunan.
Husein pun melangkah ke desa, dia terlihat tergesa-gesa. Dia tidak ingin berlama-lama meninggalkan gadis yang kini tengah menunggunya.
Satu Minggu bersama membuat Husein senang, dan dia sudah menganggap gadis itu seperti adiknya sendiri. Husein saat ini memang merindukan adik satu-satunya. Sejak dia pindah ke desa Lubuk Gobing dan menetap di hutan berkebun di sana, dia tak lagi pernah bertemu dengan adiknya itu bahkan dia sama sekali tak pernah bertukar kabar dengan adik yang sangat disayanginya.
Setengah jam perjalanan, Husein sudah sampai di desa. Dia mengantarkan hasil panennya ke sebuah warung yang biasa mengambil hasil kebunnya.
"Lho, tumben datangnya agak pagi, Bang?" tanya Melda si pemilik warung pada Husein.
"Iya, ada perlu ke pasar Silaping," jawab Husein.
"Semakin banyak hasil kebunnya ya, Bang," ujar Melda sambil menimbang beberapa hasil kebun milik Husein.
"Alhamdulillah, Kak. Allah tak akan memungkiri usaha yang sudah kita lakukan," ujar Husein.
Pria itu masih tetap bersyukur dengan apa yang di dapatnya.
"Iya, Bang. Allah tidak akan sia-sia selagi kita masih mau berusaha," ujar Melda.
Semua orang Desa Lubuk Gobing sudah tahu siapa Husein, mereka juga tahu apa alasan Husein berpindah ke desa itu, semua berita tentang Husein menyebar begitu saja di desa tersebut.
"Ini, Bang. Total semuanya lima ratus empat puluh enam ribu rupiah," ujar Melda setelah selesai menimbang semua hasil kebun yang dibawa oleh Husein.
"Wah, banyak, ya hasilnya." Husein kaget dengan sejumlah uang yang diberikan oleh Melda.
Setiap kali Husein datang membawakan hasil kebun, dia tidak pernah menarget harga sendiri. Dia membiarkan Melda yang menghitung harga hasil kebunnya itu.
"Alhamdulillah, Bang. Cabe sedang tinggi harganya, tujuh puluh ribu perkilo," jawab Melda.
"Alhamdulillah, kalau begitu saya langsung beli bahan-bahan yang saya butuhkan untuk satu Minggu," ujar Husein.
"Oh, iya. Boleh, Bang," sahut Melda.
"Ambilkan minyak goreng 1 kg, ikan asinnya seperempat kilo, bawang, sabun dan lain-lainnya," ujar Husein.
__ADS_1
"Lho, tumben banyak, Bang?" tanya Melda heran melihat belanjaan milik Husein.
"Mhm, iya. Mumpung uangnya cukup," ujar Husein.
"Oh," lirih Melda sambil tersenyum ramah.
"Saya titip di sini dulu, nanti kalau saya kembali saya ambil," ujar Husein.
"Iya, Bang," sahut Melda.
Setelah itu Husein pun melangkah menuju rumah sahabatnya, dia meminta bantuan pada temannya untuk menemaninya ke pasar Silaping.
Dia ingin membeli beberapa potong baju sederhana untuk Diska agar gadis itu keluar dari hutan penampilannya tidak terlalu lusuh.
"Kamu menyimpan wanita itu di hutan?" tanya Roni pada sahabatnya.
"Aku bukan menyimpannya, tapi aku memberinya tempat tinggal. Rencananya aku akan membawanya ke desa hari ini dan mengantarkannya ke desa Tanjung hari ini, tapi dia terjatuh. Kakinya terkilir dan tidak memungkinkan untuknya berjalan hingga desa," jelas Husein pada Roni.
Husein tidak ingin orang-orang tahu dengan keberadaan Diska di pondoknya, dia meminta Roni untuk merahasiakan hal itu dari penduduk agar tidak terjadi salah paham antara dirinya dan penduduk nantinya.
