
Mereka kembali asyik mengobrol saling bercerita masa lalu serta kehidupan mereka masing-masing sehingga mereka saling mengenal lebih jauh.
Setelah bosan duduk di kafe, mereka melangkah menyusuri pantai, mereka kembali berfoto-foto ria mengabadikan kenangan mereka.
"Habis ini kita mau ke mana?" tanya Diska pada Rama.
"Mhm, kamu mau ke mana?" tanya Rama pada Diska.
"Mana aku tahu, aku bukan orang sini mana tahu tempat yang bagus di sini," jawab Diska.
"Hehe," kekeh Rama.
"Aku juga tidak tahu mau ke mana lagi, di daerah sini memang tidak terlalu banyak tempat-tempat wisatanya, kalaupun itu ada jaraknya memang jauh- jauh, jadi dalam satu hari kita hanya bisa mengunjungi 2 tempat saja," ujar Rama.
"Mhm, kamu udah bawa aku ke sini aja, aku sudah sangat bahagia," ujar Diska.
"Alhamdulillah, kalau kamu senang. Kebahagiaanmu sudah menjadi kebahagiaan dalam hidupku," lirih Rama.
"Hah? Maksud kamu apa?" tanya Diska berharap Rama mengungkapkan rasa yang ada di hatinya.
"Mhm," gumam Rama.
Rama menghentikan langkahnya. Dia menghadap pada si gadis pujaan hatinya.
"Dis, entah mengapa bagiku saat ini senyumanmu adalah semangat dalam hidupku," ujar Rama jujur.
"Maksud kamu apa?" tanya Diska lagi.
"Mhm, aku akan bahagia jika kamu bahagia," lirih Rama.
Rama tidak berani menyatakan cintanya, dia hanya mengungkapkan rasa itu dengan sebuah ungkapan. Dia berharap Diska mengerti dengan perasaan yang ada di hatinya saat ini.
Melihat Diska yang hanya diam, akhirnya Rama kembali melangkah, tiba-tiba Diska menghentikan langkah Rama.
"Terima kasih atas semuanya, bagiku kebahagiaanmu juga akan menjadi kebahagiaanku. Setiap kali aku berada di dekatmu, aku merasa sangat nyaman dan terlindungi. Kamu adalah satu-satunya pria yang telah memberikan kenyamanan dalam hidupku setelah papaku," tutur Diska dengan jujur.
Rama terdiam sejenak, dia pun menarik Diska hingga gadis itu jatuh dalam pelukannya.
"Bersamamu aku bahagia," bisik Rama.
Mereka pun berpelukan meluapkan rasa bahagia dan cinta yang saat ini mereka rasakan.
****
Saat azan ashar berkumandang, Rama dan Diska pun bersiap-siap untuk kembali pulang, sebelum mereka melanjutkan perjalanan kembali ke desa Tanjung, mereka berhenti di sebuah mesjid untuk menunaikan shalat ashar.
Perjalanan mereka lanjutkan setelah selesai menunaikan kewajiban mereka sebagai seorang muslim.
"Dis, gimana kalau kita makan bakso dulu, di sini terkenal dengan bakso yang enak," tawar Rama pada Diska saat mereka berada di daerah Air Balam.
__ADS_1
"Boleh," jawab Diska setuju.
Rama menghentikan sepeda motornya tepat di depan pondok bakso. Mereka turun dari sepeda motor lalu masuk ke dalam pondok bakso tersebut.
Rama memesan 2 mangku bakso untuk mereka d Ngan minuman teh es seperti biasa mereka memang lebih suka minum teh es daripada minuman yang lainnya.
Tak berapa lama mereka duduk, seorang pelayan mengantarkan 2 mangkuk bakso dan 2 gelas teh es ke meja yang mereka tempati.
"Bagaimana enak?" tanya Rama pada Diska setelah Diska mencicipi bakso yang ada di mangkuk miliknya.
"Iya, enak," jawab Diska.
"Bakso ini sudah terkenal hingga perbatasan Sumatera Utara, siapapun yang melintasi daerah sini mereka akan menyesal jika tidak dapat mampir menikmati bakso ini," ujar Rama memberitahukan kebiasaan orang-orang yang sangat mempopulerkan bakso Simpang Air Balam itu.
"Benarkah?" tanya Diska pada Rama takjub.
"Iya, karena di daerah sini jarang orang yang menjual bakso dengan cita rasa yang pas seperti bakso ini," ujar Rama lagi.
