Cinta Sang Pemuda Desa

Cinta Sang Pemuda Desa
Bab 50


__ADS_3

Sejak hari itu Diska memang tidak ingin bertemu dengan Rama, dia memilih untuk menjalani hidupnya tanpa adanya Rama dalam kesehariannya.


Meskipun kenangan indah bersama Rama membuat dia kembali merasakan sakit, Diska terus berusaha untuk melupakan Rama dalam hidupnya.


Sore ini, Rudi terlambat menjemput Diska di klinik. Akhirnya dia duduk seorang diri di depan klinik, tak berapa lama Annisa melintasi jalan di depan klinik.


Annisa tidak sengaja melihat Diska sedang duduk di depan klinik desa, dia menghentikan sepeda motornya lalu menghampiri gadis kota itu.


"Hai, Diska. Bagaimana kabarmu?" tanya Annisa.


Putri kepala desa itu pun duduk di samping Diska, di sebuah bangku panjang yang ada di depan klinik desa.


Diska tersenyum pada Annisa.


"Alhamdulillah, aku baik. Kamu bagaimana kabarnya?" tanya Diska pada Putri kepala desa sekadar berbasa-basi.


"Aku juga baik, Alhamdulillah. Apalagi sebentar lagi aku akan bertunangan dengan pria yang aku cintai selama ini," ujar Annisa.


Dia sengaja ingin memberitahukan hubungannya dengan Rama saat ini.


"Benarkah? Siapa pria yang beruntung mendapatkan dirimu?" tanya Diska penasaran.


"Mhm, kamu benar-benar mau tahu siapa calon tunanganku?" tanya Anisa dengan senyuman licik.


"Mhm," gumam Diska sambil mengangguk.


Sebenarnya dia tidak ingin sama sekali mengetahui siapa yang akan menjadi tunangan Putri kepala desa itu, tapi dia sengaja agar Annisa senang.


"Kamu yakin ingin mengetahuinya?" tanya Annisa lagi.


"Iya, siapa sih pria yang beruntung?" tanya Diska.


Diska berpura-pura penasaran dengan kabar yang dibawa oleh Annisa.


"Baiklah kalau begitu aku akan kasih tahu sama kamu, pria yang akan menjadi tunanganku adalah Rama," ujar Annisa dengan bahagianya.


Diska kaget mendengar ucapan Annisa. tapi dia berusaha untuk menutupi rasa kecewanya di hadapan Annisa.


"Oh, selamat ya, Nis. Semoga kalian berjodoh dan langgeng sampai kakek nenek," ujar Diska memberi selamat kepada Annisa.


Diska tidak percaya dengan berita yang diberikan oleh Putri kepala desa itu.


"benarkah kamu akan menikah dengan gadis ini? ya Allah kenapa hati ini terasa sakit saat mendengar berita tentang pertunangannya," gumam Diska di dalam hati.


Hatinya hancur, tapi ini semua bukanlah kesalahan Rama, karena dialah yang ingin menjauh dari Rama. jika Rama memilih untuk menikah dengan Anisa itu bukanlah kesalahan dirinya, Rama berhak memilih Annisa.

__ADS_1


"Aku yakin kamu pasti merasa panas dengan berita yang aku berikan, toh kamu dan drama juga tidak ada hubungan apa-apa lagi, aku akan terus memanas-manasimu agar kamu semakin membenci Rama," gumam Annisa di dalam hati.


Dia tersenyum licik.


"Eh, udah sore. Kayaknya Rudi lagi ada kerjaan, deh. Biar aku saja yang mengantarkan kamu pulang," ujar Anisa menawarkan tumpangan pada Diska.


"Benarkah? Apakah aku tidak akan merepotkanmu?" tanya Diska.


"Iya." Annisa mengangguk.


Setelah itu Annisa pun mengantarkan Diska pulang, saat di pertengahan jalan, mereka berpapasan dengan Rudi yang hendak menjemput Diska.


"Hei, Nis." Rudi menghentikan sepeda motornya.


Annisa pun menghentikan sepeda motornya.


"Maaf, Dis. Tadi aku ada kerjaan," ujar Rudi meminta maaf kepada Diska.


"Iya, tidak apa-apa kok, Rud. Aku pulang sama Nisa aja, lagian sudah dekat kok," ujar Diska menanggapi permintaan maaf dari Rudi.


