
Dian kaget melihat Rama, sorotan tajam mata Rama membuat Dian tak berkutik. Janda muda itu hanya bisa tersenyum cengengesan karena ketauan sedang mengerjai wanita kota itu.
“Diska, kita nggak usah belanja di sini!” seru Rama, lalu menarik tangan Diska yang masih bingung dengan sikap Rama.
“Hei, Rama! Tunggu!” teriak Dian berusaha menghentikan langkah Rama.
Rama yang merasa sangat kesal pada janda muda itu, dia tak mempedulikan panggilan Dian. Rama membawa Diska ke tempat pedagang pakaian yang lain di desa itu.
“Kamu kenapa sih?” tanya Diska meluapkan rasa kesalnya yang telah membendung dihatinya sedari tadi.
Saat ini mereka telah berada di depan sebuah rumah, yang di dalam rumah itu terdapat berbagai pakaian yang bergantungan.
“Kamu tahu janda itu telah mengerjaimu! Mana mungkin harga pakaian yang kamu pilih hampir sejuta,” jawab Rama.
“Ya mungkin saja!” ketus Diska.
Diska biasa menghabiskan uang jutaan rupiah untuk sehelai gaun, Diska merupakan seorang putri dari orang tua yang berprofesi sebagai dokter juga. Kedua orang tua Diska bekerja di rumah sakit ternama di kota Bandung. Sehingga Diska biasa hidup mewah, dia terbiasa menggunakan berbagai barang branded yang harganya setinggi langit.
“Menurut kamu mungkin, tapi nggak mungkin uci Desmi akan membayar pakaian yang kamu pilih dengan harga segitu!” bentak Rama.
Diska mengernyitkan dahinya, dia merasa kesal dengan bentakan pria desa yang sekarang sudah berani membentaknya.
“Aku takkan membebani uci Desmi membayar pakaian yang aku beli, aku sanggup untuk membayarnya sendiri!” sarkas Diska lalu berlalu masuk ke dalam rumah sederhana itu.
“Assalamu’alaikum,” ucap Diska saat dia berada di depan pintu rumah tersebut.
“Wa’alaikumsalam,” jawab seorang wanita paruh baya keluar dari kamarnya saat mendengar salam dari luar rumahnya.
Wanita itu mengernyitkan dahinya saat melihat wanita asing tengah berdiri di depan rumahnya. Dia terpana melihat sosok wanita cantik yang ada di hadapannya, rambutnya yang berantakan tak membuat pancaran mempesona sirna dari wajahnya.
“Siapa?” tanya sang wanita tua bingung.
“Mhm,--“ gumam Diska.
__ADS_1
“Dia dokter muda yang akan mengabdi di desa kita, Uci.” Rama datang menghampiri Rama dan wanita si pemilik rumah.
”Dokter muda?” wanita tua itu masih bingung, belum paham yang dikatakan oleh Rama.
“Saya Diska, Uci. Saya akan bekerja di klinik desa ini sebagai dokter.” Diska menjelaskan.
“Oh, silakan masuk!” ajak wanita tua itu pada Diska dan Rama.
“Uci, Diska baru saja mendapat musibah, koper pakaiannya dicuri orang yang tidak dikenal, saat Rudi hendak membawanya ke sini.” Rama menjelaskan maksud kedatangannya ke rumah wanita yang di panggil Rama dengan kata ‘uci’.
“Jadi, kamu mau melihat koleksi baju di sini?” tanya wanita tua itu pada Diska.
Diska dan Rama mengangguk.
“Silakan!” sang wanita tua memamerkan beberapa koleksi pakaian yang dimilikinya.
Diska mulai memilih-milih pakaian yang sesuai dengan seleranya, walaupun semua pakaian yang ada di hadapannya banyak yang tidak disukainya, dia terpaksa memilih beberapa pakaian yang ada di sana karena dia sudah merasa sangat lelah, ingin rasanya membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk miliknya.
“Ini, Uci.” Diska menyodorkan beberapa baju tidur dan gaun pada wanita paruh baya yang melayaninya dengan ramah.
Diska membuka tas selempangnya, dia mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu lalu memberikannya pada wanita tua itu.
