
"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan saat ini?" gumam Rama bingung.
Belum pikirannya yang kacau dikarenakan hilangnya gadis yang dicintainya, kini datang permasalahan baru.
"Diska, ke mana lagi aku akan mencarimu? Apakah kamu sudah pergi meninggalkanku," gumam Rama mengingat ular besar yang tadi dilihatnya.
Hati Rama sangat hancur membayangkan jika Diska benar-benar sudah tidak ada.
"Apakah aku harus menerima permintaan pak Didin? Jika Diska memang sudah tiada, maka hidupku tak akan ada lagi gunanya," lirih Rama terus memikirkan masalah yang kini tengah dihadapinya.
Sementara itu, Annisa duduk di ruang keluarga bersama kedua orang tuanya.
"Pak, seharusnya bapak lebih tegas lagi sama Rama," ujar Annisa memulai pembicaraan.
Dia melancarkan aksi protesnya, Annisa melihat dengan jelas di mata pria itu bahwa Rama sedikitpun tidak menginginkan dirinya.
"Nisa, kamu harus sabar, dong. Kita kan sedang berusaha," ujar Pak Didin pada putrinya.
"Tapi, Pak. Aku ingin secepatnya memiliki Rama. Sebelum wanita kota itu muncul, bahkan aku berharap Diska itu mati dimakan ular besar atau harimau yang kelaparan," ujar Annisa dengan senyuman penuh kelicikan di wajahnya.
"Hush, jangan ngomong gitu, Nis. Kalau terjadi apa-apa sama buk dokter itu karier bapak yang hancur, bisa jadi pihak keluarga Diska akan menuntut," ujar Didin takut.
Sebagai kepala desa, Didin bertanggung jawab atas keselamatan dan keamanan Diska selama berada di desa itu.
"Atau kita bikin jebakan aja buat Rama supaya dia mau menikah denganku," ujar Annisa memberi ide pada ayahnya.
"Jangan, Nis. Bapak tidak mau ada kecurangan lagi," ujar Didin teringat peristiwa beberapa tahun yang lalu.
"Lagi? Apa maksud, Bapak?" tanya Annisa penasaran.
Ibu Yuyun ikut heran dengan apa yang diucapkan oleh sang suami. Dia curiga ada sesuatu yang disembunyikan oleh sang suami.
"Tidak ada, udah malam ayo tidur. Bapak sudah ngantuk, yuk, Buk." Pak Didin menarik tangan istrinya untuk masuk ke dalam kamar.
Annisa terdiam, dia heran dengan sikap bapaknya, akhirnya gadis itu pun melangkah menuju kamarnya.
Di tempat lain, Diska terbangun dari tidurnya. Dia merasa sangat dingin, hingga tubuhnya bergetar menahan dinginnya malam.
Husein yang baru saja hendak membaringkan tubuhnya mendengar suara rintihan Diska yang tengah kedinginan.
"Kamu kedinginan?" tanya Husein pada Diska.
"I-iya," lirih Diska pelan menjawab pertanyaan Husein.
Husein pun mengambil sebuah selimut lusuh miliknya di atas sebuah rak yang ada di dinding pondok itu, dia memang jarang memakai selimut itu.
__ADS_1
"Pakai ini," ujar Husein sambil menyelimuti tubuh Diska yang bergetar hebat karena menahan hawa dingin yang menyelimuti dirinya.
Melihat kondisi Diska yang kedinginan, Husein merasa khawatir. Pria itu meletakkan tangannya di dahi Diska.
"Astagfirullah, kamu demam," ujar Husein panik.
"Apa yang harus aku lakukan," gumam Husein bingung.
Husein pun berpikir mencari obat demam untuk Diska. Pria itu teringat dengan beberapa ramuan yang biasa digunakan untuk menurunkan demam tinggi.
"Kamu tunggu di sini, aku akan mencarikan obat alami untuk menurunkan panasmu," ujar Husein.
Husein pun hendak keluar dari pondok untuk mencari obat Diska.
"Hei," lirih Diska.
Pria itu pun menghentikan langkahnya.
"Jangan tinggalkan aku," lirih Diska ketakutan.
