Cinta Sang Pemuda Desa

Cinta Sang Pemuda Desa
Bab 32


__ADS_3

"Apakah aku tidak boleh ke sini?" tanya Diska balik pada Rama.


Diska melangkah dan duduk di samping Rama.


"Sebegitu marahnya kamu padaku? Sehingga kamu tak ingin lagi bertemu denganku?" tanya Diska menatap lurus ke depan.


Dia sengaja mengikuti arah tatapan Rama, menunggu reaksi Rama atas ucapannya. Pemuda desa itu menoleh pada gadis pujaan hatinya yang kini duduk tepat di sampingnya.


"Aku tahu dan sadar diri, aku bukan siapa-siapa bagimu, jadi,--" Rama terdiam.


Diska menoleh dan menatap dalam pada pria yang kini sudah mengisi ruang hatinya.


Mereka kini salin tatap, terlihat jelas di pancaran mata Diska bahwa hanya Rama pria yang dicintainya.


Rama hanya bisa diam. Dia tak tahu harus berbuat apa.


"Jadi apa yang selama ini terjadi di antara kita tidak berarti bagimu, Bang?" tanya Diska pada Rama meminta penjelasan dari ucapan Rama.


Rahma tidak sanggup menjawab pertanyaan dari Diska, dia bingung harus berbuat apa untuk saat ini.


"Dek, kamu tahu aku ini hanya pria miskin dan tidak berpendidikan, aku tahu diri untuk mencintai seorang wanita kota yang berpendidikan merupakan hal yang tidak pantas bagiku. aku hanya bagi semut yang merangkak di tanah yang kapan saja bisa mati diinjak, sedangkan kamu bagaikan bulan di langit yang aku sendiri tidak akan bisa meraihnya," ujar Rama.


"Apakah kamu tidak ingin memperjuangkan apa yang ada di hati kita?" tanya Diska.


Diska teringat dengan apa yang diceritakan oleh Gina waktu itu.


"Mhm, apalah dayaku berjuang? Aku ini tidak memiliki apa-apa yang bisa aku banggakan," ujar Rama putus asa.


"Jadi, kamu tidak ingin memperjuangkan cintamu padaku?" tanya Diska.


Sebelum Diska menjelaskan hubungannya dengan Rezi, Diska ingin mengetahui kesungguhan Rama.


Diska juga tak ingin hubungan mereka berat sebelah di saat dia ingin berjuang tapi Rama sudah menyerah sebelum memulai hubungan itu.


Rama hanya diam, dia tak tahu harus menjawab apa karena saat ini dia tidak memiliki apa-apa untuk memperjuangkan cintanya pada Diska.


Sedangkan untuk bertahan hidup hari ke hari dia harus banting tulang bekerja. Dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk berjuang karena dia sendiri tidak memiliki senjata


Hampir setengah jam Diska menunggu jawaban dari Rama, tapi sang Pemuda Desa itu hanya diam hingga akhirnya Diska kecewa dia turun dari batu dan berdiri mulai melangkah meninggalkan Rama yang masih saja terpaku dalam diamnya.


Diska menapaki jalan yang seingatnya jalan yang dilewatinya menuju tempat Rama tadi.


Setelah dia melangkah beberapa langkah, Diska mendapati dua cabang jalan setapak. Dia bingung harus melewati jalan yang mana.


Dia berusaha mengingat dengan keras jalan yang dilewatinya tadi.

__ADS_1


Dalam keraguan Diska memilih jalan yang berbelok ke kanan.


Rama yang sedari tadi melamun panjang dia tak menyadari kepergian Diska.


Dia kaget saat mengetahui bahwa Diska tidak lagi berada di sampingnya. Rama berdiri dia melangkah cepat ingin menyusul wanita yang dicintainya.


Seketika rasa khawatir kini mulai menyelinap di hatinya. Rama melangkah keluar dari jalan perkebunan, posisi tempat yang biasa digunakan oleh Rama untuk menenangkan diri berada di tengah perkebunan yang agak jauh dari pemukiman penduduk.


"Ini jalan ke mana?" gumam Diska mulai dihantui rasa takut.


Gadis kota itu mulai takut nyasar di tengah hutan yang tidak pernah dilaluinya.


Diska mulai memperhatikan ke sekelilingnya, dia kini berada di tengah-tengah hutan di sekelilingnya terdapat pohon-pohon besar dengan semak-semak, Diska tak dapat melihat seorang pun dari tempatnya kini berada.