“Gila tuh si janda, mau cari gara-gara sama gue?” bathin Diska dalam hati membenarkan perkataan Rama tadi.
“Kami permisi dulu, Uci,” sahut Rama saat mereka telah berada di luar rumah wanita tua itu.
“Iya,” seru wanita tua itu dari dalam rumahnya.
Setelah itu mereka keluar dari pekarangan rumah itu, Rama langsung mengantarkan Diska ke rumah uci Desmi agar Diska beristirahat.
Sesampai di rumah uci Desmi, Rama meninggalkan Diska di sana lalu dia pun pulang ke rumahnya. Sedangkan Diska, membersihkan diri dan makan siang lalu beristirahat di kamar sederhana yang terdapat di rumah uci Desmi.
Di desa Tanjung rumah uci Desmi tergolong rumah yang paling lengkap fasilitasnya dari pada rumah warga lainnya yang harus ke sungai untuk mandi. Oleh karena itu, dengan senang hati pak kepala desa menerima tawaran uci Desmi.
__ADS_1
******
Senja terukir indah di cakrawala barat, mengantarkan sang surya kembali ke singgasananya. Perlahan langit jingga berganti gelap seiring suara azan maghrib menggema dari speaker mesjid satu-satunya di desa.
Satu bulan telah berlalu begitu saja, Diska mulai beradaptasi dengan lingkungannya. Diska tengah melangkahkan kakinya menuju mesjid bersama wanita paruh baya yang menjadi sahabatnya sekaligus ibu baginya di daerah asing yang di tempatinya saat ini.
Perlahan tapi pasti, uci Desmi selalu mengajak Diska untuk melakukan ibadah shalat. Mereka selalu melaksanakan shalat maghrib dan isya berjamaah di mesjid desa. Letak mesjid lumayan jauh dari rumah uci Desmi sehingga mereka memilih untuk berbaur dengan masyarakat sambil menunggu masuknya waktu isya.
Tanpa di sadari Diska, dia mulai peduli dengan agama. Paling tidak dia tidak lagi meninggalkan kewajibannya sebagai seorang muslim yaitu menunaikan ibadah shalat lima waktu sehari semalam.
“Kak, bang Syamsul udah 3 hari sakit,” ujar salah satu warga pada uci Desmi.
“Benarkah? Kenapa kasih kabar sekarang?” tanya uci Desmi, merasa sedih dan khawatir.
Bang Syamsul adalah satu-satunya saudara jauh yang dimiliki uci Desmi. Walau ikatan darah di antara mereka sangat jauh, tapi persaudaraan yang mereka bina sejak masih muda membuat mereka menjadi sangat dekat.
“Aku udah coba cari kakak ke rumah, tapi beberapa hari ini kakak sibuk ke kebun deh,” jawab wanita yang sedikit lebih muda dari uci Desmi.
“Terus sekarang bang Syamsul udah gimana, Ros?” tanya uci Desmi semakin khawatir.
“Bang Syamsul semakin parah sakitnya kak, dia minta saya kasih tahu kondisinya sama kakak,” tambah wanita yang di panggil Rosma oleh uci Desmi.
“Ya ampun, aku harus ke sana sekarang juga.”
“Diska, uci mau pergi ke rumah bang Syamsul, kamu bisa pulang sendiri dulu kan?” tanya uci Desmi menyuruh Diska pulang sendiri, dia tidak enak membawa Diska ke rumah bg Syamsul karena rumahnya lumayan jauh dari mesjid.
Uci Desmi tahu, Diska saat ini sudah merasakan sangat lelah karena pekerjaannya yang padat setiap hari di tambah hari ini banyak pasien yang datang ke klinik hingga dia terlambat pulang.
“Iya, Uci. Diska pulang sendiri aja!” ucap Diska dengan senyum ramahnya.
“Ya udah, uci pergi dulu ya,” ujar uci Desmi lalu dia pun berlalu bersama wanita yang bernama Rosma.
Diska pun melangkah menuju rumah uci Desmi sendirian, di saat Diska sedang berjalan di pinggir jalan yang terlihat sangat sepi.
__ADS_1
“Aaaaaa!” pekik Diska ketakutan.
bersambung...