Cinta Sang Pemuda Desa

Cinta Sang Pemuda Desa
Bab 7


__ADS_3

Mendapat tatapan tajam dari Diska, Rama mendadak panik. Dia kembali berusaha menghubungi temannya, berkali-kali dia menghubungi temannya masih saja tak bisa dihubungi.


“Ada apa?” tanya uci Desmi heran melihat ekspresi Diska dan Rama.


“Ini uci, barang-barang aku belum sampai di desa ini?” jawab Diska jujur.


“Siapa yang membawa barang-barang Diska?” tanya uci Desmi menatap penuh selidik ke arah Rama.


“Si Rudi, Uci,” jawab Rama masih panik.


“Tunggu saja sebentar lagi, mungkin dia masih di perjalanan.” Uci Desmi mencoba menenangkan Diska yang terlihat hendak menerkam Rama.


Tak berapa lama, ponsel Rama berdering pertanda panggilan masuk, Rama langsung meraih ponselnya yang terletak di atas meja. Dia langsung menekan tombol hijau saat melihat nama Rudi tertera di layar ponselnya.


“Di mana kamu sekarang?” tanya Rama dengan nada sedikit tinggi.


“Masih di Silaping, ada masalah,” jawab Rudi panik.


“Masalah apa?” tanya Rama ikutan panik.


Rudi pun menjelaskan masalah yang tengah dihadapinya, saat dia berhenti sejenak di depan rumah temannya. Tiba-tiba sebuah sepeda motor datang menghampiri sepeda motor milik Rudi yang terparkir di pinggir jalan.


Penumpang sepeda motor itu mengambil koper milik Diska, lalu mereka pergi dengan melajukan sepeda motornya dengan kecepatan tinggi. Mereka membawa kabur koper besar milik Diska. Yang tinggal hanya satu tas kain kecil.


“Apa?” teriak Rama panik, membuat uci Desmi dan Diska yang mendengarkan teriakannya ikut panik.


“Lalu bagaimana sekarang?” tanya Rama pada Rudi.


“Aku nggak tahu, aku pusing memikirkannya,” jawab Rudi sudah bingung memikirkan masalah ini.


“Ya sudah, aku coba membicarakan hal ini padanya, pulanglah.” Rama menutup panggilan telponnya.


“Ada apa, Rama,” tanya uci Desmi penasaran.


Rama menghela nafasnya panjang, dia memilih duduk di kursi menenangkan pikirannya sejenak. Uci Desmi dan Diska masih menatapnya penasaran dengan apa yang telah terjadi.


“Diska,” ucap Rama memulai pembicaraan.

__ADS_1


Diska mengernyitkan dahinya bingung, menanti kata-kata yang akan keluar dari mulut Rama.


“Rudi mengalami musibah, di saat dia sedang berhenti sejenak di rumah temannya. Seseorang telah membawa kabur koper milikmu,” ujar Rama sukses membuat mata Diska membulat tak percaya.


“Ya ampun, lalu aku harus bagaimana?” pekik Diska panik.


“Apakah di sana ada barang-barang berharga?” tanya Rama mengabaikan ekspresi panik Diska.


“Semua pakaianku di dalam koper itu!” bentak Diska kesal.


“Jika di sana hanya pakaianmu, kita bisa membeli beberapa pakaian untukmu di sini,” ujar Rama memberikan solusi.


“Rama benar, jika di dalam kopermu hanya ada pakaianmu, kita bisa membelinya di sini. Di desa ini ada beberapa orang yang menjual pakaian,” ujar uci Desmi mencoba menenangkan Diska yang terlihat marah pada Rama.


“Aaah,” lenguh Diska.


Dia menyandarkan pundaknya di sandaran kursi kesal, dia sudah merasa gerah dengan pakaian yang sudah dua hari dikenakannya tanpa mandi. Mereka pun terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing.


“Rama, kamu antarkan Diska ke tempat Dian. Di sana dia bisa memilih pakaian yang cocok untuknya, masalah uangnya biar uci yang bayar!” perintah uci Desmi setelah beberapa saat mereka terdiam di ruangan itu.


“Diska, kamu pergilah dengan Rama untuk membeli pakaian yang kamu butuhkan, yang namanya musibah tak ada yang tahu.” Uci Desmi berusaha menenangkan Diska, dan berharap Diska menerima musibah yang telah menimpanya.


