Cinta Sang Pemuda Desa

Cinta Sang Pemuda Desa
Bab 52


__ADS_3

Di hari yang cerah mentari menyinari bumi memberi kehangatan pada setiap insan dan makhluk yang ada di dalamnya. Kehangatan dari sang surya tak jauh berbeda dengan kehangatan yang ditunjukkan oleh warga Desa Tanjung pada Diska sang dokter muda yang mengabdi di desa tersebut.


Hari ini penduduk desa Tanjung akan mengadakan acara perpisahan dengan sang dokter muda yang sudah bergaul dengan mereka selama satu tahun.


Diska akan berangkat besok, karena tugas pengabdiannya di Desa Tanjung sudah berakhir.


Dia berencana akan melanjutkan pendidikan kedokterannya di Jakarta atau Bandung.


"Tidak terasa ya, Bu dokter sudah 1 tahun berada di desa kami ini," ujar salah satu ibu-ibu yang sedang memeras kelapa mempersiapkan santan untuk membuat gulai nangka dan ayam.


Penduduk desa selalu memasak gulai ayam dan nangka jika mereka melakukan sebuah hajatan, dan hari ini mereka akan melakukan hajatan perpisahan warga dengan sang dokter muda yang sudah mengabdi di sana.


"Iya nih mana dia orangnya baik lagi, kita pasti merasa kehilangan. saya pikir dia akan berjodoh dengan Rama soalnya saya pernah lihat kebersamaan mereka. saya senang bu dokter itu mau sama Rama tapi ternyata Rama lebih memilih Si Annisa sebagai istrinya," ujar ibu-ibu lainnya menimpali ucapan temannya.


"Eh padahal kabarnya Rama sama bu dokter itu pernah sempat jadian loh, tapi sayang mereka putus, kabar-kabarnya waktu itu bu dokter pernah diantar oleh seorang pria tampan yang mungkin rekan kerjanya, Rama cemburu lalu memutuskan hubungan dengan bu dokter itu." ibu yang lainnya juga mulai menyampaikan gosip-gosip yang sudah beredar di Desa Tanjung.


Begitulah ibu-ibu di Desa Tanjung setiap mereka bekerja bergotong-royong, mereka selalu berbincang-bincang, dan ada saja yang akan menjadi topik pembahasan yang mereka bicarakan mulai dari kabar yang tidak benar maupun kabar yang sudah jelas kebenarannya.


Sementara itu Diska juga ikut membantu mempersiapkan acara yang diadakan oleh warga Desa Tanjung khusus untuk dirinya.


Dia mendapat bagian kerja menghias tempat acara nanti malam bersama dengan para pemuda dan pemudi.


Di saat mereka sedang asyik menggunting beberapa hiasan, salah satu diantara mereka mulai membuka topik pembicaraan.


"bu dokter, setelah Ibu Dokter pergi dari Desa ini, kapan lagi gue dokter akan datang ke sini?" tanya salah satu pemudi yang kini sedang memotong kertas hias.


"Kalau bu dokter sudah pergi dari Desa kita ini, mana mau lagi dia ke sini. Desa yang tertinggal dan kampungan yang gak level lah dengan Bu dokter," ujar pemudi lainnya menimpali ucapan dari temannya.


Riska tersenyum mendengar ocehan dua gadis yang kini bersamanya.


"Jangan seperti itu dong, Desa ini sudah memberi kenangan indah buat aku, jika suatu hari nanti aku ada kesempatan dan rezeki, aku akan datang untuk menemui kalian lagi," ujar Diska terharu mendengarkan ucapan dua pemudi yang berada di sampingnya.


"Beneran bu dokter?" tanya salah satu pemudi itu antusias.

__ADS_1


Terlihat dari wajahnya Dia sangat mengharapkan kedatangan Diska meskipun suatu hari nanti di sudah tidak bekerja di desa itu.


"Insya Allah," ucap Diska sambil tersenyum.


"Coba bu dokter nggak putus sama Bang Rama pasti butuh dokter bakalan jadi penduduk desa sini," celetuk pemudi uang baru saja datang menghampiri mereka.


"Hush, jangan ngomong gitu, tidak enak sama bu dokter," bisik temannya yang merasa tidak enak pada Diska.


