Cinta Sang Pemuda Desa

Cinta Sang Pemuda Desa
Bab 48


__ADS_3

"Ya udah, kalau gitu kita lanjut jalan saja Rud," ujar Rama.


"Tapi, Ram,--" Ucapan Rudi terpotong karena Rama melebarkan matanya menatap pada sang sahabat.


Perlahan Diska mencoba untuk bangun dari posisi berbaringnya, dia berdiri dan melangkahkan kaki. baru saja dia melangkahkan satu langkah, gadis kota itu terlihat hendak jatuh karena kakinya masih lemah untuk menumpuk bobot tubuhnya.


Melihat hal itu Rama langsung menggendong tubuh Sang gadis kota lalu dia melangkah menyusuri jalan setapak untuk keluar dari hutan tersebut.


Dia tidak memperdulikan tatapan Diska padanya, pandangannya lurus ke depan.


Diska menatap dalam pada pria yang sudah mengisi hatinya, bukti cinta dan perhatian Rama masih jelas dapat dirasakannya. Namun, kekecewaan Diska karena perbuatan Rama yang mengacuhkan dirinya sehingga Diska berada di antara hidup dan mati berjuang 2 hari 2 malam di dalam hutan seorang diri.


"Turunkan, aku," lirih Diska pada Rama.


Diska berusaha untuk turun, tapi Rama semakin mempererat pelukannya. Dia tidak membiarkan Diska terlepas dari gendongannya.


Mengangkat tubuh Diska tak sebanding dengan pekerjaan yang sudah biasa dilakukannya.


Bahkan Rama sudah terbiasa mengangkat kayu bakar yang beratnya melebihi berat tubuh Diska.


Diska tak lagi memberontak, dia membiarkan Rama menggendong tubuhnya.


Sepanjang jalan bola mata Diska hanya tertuju pada wajah tampan sang pemuda desa yang sangat dicintainya.


Satu jam perjalanan, mereka pun sampai di pemukiman penduduk, banyak mata yang melihat perlakuan Rama terhadap si gadis kota.


Mereka mulai berbisik-bisik membicarakan tentang kehadiran dokter muda di desa mereka yang sudah menghilang beberapa hari.


"Eh, satu Minggu di hutan masih hidup. Untunglah, dia masih punya umur," ujar salah satu warga.


"Mereka menemukan Dokter muda itu di mana, ya. Syukurlah dia masih hidup," ujar ibu-ibu yang melihat kedatangan mereka.


"Eh, Alhamdulillah. Bu dokter muda itu selamat juga, aku kira dia sudah mati dimakan hewan buas yang ada di hutan," ujar warga yang lain.


Melihat beberapa warga heboh di halaman rumahnya, Annisa keluar dari rumah untuk mencari tahu apa yang tengah terjadi.


Annisa juga melihat apa yang dilakukan Rama terhadap gadis kota itu.


"Ada hubungan apa mereka sebenarnya? aku harus menyelidiki semua ini secepatnya," gumam Annisa di dalam hati.

__ADS_1


Putri kepala desa itu tidak terima melihat pria yang dicintainya memberi perhatian terhadap wanita lain.


Dia masuk ke dalam rumah, lalu marah-marah pada ibunya yang kini tengah mencuci pakaian di kamar mandi.


"Ibu lihat itu, Rama baru saja menggendong Diska keluar dari hutan. Padahal Rudi juga ikut bersamanya kenapa enggak Rudi saja yang menggendong Diska?" Annisa menggerutu di hadapan ibunya.


Ibu Annisa menghentikan pekerjaannya sejenak.


"Ada apa sih, Nis, kamu marah-marah begini?" tanya ibu Annisa.


"Ibu lihat saja keluar, dengan santai Rama menggendong dokter muda itu. padahal sudah jelas-jelas bapak memintanya untuk menjadi pendamping hidupku," gerutu Anisa melampiaskan kekesalannya pada sang ibu.


Ibu Annisa pun keluar dari rumahnya untuk melihat apa yang tengah terjadi. saat iya berada di luar para warga masih berkerumun membicarakan tentang sang dokter muda.


"Ada apa rame-rame, Bu?" tanya ibu Anisa ada salah satu warga.