Langit pun mulai gelap karena malam akan datang, rasa takut membuat Diska tak tahu harus berbuat apa.


Karena gelap, Diska teringat membuka hpnya untuk menyalakan senter sebagai penerang langkahnya.


Di saat itu Diska mencoba menghubungi Rama, dia tidak lagi peduli dengan apa yang terjadi barusan. Saat ini Diska ingin cepat-cepat keluar dari hutan itu.


Diska mencari nomor ponsel Rama lalu menekan tombol memanggil.


Satu kali panggilan, Rama tak menjawab panggilan tersebut. Diska tidak putus asa, dia terus mencoba menghubungi Rama berharap pria yang dicintainya itu datang membantunya.


"Kamu ke mana, Bang? Semarah itukah kamu padaku sehingga kamu tidak lagi peduli padaku," lirih Diska sedih.


Diska menekan tombol hijau memanggil nomor ponsel Rudi, hal yang sama terjadi. Rudi juga tidak mengangkat panggilannya.


Diska semakin panik, petang sudah berganti menjadi malam. Seorang diri di hutan belantara itu membuat Diska benar-benar takut.


Dia terus melangkah menyusuri jalan setapak yang ada di hadapannya. Saat ini dia tak lagi memikirkan hal-hal yang lain.


Gadis kota itu terus berusaha keluar dari hutan itu walaupun jalan yang ditempuhnya semakin jauh ke tengah hutan.


Rasa takut yang kini menyelimuti dirinya berusaha dilawannya demi dia bisa keluar dari hutan itu.


Bayang-bayang binatang-binatang buas dan berbisa berusaha ditepisnya, tanpa di sadarinya kini gadis itu sudah menitikkan air matanya.


"Ya Allah, di mana aku saat ini. Siapa yang akan bisa membantu keluar dari hutan ini, Ya Allah aku takut, hiks hiks." Diska mulai terisak.


"Kamu benar-benar jahat padaku, kamu tidak mencintaiku, kamu terlalu kejam padaku, hiks." Diska terus berbicara seorang diri.


"Bang, lihatlah setelah ini aku tidak akan pernah lagi berharap apa pun darimu, aku benar-benar kecewa dengan apa yang telah kamu lakukan terhadap diriku," lirih Diska.


Diska melihat sebuah pondok berdiri di pinggir jalan setapak yang sudah dilewatinya.

__ADS_1


Pondok kecil yang biasa digunakan petani untuk beristirahat sejenak saat lelah bekerja. Pondok yang hanya beratapkan Rumbia serta dinding setengah badan.


"Ada pondok, apakah lebih baik aku beristirahat di sini sejenak?" gumam Diska.


Diska masuk ke dalam pondok itu, dia berniat akan beristirahat terlebih dahulu di pondok itu.


Diska kembali menghubungi Rudi, Diska tak ingin lagi berkomunikasi dengan Rama, gadis itu akan berusaha untuk melupakan sang pemuda desa.


Rudi baru saja pulang dari mesjid, dia tidak membawa ponsel. Dia melihat panggilan tak terjawab dari Diska.


"Ada apa lagi dengan gadis kota itu," gumam Rudi di dalam hati saat melihat layar ponselnya.


"Rudi!" panggil Uci Desmi dari luar rumah Rudi.


Rudi melangkah keluar.


"Mana Diska?" tanya Uci Desmi khawatir karena sejak tadi Diska belum juga pulang.


"Tadi bersama Rama, Uci," jawab Rudi.


"Rama tidak ada di rumahnya," jawab Uci Desmi.


"Mungkin mereka pergi ke suatu tempat," jawab Rudi asal.


"Tidak mungkin, Diska itu masih lelah perjalanan jauh. Dia pasti kelelahan," bantah Uci Desmi.


"Ya udah, aku coba telpon Rama dulu," ujar Rudi.


Saat Rudi hendak menghubungi Rama, panggilan masuk dari nomor Diska.


"Halo," ucap Rudi saat panggilan sudah tersambung.


"Rudi tolong aku," lirih Diska panik.


"Tolong aku! Tolong!" teriak Diska lagi.


"Halo, Buk Dokter. Ada apa?" tanya Rudi.


"Halo," ujar Rudi lagi.


Tut tut tut, terdengar panggilan terputus.


Rudi yang panik kembali menghubungi Diska tapi panggilan tak lagi tersambung, jaringannya terputus.


"Ada apa Rudi?" tanya Uci Desmi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2