
Saking asyiknya Diska mengobrol di telepon bersama seseorang di seberang sana, dia tidak menyadari keberadaan Rama yang sudah berdiri di hadapannya.
"Ya udah, kalau gitu kita lanjutkan ngobrolnya kapan-kapan ya, Ma. Aku mau pulang terlebih dahulu," ujar Diska saat dia telah menyadari keberadaan Rama.
"Maaf, sudah membuatmu menunggu," ujar Diska pada Rama yang kini sudah duduk di sampingnya.
"Tidak apa-apa," lirih Rama singkat.
Entah mengapa mood Rama hilang begitu saja saat melihat Diska asyik mengobrol dengan seseorang yang diperkirakannya seorang laki-laki.
"Tadi, aku menelepon Mama, dan kebetulan ada teman lamaku bersamanya," ujar Diska pada Rama menjelaskan.
Diska merasa Rama sudah salah paham dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Oh," lirih Rama.
"Yuk, kita pulang," ajak Rama.
"Ya udah, yuk," ujar Diska.
Diska merasa tidak enak dengan sikap dingin Rama.
"Apakah Rama sempat mendengar pembicaraanku dengan Rezi tadi? Apakah dia cemburu?" gumam Diska di dalam hati.
Rama berdiri dan melangkah menuju sepeda motornya yang telah terparkir di depan klinik desa. begitu juga dengan Diska, dia pun berdiri dan melangkah mengikuti Rama.
Rama menaiki sepeda motornya lalu menyalakannya, setelah itu Diska pun naik ke atas sepeda motor tersebut.
Tanpa memastikan Diska duduk dengan nyaman di sepeda motornya, dia langsung melajukan sepeda motornya.
"Auw," pekik Diska dan langsung memeluk pinggang Rama karena dia hampir saja jatuh dari sepeda motor tersebut.
Seketika Rama pun menghentikan sepeda motornya.
"Maaf," lirih Rama.
"Apakah kamu sudah siap?" tanya Rama pada Diska.
"Sudah," jawab Diska.
Setelah itu, Rama pun melajukan sepeda motornya. Sepanjang perjalanan tak ada pembicaraan yang terjadi di antara mereka berdua.
Rasa kesal, cemburu, dan bersalah kini mulai menggelayuti hati si Pemuda desa tersebut.
Rama kesal karena dirinya tidak bisa berbuat apa-apa di saat wanita yang disukainya sudah memiliki seseorang yang lebih berarti dalam hidupnya daripada dirinya.
Dia cemburu karena rasa cinta yang kini sudah tumbuh di hatinya semakin mendalam.
__ADS_1
Dia merasa bersalah dengan sikap yang sudah dilakukannya terhadap Diska, tak seharusnya dia melampiaskan kekesalannya pada gadis kota itu.
Rama menghentikan sepeda motornya tepat di depan pekarangan rumah Uci Desmi.
Diska pun turun dari sepeda motor milik Rama dia bingung dengan sikap pemuda desa tersebut. Entah mengapa sikap ramah terlihat sedang kesal terhadap dirinya.
"Ram, terima kasih kamu sudah mau mengantarkanku. aku minta maaf apabila ada kesalahanku yang sudah membuat kamu kesal," ujar Diska sebelum Rama kembali melajukan sepeda motornya meninggalkan kediaman Uci Desmi.
"Iya," jawab Rama singkat.
Sang Pemuda Desa itu mulai melajukan sepeda motornya meninggalkan Diska yang masih terdiam berdiri menatap punggung Rama hingga hilang di persimpangan jalan.
"Au ah gelap." Diska mengangkat bahunya.
Dia berusaha untuk menganggap tidak terjadi apa-apa di antara dirinya dengan Rama.
Gadis itu melangkah masuk ke dalam rumah. Dia pun langsung bersiap-siap untuk membersihkan diri di kamar mandi sementara itu Uci desmi terlihat tengah menjahit.
Wanita paruh baya itu memang sudah terbiasa mengisi hari-harinya dengan menjahit atau memasak.
"Kamu ada apa, Nak?" tanya Uci Desmi penasaran melihat Diska yang pulang dengan wajah cemberut.
Diska yang sudah menyandang handuk di pundaknya pun menoleh pada Uci Desmi, dia melangkah dan duduk di samping wanita paruh baya itu.
Seketika Uci Desmi menghentikan kegiatan menjahitnya, dia menatap sang gadis kota dan menunggu gadis itu berbicara.