"Ya udah, kalau gitu," balas Rudi.


Rudi pun membiarkan Annisa mengantarkan Diska walaupun dia merasa khawatir dengan keselamatan Diska karena saat itu, Rudi masih ada pekerjaan yang juga harus dikerjakannya.


"Sama-sama, aku pulang dulu, ya," ujar Annisa.


Annisa sengaja memilih untuk langsung pulang karena dia tidak ingin Uci Desmi melihat kedatangannya.


Annisa pun melajukan sepeda motornya meninggalkan rumah Uci Desmi.


Diska masuk ke dalam rumah dengan wajah yang sedih, perkataan Annisa tadi membuat hatinya sedih dan kecewa.


Uci Desmi melihat Diska pulang kerja dengan wajah yang lesu, dia merasa ada hal yang sudah terjadi, seperti biasa Uci Desmi penasaran dengan apa yang terjadi pada gadis kota itu satu hari ini.


Selama ini Uci Desmi selalu berharap, Diska dan Rama bersatu, tapi melihat sikap Diska yang kini mulai dingin terhadap Rama, Uci Desmi tidak ingin memaksa kehendaknya. Dia hanya bisa berdo'a agar Rama dan Diska bisa bersatu.


Kalau pun mereka tidak berjodoh nantinya, Uci Desmi berharap mereka bisa hidup bahagia dengan kehidupan mereka masing-masing.


Di dalam kamar, Diska asyik memainkan ponselnya, dia mengotak-atik sosial media yang ada di ponselnya, terlihat dengan jelas dia tidak memperhatikan sosial media yang dibukanya, pikirannya tertuju pada ucapan Annisa tadi.


Sementara itu, Annisa di rumahnya tertawa terbahak-bahak karena dia sudah membuat Diska bersedih.


"Lihat saja, Rama. Setelah ini Diska akan semakin membencimu dan kamu akan menjadi milikku," lirih Annisa bahagia.


Gadis itu senang telah membuat Diska semakin membenci Rama.

__ADS_1


****


Pada suatu hari, pak kepala Desa datang ke kebun Rama. Dia sengaja datang pada pukul 11.00 karena biasanya orang yang berkebun akan beristirahat sebelum waktu dzuhur masuk.


"Rama," panggil Pak Kepala Desa saat dia sudah berada di dekat pondok Rama.


"Eh, Pak Didin." Rama kaget melihat kedatangan pak kepala desa yang langsung datang ke kebun.


"Bagaimana kabarmu? Sudah lama bapak tidak melihatmu," ujar Pak Didin sang kepala Desa.


"Baik, Pak. Ada apa gerangan bapak datang ke sini?" tanya Rama langsung.


"Saya tadi hanya ingin berjalan-jalan," kilah Pak Didin.


Dia merasa tidak enak jika kedatangannya ke kebun Rama karena ada yang akan dibicarakannya.


"Oh, bapak mau minum kopi?" tanya Rama menawarkan sang kepala desa.


Kebetulan saat itu, Rama sedang beristirahat sambil minum kopi.


"Boleh," sahut Pak Didin.


Rama pun menyiapkan kopi untuk Pak Didin, kebetulan api tungku Rama masih menyala sehingga dengan mudah dia memanaskan air untuk membuat kopi.


"Silakan, Pak," ujar Rama sambil menyodorkan secangkir kopi pada Pak Didin.


"Terima kasih," ucap Pak kepala desa.


Mereka pun mengobrol membahas berbagai hal, Pak Didin masih mengajak Rama untuk kembali bergabung bekerja di pemerintahan desa agar dia bisa santai dan mendapatkan pemasukan yang cukup.


Sejak Rama memutuskan untuk berkebun, dia mengundurkan diri dari kantor kepala desa.


Hal itu dilakukan Rama agar dia bisa bermalam-malam di hutan, dia memilih untuk menyendiri agar dia tidak terus-terusan menyesali perbuatannya yang sudah membuat gadis yang dicintainya terluka.


Dia sengaja menyibukkan diri di kebun agar dia dapat melupakan apa yang sudah terjadi.


"Rama," lirih Pak Kepala Desa.


"Mhm," gumam Rama.


"Ada hal yang ingin saya katakan," ujar Pak Didin.


"Apa?" tanya Rama.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2