
"Hei, kamu kenapa?" tanya Diska pada Rama saat melihat pemuda Desa itu tengah melamun.
"Hah?" Rama tersentak dari lamunannya saat mendengar pertanyaan Diska.
"Kamu kenapa melamun?" Diska kembali mengulangi pertanyaannya.
"Mhm, tidak apa-apa. Aku hanya teringat kejadian kecelakaan tadi siang, kecelakaan itu terjadi tepat di depan mataku. jika aku tidak sempat menginjak rem maka akulah yang akan menjadi korban kecelakaan tersebut," jawab Rama jujur.
"Apa?" pekik Diska sambil menutup mulutnya tidak percaya.
Kini ada rasa syukur yang menyelinap di hatinya setelah melihat pemuda desa yang disukainya berada di hadapannya tanpa lecet sedikitpun.
"Jika saja tadi, kak Siti tidak memanggilku maka,--" Rama menggantung ucapannya.
Diska terdiam mendengar ucapan Rama.
"Alhamdulillah, kamu saat ini baik-baik saja," ujar Diska menatap dalam pada wajah tampan pria Desa itu.
Sesaat pandangan mereka bertemu dan tertaut menyelami rasa yang ada di dalam hati mereka.
Tanpa mereka sadari wajah mereka kini telah berada di jarak yang sangat dekat. Rama melirik bibir tipis milik gadis kota itu, angannya kini melayang meraup bibir itu dan memberikan nikmat pengungkap rasa yang ada di dalam hati mereka.
"Maaf," lirih suami pasien Diska saat melihat mereka.
Pria itu langsung melangkah meninggalkan mereka.
"Eh," lirih Rama.
Diska menundukkan kepalanya menahan rasa malu yang kini membucah di dadanya. Wajahnya seketika berubah merah merona.
Dia insan itu kini menyimpan malu yang ada di hati mereka masing-masing.
"Dis, kamu udah makan?" tanya Rama mengalihkan pembicaraan.
"Mhm, belum," jawab Diska.
Sejak tadi Diska tidak teringat makan sedikit pun karena pikirannya yang kacau memikirkan keadaan Rama yang tak kunjung datang.
"Ayo, kita makan," ajak Rama pada Diska.
"Hah? Makan? Di mana?" tanya Diska.
"Ayo, ikut aja." Rama menarik tangan Diska dan membawanya keluar dari kawasan Puskesmas.
Mau tak mau Diska mengikuti langkah Rama. Diska menatap tangannya yang kini digenggam erat oleh sang pemuda desa.
"Kamu mau naik sepeda motor atau jalan kaki?" tanya Rama pada Diska saat mereka sudah sampai di parkiran Puskesmas.
"Emangnya, tempatnya di mana?" tanya Diska pada Rama.
__ADS_1
"Mhm, kamu mau makan apa?" tanya Rama sebelum menjawab pertanyaan Diska.
"Mhm, adanya apa aja?" tanya Diska lagi.
"Mhm, kalau kamu mau makan nasi rumah makan ada, selain nasi ada bakso, mie ayam, dan sate," jawab Rama.
"Kamu mau makan apa?" Riska menanyakan selera Rama saat ini.
"kalau aku sih terserah kamu, kamu mau makan apa, aku ikut aja," jawab Rama.
"Mhm, Ya udah kalau gitu kita makan sate aja," jawab Diska.
"kalau mau makan sate tempatnya tidak terlalu jauh dari sini, gimana mau jalan kaki atau naik sepeda motor?" tanya Rama.
Rama berharap Diska mau berjalan kaki agar mereka dapat menikmati indahnya malam yang dihiasi langit berbintang.
"Ya udah kalau gitu kita jalan kaki aja, sekalian aku ingin tahu suasana malam di daerah Silaping ini." Diska tersenyum.
"Ya udah kalau gitu, yuk jalan," ajak Rama lagi dia menarik tangan Diska.
Sepanjang jalan Rama menggenggam erat tangan gadis kota itu, seakan dia tidak ingin melepaskan sang gadis ke mana pun.
Diska menikmati genggaman tangan sang Pemuda desa sedikitpun dia tidak ingin protes terhadap perlakuan Rama terhadapnya.
"Dis," panggil Rama saat mereka melangkah menyusuri jalan dalam diam.
"Mhm," gumam Diska menanggapi ucapan Rama.
