
"Ya udah, yuk kita lanjut cari." Rudi kembali melanjutkan langkahnya diikuti oleh Rama.
"Oh, iya. Apa sebaiknya kita bilang sama Uci Desmi untuk memberitahukan warga , dan kita bisa dibantu warga untuk mencarinya," ujar Rama memberi ide.
"Ide yang bagus, coba kamu telpon Uci Desmi lagi," ujar Rudi pada sahabatnya.
Rama kembali menghubungi Uci Desmi dengan ponsel butut miliknya.
"Halo," ujar Uci Desmi di seberang sana masih kesal pada Rama.
"Uci, kami mau minta tolong memberitahukan pada kepala desa bahwa Diska hilang dan meminta beliau meminta beberapa orang warga untuk mencari Diska," pinta Rama pada wanita paruh baya itu.
"Baiklah," lirihnya tak bersemangat.
Hati Uci Desmi kini sangat kacau, bayang-bayang gadis kota itu diterkam harimau atau dipatuk ular terus saja melintas dibenaknya.
Wanita paruh baya itu langsung melangkah menuju rumah kepala desa.
"Assalamu'alaikum," ucap Uci Desmi setelah dia berada di depan rumah kepala Desa.
"Wa'alaikummussalam," jawab Annisa dari dalam rumah.
"Siapa, ya yang datang pagi-pagi sekali?" gumam Annisa sambil melangkah menuju pintu.
"Oh, Uci. Ada apa?" tanya Annisa langsung.
"Pak Kepala Desa, ada?" tanya Uci Desmi.
"Bapak, masih di kamar mandi, Uci. Silakan masuk dulu," ujar Annisa meminta Uci Desmi untuk masuk.
Annisa mempersilakan wanita paruh baya itu untuk duduk di sofa ruang tamu.
"Tunggu sebentar, Uci." Annisa meninggalkan Uci Desmi di ruang tamu lalu gadis itu melangkah masuk ke dalam.
Dia memanggil ibunya lalu memberitahukan kedatangan Uci Desmi pada ibunya yang sedang memasak
"Ya udah, kamu lanjutkan goreng ikannya, Ibu liat bapak di kamar dulu," ujar Ibu Annisa pada putrinya.
"Iya, Bu." Annisa langsung menggantikan pekerjaan ibunya.
Ibu Yuyun pun melangkah masuk ke dalam kamarnya, dia memberitahukan kedatangan Uci Desmi pada sang suami.
__ADS_1
"Ada apa, Kak Desmi datang pagi-pagi sekali?" tanya Pak Didin sang kepala Desa.
"Aku juga enggak tahu, Pak," ujar sang istri sambil mengangkat bahunya.
"Ya udah, sebentar lagi aku keluar, tolong kamu temani dia di ruang tamu," ujar Pak Didin.
"Iya, Pak." Bu Yuyun langsung melangkah keluar.
Dia mengajak wanita paruh baya itu mengobrol sekadar berbasa-basi sambil menunggu sang suami keluar dari kamarnya.
Tak berapa lama setelah itu, pak Didin keluar dari kamar. Dia langsung melangkah menuju ruang tamu untuk menemui Uci Desmi.
"Ada apa, Kak?" tanya Pak Didin pada Uci Desmi setelah duduk berhadapan dengan wanita paruh baya itu.
"Begini, Pak. Diska hilang," ujar Uci Desmi memberitahukan perihal Diska yang tidak pulang sejak kemarin sore.
"Hilang? Maksud Kakak apa?" tanya Pak Didin.
"Kemarin sore dia pergi ke pinggir sungai dekat kebun di Anwar bersama Rama, dan Rama tidak menyadari kalau Diska pulang lebih awal, dan menurut Rama, kemungkinan besar Diska nyasar di hutan," ujar Uci Desmi menceritakan hal yang terjadi.
"Astagfirullah," lirih pak Didin ikut panik.
"Diska sama Rama ngapain ke sana?" tanya Annisa tiba-tiba datang sambil membawakan teh untuk Uci Desmi.