"Ron, kamu janji tidak akan memberitahukan hal ini pada istrimu, aku takut berita ini menyebar di desa ," ujar Husein memperingati sahabatnya.
Mereka pun berangkat ke pasar Silaping, Roni dengan senang hati membantu sahabatnya.
Di pasar, Dua pria itu membeli barang-barang yang dirasa perlu untuk gadis tersebut.
Setelah selesai berbelanja, Husein dan Roni berhenti sejenak di sebuah warung kopi.
"Woi, Rud. Kamu di sini?" tanya Roni saat melihat Rudi yang sedang duduk di warung kopi itu.
Roni pernah bekerja di tempat yang sama dengan Rudi sehingga mereka saling kenal.
"Hei, Ron. Apa kabar? Sudah lama kita tak berjumpa," ujar Rudi menyapa Roni.
Husein dan Roni memilih tempat duduk yang kosong, Rudi pun berdiri dan berpindah ke tempat teman lamanya itu.
Rudi memperhatikan Husein, dia merasa pernah bertemu dengan pria yang bersama temannya itu.
Begitu juga dengan Husein, dia mengingat pertemuannya dengan Rudi dan Rama waktu di hutan.
__ADS_1
"Sepertinya saya pernah bertemu dengan Abang ini," lirih Rudi berusaha mengingat kapan dia berjumpa dengan Husein.
"Iya, kita mang pernah bertemu," jawab Husein sambil tersenyum.
"Nah, kan. Di mana, ya. aku bertemu dengan Abang,?" tanya Rudi masih berpikir.
"Di hutan," jawab Husein santai.
"Oh, iya. Abang ini yang sudah menolong kami yang sedang kelaparan di hutan," ujar Rudi mengingat kejadian Minggu lalu.
"Iya," ujar Rudi tersenyum.
Husein teringat bahwa Rudi waktu itu tengah mencari seseorang.
"Bagaimana, apakah kalian sudah menemukan orang yang kalian cari waktu itu?" tanya Husein pada Rudi.
Rudi menundukkan kepalanya, dia terlihat sangat sedih.
"Belum, Bang," lirih Rudi sedih mengingat keadaan Rama saat ini.
"Mungkin gadis itu sudah dimakan harimau atau ular besar yang kami temukan di hutan beberapa hari lalu," lirih Rudi lagi.
Roni menoleh pada Husein, mereka saling beradu pandang. Husein mengisyaratkan pada Roni untuk diam.
"Gadis itu merupakan wanita satu-satunya yang sudah membuat sahabatku Rama jatuh cinta, karena kesalahpahaman di antara mereka, gadis itu nyasar di hutan hingga saat ini belum ditemukan. Sekarang sahabatku lebih memilih tinggal di hutan, di kebun kedua orangtuanya." Rudi mulai menceritakan keadaan Rama saat ini.
Setelah mereka melihat ular besar itu saat kembali ke desa, pikiran Rama mulai terusik. Dia selalu membayangkan bahwa gadis pujaannya sudah mati ditelan ular besar hidup-hidup.
Kini Rama memilih tinggal seorang diri di kebun kedua orang tuanya, dia mulai memperbaiki pondok yang dulu pernah dipakai kedua orangtuanya untuk bermalam- malam di hutan.
Pemuda desa nan tampan itu tidak ingin diganggu, dia memilih menenangkan diri dari berbagai masalah sambil merawat kebun peninggalan kedua orang tuanya.
Dia tak ada semangat untuk hidup bergaul dengan masyarakat. Dari pada dia tinggal di desa, dia lebih memilih menyendiri di hutan mengenang kisah cintanya yang singkat bersama Diska.
Banyak perubahan yang terjadi pada diri Rama, dia lebih pendiam. Keceriaan yang biasa terpancar di wajahnya, kini hanya kemurungan yang ada di raut wajah.
Rudi sebagai sahabat ikut sedih dengan apa yang kini dialami oleh sang sahabat.
"Apakah gadis yang kalian cari bernama Diska?" tanya Husein memastikan orang yang mereka cari Minggu lalu.
__ADS_1
Bersambung...