
“Hah?” Diska seolah merasa keberatan jika Rama kembali ke desa terlebih dahulu.
Melihat ekspresi Diska, Rama tersenyum.
Dia tahu bahwa gadis kota itu membutuhkan dirinya, dan jelas sudah terpancar di wajah cantiknya, dia keberatan ditinggal oleh pemuda desa tampan itu.
“Aku akan datang kembali dengan menggunakan sepeda motor,” ujar Rama.
“Kamu serius?” tanya Diska sumringah.
Seakan Diska benar-benar berharap dengan keberadaan Rama di sampingnya saat ini menemani ikut menginap di Puskesmas.
Tanpa disadarinya, Diska sudah menunjukkan arti keberadaan Rama dalam hidupnya, Rama tersenyum melihat ekspresi gadis yang dikaguminya itu.
“Iya, aku akan datang untuk kamu,” ujar Rama.
Hati Diska berbunga-bunga saat Rama mengucapkan kata-kata itu, membuat jantungnya berdetak begitu cepat, ada sesuatu yang membuat dirinya bahagia.
Dua insan itu belum mengungkapkan isi hati mereka, tapi mereka sudah merasa terpaut satu sama lainnya.
__ADS_1
“Ya udah, kamu hati-hati. Aku tunggu kamu di sini,” ujar Diska pada Rama penuh harap.
Rama sangat senang melihat gadis yang dikaguminya sangat mengharapkan keberadaannya di sisinya. Dia mengangguk lalu berlalu meninggalkan Diska.
Dengan berat hati Diska membiarkan Rama kembali ke Desa. Diska duduk di bangku tunggu Puskesmas karena dia bosan berada di dalam ruang perawatan.
Saat sore datang, Rama belum kunjung juga datang, Diska mulai resah memikirkan keadaan Rama, dia merasa sudah terlalu lama Rama pergi dan hingga saat ini belum ada kabar sama sekali.
Diska pun menghubungi Rudi, dia ingin menanyakan keberadaan Rama saat ini.
“Halo,” ujar Rudi dari seberang sana saat panggilan sudah tersambung.
“Hah? Rama? Bukannya dia tadi pergi ke Silaping? Katanya dia mau nyamperin kamu, katanya dia mau temani kamu menunggui ibu-ibu yang baru melahirkan tadi,” jawab Rudi.
“Tapi, dari tadi dia belum sampai,” balas Diska.
"Aku juga kurang tahu, Dia. Atau kamu mau coba hubungi dia langsung? Aku kirimkan nomor ponselnya, ya?" tawar Rudi pada Diska.
"Oh, ya udah kalau gitu. Terima kasih ya, Rud." Diska pun memutuskan panggilan dengan Rudi.
__ADS_1
Tak berapa lama panggilan terputus, pons l Diska berdering pertanda pesan masuk dari Rudi.
Rudi mengiriminya nomor ponsel sang sahabat. Diska membuka pesan tersebut, dia melihat beberapa angka yang tertera dilayar ponselnya.
Diska hanya memandangi deretan angka yang ada di ponselnya, dia enggan menghubungi Rama.
Dia hanya terpana melihat deretan angka tersebut, entah mengapa dia ragu untuk menghubungi Rama walau saat ini dia sedang mengkhawatirkan keadaan si pria desa tampan itu.
Dua orang wanita di hadapan Diska berbincang-bincang, dia mulai tertarik saat mendengar obrolan mereka.
“Tadi ada kecelakaan, di persimpangan jalan sana. Korban langsung dilarikan ke rumah sakit Simpang Empat,” ujar salah seorang wanita yang baru saja duduk di kursi panjang di depan Diska.
“Kasihan, lho. Masih muda, katanya dia dari desa Tanjung," ujar wanita lainnya menanggapi ucapan temannya.
Terdengar dua orang ibu-ibu tengah berbicara mengenai kecelakaan yang terjadi tadi siang.
Jantung Diska langsung berdetak dengan kencang saat si ibu-ibu itu mengatakan bahwa korban kecelakaan berasal dari desa Tanjung.
Dia takut terjadi apa-apa dengan Rama. Rasa khawatir akan keselamatan Rama semakin bertambah.
__ADS_1
Bersambung…