Cinta Sang Pemuda Desa

Cinta Sang Pemuda Desa
Bab 34


__ADS_3

Seekor harimau datang hendak menerkam mereka, binatang buas itu tak sabar ingin menjadikan dua manusia itu sebagai hidangan makan malam yang lezat. Namun, bersyukur Rama dan Rudi dapat mengelak.


Rudi menancapkan tombak yang ada di tangannya tepat di perut si harimau, harimau itu mengaum dengan keras, binatang buas itu ingin melawan dan kembali siap menerkam dua pria itu.


Tapi rasa sakit yang dirasakannya akibat tusukan tombak Rudi membuat, dia jatuh terbaring di tanah hingga akhirnya dia mati.


"Hampir saja kita jadi santapannya," lirih Rudi lega.


Mereka dapat selamat dari terkaman harimau itu.


Hutan tempat mereka kini berada memang masih banyak binatang buas yang terlindungi di dalamnya.


Meskipun hutan penduduk desa banyak yang berkebun di hutan tersebut, makhluk buas itu tidak pernah menampakkan wujudnya di siang hari.


Mereka akan keluar dari persembunyiannya jika gelap sudah datang.


Seketika kekhawatiran kembali menyelimuti pikiran kedua pria itu, mereka teringat dengan Diska.


Entah di mana dia saat ini, apalagi setelah mereka menemukan seekor harimau besar itu. Mereka takut, Diska sudah dimakan oleh harimau besar itu.


"Rud, bagaimana keadaan Diska saat ini, ya? aku semakin mengkhawatirkan keadaannya," ujar Rudi.


"Hei, tenanglah. Semoga Diska baik-baik saja, kita harus optimis dia baik-baik saja," ujar Rudi berusaha menenangkan Rama.


"Rud, ini semua terjadi karena kebodohanku, seandainya aku tidak larut dalam kekecewaan pasti hal yang membahayakannya tidak akan terjadi." Rama terus merutuki kebodohannya.


Dia mulai menangis.


"Bro, tenanglah. Kenapa kamu bisa jadi lemah seperti ini, jika harimau itu sudah memakannya, seharusnya dia akan tidur karena sudah kekenyangan, dia tidak akan mungkin menyerang kita," ujar Rudi berusaha membuat Rama berpikir positif.


Rama menatap nanar pada bangkai harimau yang kini sudah tergeletak di tanah.


Dia pun membenarkan apa yang sudah dikatakan oleh Rudi.


"Ya Allah, lindungilah gadis itu. Aku takkan bisa hidup tanpa dia," lirih Rama berdo'a.


Rama dan Rudi kembali melanjutkan perjalanan mereka menyusuri jalan setapak.


Malam semakin larut, tapi mereka belum juga dapat menemukan keberadaan Diska saat ini.


Kini mereka berhenti di sebuah pondok yang berada di pinggir jalan.


Mereka beristirahat sejenak melepas rasa lelah yang sudah berjalan jauh mengelilingi hutan belantara, beruntung cahaya bulan malam ini menemani setiap langkah mereka sehingga mereka tak merasakan malam kian larut.

__ADS_1


Rama dan Rudi membaringkan tubu mereka di atas pondok itu, rasa khawatir dan cemas membuat mereka tak merasakan dinginnya malam.


Rama dan Rudi terlelap karena mereka benar-benar sudah lelah.


Terdengar ayam hutan berkokok menjelang waktu subuh masuk, Rama terbangun dari tidurnya.


"Rud, bangun!" Rama membangunkan Rudi yang masih terlelap.


Dengan mata yang masih berat, Rudi memaksakan dirinya untuk membuka matanya.


"Kita sudah ketiduran di sini," ujar Rama sambil mengucek matanya yang terasa sangat panas karena kurang tidur.


Begitu juga dengan Rudi, dia mengerjapkan matanya.


Rudi hendak bangkit dari posisi berbaringnya, dia tak sengaja memegang sebuah benda tipis di pinggir pondok itu, Rudi mengambil benda tersebut.


"Ram, lihat! Bukannya ini ponsel Diska," ujar Rudi kembali bersemangat.


Rama meraih benda pipih yang ada di tangan Rudi, Rama memperhatikan dengan seksama ponsel yang kini ada di dalam genggamannya.