"Itu Bu dokter muda yang hilang itu sudah kembali, baru saja Rama menggendong gadis itu dan membawanya ke rumah Uci Desmi," cerita warga yang ditanyai oleh ibu Annisa.


"Oh, memangnya Rama dan dokter muda itu ada hubungan apa?" tanya ibu Annisa mulai penasaran.


"Kalau masalah hubungan antara Rama dan dokter muda itu kami sendiri tidak tahu, yang jelas kami melihat Rama menggendong Diska keluar dari hutan," cerita salah satu warga.


"Eh, Kalau Rama dengan dokter muda itu tidak memiliki hubungan apa-apa kenapa tidak Rudi yang menggendong si dokter muda?" ujar salah satu warga yang mulai memulai gosip baru.


"Assalamu'alaikum," ucap Rudi saat mereka sampai di depan rumah Uci Desmi.


Mendengar suara Rudi, Uci Desmi langsung bergegas membukakan pintu.


"Wa'alaikummussalam," jawab Uci Desmi sambil membukakan pintu rumah.


"Ya ampun, Diska," pekik Uci Desmi melihat Diska yang digendong oleh Rama.


"Ayo, bawa ke kamarnya," ujar Uci Desmi.


Uci Desmi menuntun Rama melangkah menuju kamar Diska.


Dia sangat mengkhawatirkan keadaan Diska yang terlihat lemah.


Rama membaringkan tubuh Diska di atas tempat tidur dengan perlahan, setelah itu Rama keluar dari kamar dan duduk di ruang tamu.

__ADS_1


Ada rasa sakit di dalam hatinya karena hubungannya dan Disk akan berakhir padahal mereka baru saja memulai kisah cinta mereka.


Uci Desmi melihat raut wajah Rama yang murung, tapi dia mengabaikan hal itu karena dia ingin tahu keadaan Diska saat ini.


"Bagaimana keadaanmu, Dis?" tanya Uci Desmi memegang tangan gadis kota itu dengan erat.


Dia bersyukur, Rama sudah menemukan gadis yang telah dianggapnya sebagai putrinya sendiri.


"Alhamdulillah aku baik-baik saja, Ci." Diska tersenyum.


"Lalu kenapa Rama menggendong kamu?" tanya Uci Desmi heran.


"Tadi aku sedikit pusing, makanya dia langsung inisiatif untuk menggendongku," jawab Diska santai.


"Alhamdulillah, ya sudah kamu istirahat saja, kalau gitu Uci keluar menemui Rudi dan Rama," ujar Uci Desmi meninggalkan Diska di dalam kamar seorang diri.


Uci Desmi keluar dari kamar Diska lalu duduk di ruang tamu bersama Rama dan Rudi.


"Rama, Rudi," panggil Uci Desmi memulai pembicaraan.


"Uci berterima kasih kepada kalian, kalian sudah banyak membantu kami, kalian yang selalu ada untuk kami. Uci tidak tahu harus membalas dengan apa," ujar Uci Desmi.


"Uci tidak perlu berbicara seperti itu, karena kami sudah menganggap Uci sebagai ibu kandung kami," ujar Rudi dengan senyuman.


Uci Desmi melirik ke arah Rama yang terlihat murung.


"Ram, apakah ada masalah?" tanya Uci Desmi penasaran melihat rau wajah Rama.


Hati Rama saat sangat hancur, di saat dia benar-benar merindukan gadis yang dicintai, di saat itu pula Diska tidak ingin lagi berhubungan dengannya.


Rudi hanya menghela napas panjang, dia sendiri saat ini belum tahu apa yang sudah dibicarakan oleh Rama dan Diska saat dia dan Husein mencari obat untuk Diska.


Dia memilih untuk diam dari pada ikut campur dengan masalah yang tengah dihadapi sahabatnya itu.


"Tidak, Uci. Aku hanya lelah," jawab Rama.


Rama enggan membahas masalah dirinya dan Diska saat ini terlebih, Diska tengah berada di dalam kamar.


Rama takut, Diska mendengar pembicaraannya dan Uci Desmi, hal itu akan membuat Diska semakin membencinya.

__ADS_1


Rama tidak ingin Diska semakin membencinya.


Bersambung...


__ADS_2