"Oh, begitu. Aku suka baksonya. Nanti kita pesan 1 bungkus untuk Uci Desmi, ya," pinta Diska pada Rama.
"Kamu tenang saja," ujar Rama.
Rama memanggil pelayan dan meminta 2 porsi bakso untuk dibungkus.
"Lho, kenapa 2?" tanya Diska heran.
"Oh, iya ya," lirih Diska.
Tak banyak cerita, Diska dan Rama menikmati semangkuk bakso yang ada di hadapan mereka.
Setelah selesai menikmati bakso, mereka pun kembali ke desa. mereka benar-benar merasa lelah setelah melakukan perjalanan yang jauh selama satu hari.
Mereka sampai di desa saat waktu Maghrib sudah masuk.
Rama menghentikan sepeda motornya setelah sampai di depan pekarangan rumah Uci Desmi.
"Setelah ini, kamu mandilah dengan air hangat supaya lelahnya hilang dan kamu akan tidur dengan nyenyak," ujar Rama sebelum dia pergi.
"Iya, terima kasih buat hari ini, aku senang bisa pergi denganmu," ujar Diska.
Rama tersenyum, dia mengelus lembut pipi Diska.
"Setelah ini, beristirahatlah dan jangan lupa mimpikan aku," bisik Rama.
Diska tersipu, dia menundukkan wajahnya yang kini sudah berubah warna. Pipinya memerah menahan malu.
Rama mengangkat dagu gadis kota itu, hingga kini Diska dapat melihat dengan jelas wajah tampan Rama yang melemparkan senyuman.
"Aku pulang dulu, ya," ujar Rama pamit pada Diska.
__ADS_1
Diska mengangguk.
"Masuklah, aku akan pergi setelah kamu masuk ke dalam rumah," ujar Rama.
Diska pun mengangguk lalu melangkah masuk ke dalam rumah, sesampai di pintu rumah, Diska menatapi Rama yang berangsur pergi.
Diska menutup pintu rumah, dia tersenyum dengan bahagia.
"Kamu udah pulang, Dis?" tanya Uci Desmi yang baru saja selesai shalat maghrib.
"Uci," lirih Diska kaget.
Sejak tadi Diska berpikir bahwa Uci Desmi tengah pergi shalat di mesjid. Dia merasa malu kedapatan tersenyum sendiri.
"Aduh, bahagianya yang jalan sama pujaan hatinya," goda Uci Desmi.
"Hehe." Diska hanya bisa terkekeh menahan malu.
"Uci senang kalau kalian sudah jadian," ujar Uci Desmi.
"Ah, Uci. Dia tidak menyatakan cintanya, dia hany bilang kalau dia bahagia jika aku bahagia," ujar Diska.
"Itu artinya dia sudah menyatakan isi hatinya padamu," ujar Uci Desmi.
"Ya udah, sana mandi dulu, Uci sudah panaskan air tadi sore, kamu mandi pakai air panas, ya. Air panasnya di dalam termos," ujar Uci Desmi.
"Baik, Uci. Terima kasih," ucap Diska.
Diska pun melangkah masuk kamar dan siap-siap untuk membersihkan tubuhnya.
****
Hari ini Diska akan berangkat ke kota Padang. Dia sudah meminta Rudi untuk mengantarkannya ke Silaping sore nanti.
Sesuai kesepakatan Diska dan Gina, mereka akan berangkat malam hari. Jadi, mereka dapat mempersiapkan diri dan tidak tergesa-gesa di pagi hari, karena bus menuju kota Padang berangkat jam 7.00 dari Silaping.
Sebelum berangkat Diska masih dapat berleha-leha, setelah selesai sarapan Diska dan Uci Desmi duduk di teras rumah sambil bercerita.
Mereka bercerita tentang berbagai hal, dua wanita beda generasi itu terlihat sangat seru mengobrol entah membahas tentang apa.
"Uci, aku siap-siap dulu. Bentar lagi dzuhur, tadi aku minta Rudi antar aku setelah shalat ashar," ujar Diska.
Diska sengaja berangkat lebih awal dari desa agar Rudi tidak kemalaman saat kembali ke desa nantinya.
"Oh, ya udah kalau gitu," ujar Uci Desmi.
Diska melangkah masuk ke dalam kamar, dia bersiap-siap sejenak, tanpa disadarinya dia sudah tertidur dengan pulas di tumpukan pakaian yang akan dimasukkan ke dalam travel bag miliknya.
Bersambung...
__ADS_1