Rama berdiri dari duduknya, “ Yuk, kita melihat pakaian yang cocok untukmu,” ajak Rama pada Diska.


Kali ini Diska hanya mengikuti Rama, dia pun ikut berdiri dan melangkah keluar dari rumah uci Desmi. Mereka pun pergi ke rumah Dian, gadis penjual pakaian di desa Tanjung.


Seorang janda beranak satu yang mencari uang untuk kebutuhan dirinya dan anaknya dengan cara menjual pakaian di desanya.


Sesampai di rumah Dian, rumah kecil dengan warung sempit di depan rumahnya terdapat beberapa pakaian yang tergantung. Diska turun dari sepeda motor mengikuti Rama yang masuk ke dalam rumah kecil itu.


“Dian!” panggil Rama berteriak masuk ke dalam rumah Dian.


“Ya, tunggu sebentar,” teriak Dian dari dalam rumahnya.


Tak berapa lama terlihat seorang wanita berpakaian sedikit terbuka keluar dari rumah kecil itu, dia tersenyum genit menyambut kedatangan Rama.


“Rama, ada apa?” tanya wanita itu dengan ramahnya pada pemuda tampan yang selalu menjadi idola para gadis atau janda muda di desanya.

__ADS_1


“Ini, dia mau melihat pakaian,” ujar Rama sambil menunjuk ke arah Diska.


Diska hanya tersenyum, sedangkan Dian menatap Diska dari ujung kaki hingga ujung kepala, dia merasa iri melihat wanita cantik dan berpenampilan sangat elegan, walau saat ini dia terlihat sangat berantakan namun aura kecantikannya masih memancar membuat mata yang memandang selalu terpesona.


“Oh, silakan.” Dian mengajak Diska ke warung pakaiannya untuk melihat-lihat, sedangkan Rama memilih duduk di sebuah bangku panjang yang terdapat di depan rumah Dian. Dia enggan untuk menemani Diska memilih pakaian.


Dian mengeluarkan semua koleksi pakaiannya, Diska mencoba memilih pakaian yang ada di hadapannya. Bagi Diska pakaian yang ada di hadapannya saat ini jauh dari standar style dirinya.


Dengan terpaksa, Diska memilih beberapa baju tidur dan gaun yang menurutnya cocok untuk dirinya.


"Kak, pakaian dalam ada?" tanya Diska terus terang, karena saat ini dia juga membutuhkan pakaian itu untuk menutupi aset berharga yang dimilikinya.


Dengan sigap, Dian mengeluarkan semua koleksi pakaian dalam yang di milikinya. Diska memilih-milih, berkali-kali dia membolak-balikkan pakaian dalam di depannya, tak ada yang dirasa cocok untuk dirinya.


"Gak ada yang lain ya, Kak?" tanya Diska terus terang dengan wajah yang tidak menyukai beberapa pakaian di tangannya.


Dian menggelengkan kepalanya, "Gak ada, Kak," ujar Dian mulai kesal dengan tingkah Diska yang memandang remeh pada barang jualannya.


"Ya sudah, aku ambil ini aja!" seru Diska sambil menyodorkan beberapa be** dan CD yang paling mahal harganya.


Menurutnya, yang harganya lebih mahal itu artinya memiliki kualitas terbaik dari yang lainnya.


Diska mengambil 3 stel baju tidur, dua pcs gaun terbagus di warung Dian, dan beberapa pakaian dalam. Dia menyodorkan pakaian pilihannya pada Dian.


"Hitung, Kak," ujar Diska memerintah, membuat Dian menyebikkan bibirnya karena kesal.


Walau hatinya merasa kesal pada Diska, Dian tetap menghitung jumlah belanjaannya.


Sebuah ide mendadak muncul di benaknya, Dian dapat menilai bahwa wanita yang ada di hadapannya saat ini merupakan seorang gadis kota yang kaya raya.


Dia berfikir untuk mengerjai sang gadis kota.


"Berapa totalnya?" tanya Diska pada Dian.


"Semuanya berjumlah sembilan ratus enam puluh lima ribu rupiah," jawab Dian dengan seringai licik di bibirnya.


"Apa?" teriak Rama tiba-tiba muncul.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2