Dia tidak mau menyembunyikan kedekatan Rama dan Diska agar tidak terjadi fitnah.
"Masalah apa? Jangan-jangan dia mau mengincar Rama, secara Rama kan pemuda yang disukai semua gadis yang ada di desa ini," ujar Annisa tidak bisa mengontrol diri.
Dia merasa kesal saat mengetahui Rama dan Diska berduaan ke pinggir sungai. Dia mengambil kesimpulan bahwa gadis kota itu memiliki hubungan khusus dengan Rama, si pemuda desa yang selama ini diincarnya.
"Biarlah, Kak. Aku akan menyuruh
beberapa orang warga untuk mencari dokter muda itu," ujar Pak Didin menanggapi pengaduan Uci Desmi.
"Terima kasih, Pak. Saya harap Diska cepat ditemukan karena saya sangat mengkhawatirkannya, Saya sudah menganggap gadis kota itu sebagai putri saya sendiri, Pak," ujar Desmi penuh harap.
"Iya Kak. kami akan berusaha sebaik mungkin," ujar Pak Didin.
Setelah Uci Desmi pun pamit pulang, dia kembali ke rumahnya.
"Pak, sepertinya Bang Rama sama dokter muda yang sombong itu memiliki hubungan khusus," ujar Annisa pada ayahnya setelah kepergian Uci Desmi.
__ADS_1
"Mana mungkin gadis kota yang cantik itu mau sama pemuda miskin seperti Rama," ujar Pak Didin.
"Ish, bapak. Walaupun Bang Rama itu miskin tapi dia baik dan pekerja keras," ujar Annisa membela pria idamannya.
"Iya, bapak tahu itu." Pak Didin berdiri lalu bersiap-siap untuk berangkat ke kantor kepala desa.
"Pak," panggil Annisa sambil merengek.
"Mhm," gumam Pak Didin.
"Pak tidak lupakan dengan rencana akan menjodohkan bang Rama denganku?" ujar Annisa menagih janji ayahnya.
"Iya, kamu tenang aja, Rama tidak akan mungkin menolak permintaan bapak," sahut Pak Didin dengan penuh percaya diri.
"Tapi, Pak. Kalau kelamaan, bisa-bisa Rama naksir sama dokter muda itu," bantah Annisa terus saja merengek.
"Iya, secepatnya bapak akan membahas hal ini sama Rama," ujar Pak Didin.
Dia pun keluar dari rumah, lalu Pak Didin pun menaiki sepeda motornya lalu melajukannya menuju kantor Kepala Desa.
Setelah itu, pak kepala desa memerintahkan bawahannya untuk meminta 10 orang warga mencari keberadaan Diska.
Pak Didin juga takut dituntut oleh keluarga Diska atau pemerintah atas hilangnya dokter muda yang bertugas di daerahnya.
Siang pun mulai terik, matahari semakin memancarkan panas sehingga membuat dua pria yang sejak tadi berjalan menyusuri hutan merasa sudah sangat lelah.
Mereka yang sejak kemarin malam belum mengisi perut mereka mulai tak sanggup melangkah.
"Ram, sudah setengah 11. Aku lapar dan haus," ujar Rudi mulai putus asa.
Mereka hanya membawa tombak dan parang sebagai senjata, sedikitpun mereka tidak membawa bekal apa pun.
"Rud, kita tidak mungkin berhenti mencari Diska. Aku tak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan nantinya," ujar Rama.
"Aku tahu, Rud. Tapi, sejak kemarin malam kita belum mengisi perut kita," ujar Rudi terus terang karena saat ini cacing-cacing di dalam perutnya sudah berdemo.
"Eh, itu ada warga yang sedang di kebunnya. Kita bisa mengisi perut kita dengan apa saja," ujar Rama memberi usul saat melihat sebuah kebun yang terlihat ada kepulan asap yang menandakan ada orang di sana.
Mereka pun melangkah menuju sebidang lahan yang digarap, di sana terlihat si petani tengah menanam padi ladang.
"Permisi," teriak Rudi dan Rama setelah berada di lahan tanah tersebut.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya seorang pria yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.
Bersambung...