"Mhm, tidak pernah, selama ini kalau aku keluar malam selalu bersama kedua orang tuaku, itupun kami cuma pergi makan malam atau ke mall," jawab Diska.
"Jadi, aku pria pertama yang mengajakmu keluar pada malam hari?" ujar Rama mulai menggoda si Diska.
Dia melirik gadis itu yang kini melangkah sambil menatap langit nan indah.
"Mungkin begitulah," jawab Diska.
Rama tersenyum mendengar jawaban Diska yang terkesan santai dan cuek.
Mereka terus berjalan hingga akhirnya mereka sampai di sebuah pondok sate sederhana, lokasinya yang tidak terlalu besar, dengan beberapa pondok lesehan yang tertata rapi membuat Diska merasa nyaman dan berselera untuk menikmati cita rasa sate di sana.
"Wah, tempatnya lumayan bagus, ya. Dan penampilannya higienis," ujar Diska setelah mereka duduk di salah satu pondok.
Tak berapa lama pelayan pondok sate datang menghampiri mereka.
"Mau pesan apa, Kak, Bang?" tanya si pelayan dengan ramah.
"Satenya 2 porsi ya, Bang," jawab Rama.
"Sate 2 porsi, minumnya?" tanya si pelayan.
__ADS_1
"Kamu mau minum apa?" tanya Rama pada Diska sebelum menjawab pertanyaan si pelayan.
"Es teh aja," jawab Diska.
"Es tehnya 2, Bang," ujar Rama pada si pelayan pria tersebut.
"Baiklah, tunggu sebentar, ya," ujar si pelayan.
Si pelayan pun melangkah menuju gerobak sate yang terpajang di depan pomdok-pondok yang berjejer di belakangnya.
"Baru tahu di sini ada pondok sate yang nyaman seperti ini," ujar Diska.
"Lagian sejak di desa kamu jarang keluar dari desa," ujar Rama menanggapi ucapan Diska.
"Ya gimana mau keluar, kalau keluar dari desa harus bermalam di sini. Aku mau menginap di mana coba?" ujar Diska.
"Ya begitulah di desa Tanjung, perjalanan dari sana ke sini melewati perkebunan yang sama sekali tidak ada penerangan sepanjang perjalanan. Bagi orang yang tidak mengenal medan akan berbahaya melintasinya." Rama menjelaskan situasi desa kelahirannya.
"Terus memang enggak ada gitu orang yang melewati jalan tersebut di malam hari?" tanya Diska penasaran.
"Bukannya tidak ada, penduduk desa Tanjung sudah terbiasa melewati jalur tersebut, tapi jika tidak berkepentingan mereka enggan melewati jalur tersebut pada malam hari," jawab Rama.
"Mhm, begitu. Jadi, aku akan tetap berada di desa kalau tidak ada hal seperti ini," gumam Diska pelan.
"Tapi, kalau kamu mau main-main ke luar desa, kamu boleh ajak aku. Jika aku memang sedang tidak sibuk aku akan bawa kamu ke mana kamu mau," ujar Rama menawarkan diri.
"Tawaran yang bagus," sahut Diska sambil tersenyum.
"Permisi," ujar si pelayan yang datang menghampiri mereka.
Mereka tersenyum. Si pelayan pun menghidangkan 2 piring sate serta 2 gelas es teh di hadapan mereka.
Diska terpukau melihat tusukan sate yang ada di piringnya.
"Silakan, Kak, Bang," ujar si pelayan sebelum dia meninggalkan Rama dan Diska.
"Terima kasih," ucap Rama.
Setelah itu si pelayan pun pergi.
"Silakan di coba, ini sate paling enak di daerah Silaping ini," ujar Rama.
"Benarkah a?" tanya Diska sambil mengangkat tusukan sate yang berisi sepotong ayam besar.
"Mhm, kenapa? Kamu kaget melihat tusukan satenya?" tanya Rama pada Diska.
"Iya, setahu aku sate itu ditusuk sepotong kecil-kecil, nah kalau ini," ujar Diska takjub.
"Sate ini terkenal dengan khas tusukan satenya, makanya pondok sate ini disebut dengan sate Balok, tusukannya berisi potongan ayam yang besar," ujar Rama menjelaskan ciri khas pondok sate yang tengah mereka kunjungi.
__ADS_1
Bersambung...