Dia tidak ingin Diska tersinggung dengan ucapan temannya yang baru datang.


Diska tersenyum saat mendengar ocehan dari dua pemudi itu.


"Memangnya kalian tahu apa tentang hubungan aku dengan Rama? siapa bilang aku pacaran dengannya?" tanya Diska penasaran dengan gosip yang beredar tentang dirinya dan Rama.


"Aku juga nggak tahu tuh gosipnya dapat dari mana, tapi bu dokter memang banyak orang di desa ini membicarakan bahwa bu dokter dan Bang Rama pernah pacaran," ujar si pemudi dengan polosnya.


"Hehehe." Diska terkekeh mendengar ucapan si pemudi itu.


"Bu dokter, benar pernah pacaran dengan Bang Rama?" tanya si penghuni lainnya mulai penasaran dengan kebenaran gosip tersebut.


"Jodoh itu Allah yang ngatur jadi alangkah lebih baiknya kita serahkan padanya karena hanya Allah yang tahu apa yang terbaik untuk kita," ujar Deska menanggapi rasa penasaran dari pemudi yang kini asyik mengobrol dengannya.


Sementara itu Rudi baru saja keluar dari rumahnya, dia hendak melangkah menuju kebun Rama yang ada di hutan.


Rudi yakin saat ini ramah sahabatnya itu belum mengetahui rencana keberangkatan Diska. Gadis kota itu akan meninggalkan Desa Tanjung besok pagi.


Rudi ingin membujuk Rama untuk mengungkap apa yang tengah dirasakan oleh Rama selama ini terhadap Diska sebelum dia terlambat.


Setelah menempuh 1 jam perjalanan Rudi sampai di pondok milik sahabatnya itu.


"Rama! Rama!" teriak Rudi memanggil sahabatnya.


Satu kali dia memanggil sahabatnya Rama belum juga memperlihatkan wujudnya.

__ADS_1


"Di mana anak itu, ya?" gerutu Rudi di dalam hati.


"Rama! Rama!" teriak Rudi sekali lagi.


Dia mengulangi panggilannya karena belum melihat sahabatnya itu datang menghampirinya.


Rudi mengedarkan pandangannya mencari sosok sahabatnya di dalam kebun itu.


"Ada apa?" tanya Rama yang baru saja datang dari arah pondoknya.


"Ya ampun, Rama. dari tadi aku teriak-teriak memanggilmu. dan sama sekali kamu tidak nyahut panggilan aku," garutu Rudi kesal dengan tingkah sahabatnya.


Rama tidak mengajukan kekesalan sang sahabat, dia melangkah menuju pondok dan duduk di sebuah bangku panjang yang terdapat di teras pondok.


Masih dengan wajah yang ditekuk Rudi mengikuti langkah sahabatnya lalu duduk di samping Rama.


"Ada apa, Rud?" tanya Rama penasaran dengan kedatangan sang sahabat menghampirinya ke kebun.


Dia tahu kedatangan Rudi menemuinya pasti ada sesuatu yang akan disampaikannya.


Rudi masih diam dia memikirkan cara untuk menyampaikan tujuan kedatangannya ke kebun menemui sahabatnya. Dia bingung harus memulai dari mana.


"Woi, kamu ngapain datang ke sini?" tanya Rama mendesak sahabatnya untuk menyampaikan tujuannya datang menemui dirinya.


"Rama," lirih Rudi pelan dengan wajah yang sendu.


Rama menautkan kedua alisnya, dia mulai penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh seorang sahabat.


"Mhm," gumam Rama semakin tidak sabar menunggu sahabatnya berbicara.


"Rama, Apakah kamu tahu bahwa Diska akan pergi besok? Dia akan meninggalkan Desa ini untuk selamanya," ujar Rudi pada sahabatnya.


Rama kaget dengan apa yang dikatakan oleh sahabatnya. dia sama sekali tidak tahu berita tentang rencana keberangkatan Diska dari desa itu, selama ini dia berpikir bahwa Diska akan menetap di desa itu beberapa tahun lagi.

__ADS_1


"Apa? Diska akan pergi?" tanya Rama tak percaya.


Bersambung...


__ADS_2