"Enggak tahu, tuh. Tiba-tiba si Rama ketus sama aku, kayak marah begitu. Aku sendiri enggak tahu salah apa," ujar Diska mengungkap alasan hatinya yang ikut kesal pada Rama.
"Mungkin saja dia sedang ada masalah di pekerjaannya, jadi moodnya hilang." Uci Desmi berusaha menghibur Diska.
"Tapi, aku kesal saja, Uci. Kenapa dia melampiaskannya padaku, ya kalau aku ada salah paling tidak dia ngomong," lirih Diska bersedih hati mengingat sikap Rama tadi.
"Udah, nanti kalau Uci ketemu Rama, biar Uci yang nasehati dia," ujar Uci Desmi.
"Iya, Uci. Terima kasih, Uci memang wanita paling baik," ujar Diska tersenyum.
Uci Desmi hanya tersenyum mendengar ucapan Diska.
"Ya udah Diska mandi dulu ya, Uci," ujar Diska hendak berdiri.
Tiba-tiba terdengar pengumuman dari mesjid.
"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un," lirih Uci Desmi setelah pengumuman itu selesai.
Diska kembali duduk di samping Uci Desmi.
"Siapa yang meninggal, Uci?" tanya Diska penasaran.
__ADS_1
"Si Roni, itu lho korban kecelakaan tempo hari," jawab Uci Desmi.
"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un," lirih Diska.
"Memang saat pulang dari rumah sakit dia sudah baikan, tapi kemarin kabarnya ada pembekuan darah di kepalanya yang tidak terdeteksi dokter saat itu," ujar Uci Desmi memberitahukan berita yang beredar di desanya.
"Ya ampun, kalau ajal kita tidak tahu kapan datang dan penyebabnya ya, Uci," lirih Diska.
"Iya, Nak. Makanya kamu harus rajin shalat, dan rajin-rajin ikut pengajian," nasehat Uci Desmi pada gadis kota itu.
"Iya, Uci." Diska mengangguk.
"Ya udah, aku mandi dulu, udah gerah, Ci," ujar Diska.
Gadis itu melangkah menuju kamarnya mandi, seharian berada di klinik dengan pakaian dinas membuat dia merasa gerah dan tubuhnya terasa lengket.
Setelah shalat maghrib, Diska dan Uci Desmi langsung makan malam bersama di ruang makan.
"Dis, nanti setelah ini kita shalat isya di mesjid lalu mampir takziah ke rumah duka, ya," ujar Uci Desmi di sela-sela makan mereka.
"Baiklah, Uci," ujar Diska.
Setelah selesai makan malam, mereka pun bersiap-siap untuk shalat isya di mesjid sekaligus membawa tas kecil yang berisikan beras yang akan dibawa ke rumah duka.
Begitulah kebiasaan penduduk desa Tanjung, mereka akan membawa beras ala kadarnya sebagai tanda mereka juga ikut berduka dalam musibah yang ditimpa oleh ahli duka.
Mereka melangkah menuju mesjid, setiap hari Uci Desmi rutin shalat maghrib dan isya berjamaah di mesjid. Dia berangkat ke mesjid dengan berjalan kaki.
"Assalamu'alaikum, Uci," sapa Rama tiba-tiba keluar dari sebuah warung yang dilewati Uci Desmi dan Diska.
"Wa'alaikummussalam," jawab Uci Desmi.
Diska menoleh sejenak pada pria yang sudah membuat dirinya galau.
"Mau ke mesjid, Ci?" tanya Rama pada Uci Desmi sekadar berbasa-basi.
"Iya, Nak. Sekalian setelah itu kami mau ke rumah Roni," jawab Uci Desmi.
"Bisa dong, barengan. Aku juga belum ke sana. Habis shalat isya rencananya mampir ke sana," ujar Rama.
"Iya, boleh," ujar Uci Desmi.
Diska hanya diam saja, dia enggan ikut mengobrol dengan Rama dan Uci Desmi, terlebih keduanya sudah menggunakan bahasa daerah yang sama sekali tidak dipahaminya.
Sesampai di mesjid mereka langsung masuk ke dalam mesjid lalu menunaikan shalat sunat qobliyah, setelah itu Diska duduk sambil berzikir menunggu iqamah.
Saat shalat dimulai, Rama berdiri menjadi imam dalam menunaikan ibadah shalat isya berjamaah tersebut.
__ADS_1
Diska terpaku saat mendengar lantunan ayat-ayat shalat yang dibacakan oleh Rama. Baru kali ini Diska shalat berjamaah yang diimami oleh sang pujaan hati.
Bersambung…