"Iya, ini ponsel Diska," lirih Rama mengingat benda pipih yang selalu dipegang Diska saat mereka bersama.


"Berarti Diska sempat berada di pondok ini, lalu di mana dia sekarang?" ujar Rudi menduga-duga.


Di hutan ini akan terdengar lebih jelas suara azan, karena corong pengeras suara memang sengaja di tujukan ke arah hutan agar setiap penduduk yang berkebun di hutan itu dapat mengetahui masuknya waktu shalat.


"Yuk," sahut Rudi.


Mereka turun dari pondok tersebut, lalu melangkah menuju aliran anak sungai yang berada tidak jauh dari pondok tempat mereka tadi beristirahat.


Rama dan Rudi berwudhu', sebelumnya mereka meneguk air tersebut karena sudah merasa sangat haus.


Hal ini juga sudah biasa dilakukan oleh petani yang berkebun di hutan. Jika persediaan air minum mereka sudah habis dan tak lagi sempat memasak air, mereka akan langsung meminum air anak sungai itu.


Dua pemuda desa itu pun melaksanakan shalat subuh di pondok tadi. Rama memohon pada Allah agar dia dapat bertemu lagi dengan Diska.


Dia juga memohon akan keselamatan gadis itu.


Usai menunaikan kewajiban mereka sebagai seorang muslim, Rama dan Rudi kembali melangkah, kali ini mereka berteriak memanggil-manggil nama Diska.


Semalam mereka mencari Diska tanpa berteriak karena mereka takut akan mengganggu binatang-binatang buas yang terbangun di malam hari, konon sepengetahuan penduduk masih banyak harimau, singa, beruang, dan binatang berbahaya lainnya di dalam hutan itu.


Makanya mereka berjalan menyusuri jalan setapak tanpa suara, jika pagi datang semua binatang berbahaya itu bersembunyi memberi ruang pada penduduk desa untuk mengais rezeki di hutan itu.

__ADS_1


Jarang binatang buas itu menampakkan wujudnya saat waktu siang mulai datang, mereka hanya meninggalkan beberapa jejak langkah mereka di kebun-kebun petani sebagai bukti bahwa mereka juga hidup di dalam hutan tersebut.


"Diska! Diska!" teriak Rama cemas.


"Buk Dokter, kamu di mana?" teriak Rudi ikut memanggil gadis kota itu.


Semakin jauh mereka berjalan, mereka masih saja belum menemukan sosok Diska.


"Aku lelah, Ram," ujar Rudi sambil menjatuhkan tubuhnya di atas tanah.


"Ini sudah terlalu jauh kita berjalan, Ram. Mana tahu Diska sudah berada di kampung?" ujar Rudi.


"Ya udah, aku coba hubungi Uci Desmi dulu," ujar Rama sambil mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.


Satu kali panggilan Uci Desmi mengangkat panggilan dari Rama.


"Halo," lirih Rama.


"Halo, Rama. Bagaimana apakah kamu sudah menemukan Diska?" tanya Uci Desmi langsung.


Wanita paruh baya itu benar-benar sudah mencemaskan keadaan Diska.


"Mhm, Diska belum ada pulang ke rumah, Uci?" tanya Rama balik.


"Belum, semalam ini Uci tidak tidur berharap dia pulang," ujar Uci Desmi.


"Mhm," gumam Rama.


"Kalian di mana sekarang? Apakah kalian belum menemukannya?" tanya Uci Desmi semakin cemas.


"Belum, Uci. Kami kini sudah berada di dekat kebun kedua orang tuaku, Uci," jawab Rama lesu.


"Ya ampun, Rama. Jauh sekali," seru Uci Desmi semakin panik.


Uci Desmi tambah khawatir dengan keadaan Diska.


"Rama, Uci tidak mau tahu kamu harus bawa pulang Diska, kamu harus menemukan Diska secepatnya," ujar Uci Desmi tegas.


Uci Desmi mematikan ponselnya, dia tidak ingin berlama-lama berbicara dengan Rama.


"Bagaimana?" tanya Rudi pada Rama.


"Diska masih belum pulang," jawab Rama lesu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2