Entah mengapa Diska merasa percaya pada pria yang baru saja dikenalnya itu. Dia yakin Husein adalah seorang pria baik-baik yang hanya berniat menolong dirinya.
"Tapi, aku harus mencari obat untukmu," ujar Husein.
"Aku takut sendirian di sini," tutur Diska dalam kecemasan.
Akhirnya Husein pun duduk di samping Diska sambil mengompres dahi gadis kota itu dengan daun bunga raya yang mang sengaja di tanamnya di depan pondoknya.
Husein juga meremas daun bunga raya itu untuk diminum oleh Diska sebagai obat penghilang panas tubuh gadis kota itu.
Husein teringat pada seorang wanita yang sangat dicintainya, dia yang selalu ada di saat wanita itu terbaring lemah saat demam. Dia selalu menjaga wanita itu hingga sembuh, tapi semua kasih sayang yang dicurahkan Husein pada wanita itu dibalas dengan sebuah perselingkuhan.
Sepanjang malam Husein mengompres Diska, hingga sebelum subuh masuk dia terlelap di samping Diska sambil duduk dan bersandar di dinding pondok.
Saat pagi datang, Diska terbangun dari tidurnya. Kepalanya masih terasa pusing, setiap sendinya terasa nyeri.
Diska melihat Husein yang masih terlelap, dia menatap dalam pada pria yang telah menjaganya semalaman.
Gadis kota itu pun teringat pada sosok Rama, dia yang berharap sosok Rama hadir dan menjaganya di saat seperti ini. Namun, semua harapan itu sirna.
Dia harus berusaha untuk melupakan Rama, rasa kecewa yang mendalam membuat Diska mulai membenci pria yang telah menguasai relung hatinya.
Diska merasa tenggorokannya kering dan gatal, dia melihat gelas yang tidak jauh dari posisinya, Diska pun berusaha untuk bangun dan meraih gelas itu.
Husein terbangun saat mendengar pergerakan Diska. Pria itu membuka matanya, dia melihat Diska berusaha mengambil sebuah gelas yang agak jauh dari posisinya.
__ADS_1
"Kamu mau minum?" tanya Husein.
Diska mengangguk.
"Maaf, aku sudah merepotkanmu," lirih Diska saat menerima gelas pemberian Husein.
Husein tersenyum.
"Kamu tidak merepotkanku, tapi kamu menyusahkanku," ujar Husein sambil tersenyum.
Sekilas Diska merasa tenang saat melihat ulasan senyuman dari wajah pria yang kini berada di hadapannya.
Diska ikut tersenyum mendengar guyonan sang pria.
Sejenak Diska dan Husein asyik mengobrol saling mengenal satu sama lain.
"Jadi kamu tinggal di hutan ini?" tanya Diska memastikan perkataan Husein.
"Iya, aku sudah tinggal di sini sekitar 6 bulan. Aku sengaja berpindah ke daerah sini untuk melupakan masalah yang tengah aku hadapi," ujar Husein jujur.
Entah mengapa Husein ingin bercerita pada gadis kota itu tentang kehidupan yang tengah dijalaninya saat ini.
"Kalau boleh tahu masalah apa yang tengah kamu hadapi?" tanya Diska penasaran.
Husein tersenyum, ingatannya beralih pada beberapa bulan yang lalu.
Flash back on.
Setelah shalat isya Husein menunggu istrinya pulang bekerja, satu hari ini dia sibuk mempersiapkan makan malam untuk memperingati anniversary 3 tahun pernikahan mereka.
Penantian yang tak kunjung datang, akhirnya membuat Husein tak lagi sabar menunggu wanita yang sangat dicintainya.
Detik demi detik berlalu, menit terus berputar hingga jam di dinding pun telah menunjuk angka 10.15 malam.
"Ke mana, Nadia? Jam segini belum juga pulang?" gumam Husein mulai khawatir.
Pria itu mulai melangkah mondar mandir sambil terus menghubungi nomor ponsel istrinya, berkali-kali dia menelpon istrinya, tapi sama sekali panggilan itu tidak dijawab oleh istrinya.
Akhirnya Husein pun melacak keberadaan istrinya melalui aplikasi yang sudah disambungkan pada ponselnya.
Dia langsung menyusul sang istri menuju suatu tempat. Di sana dia mendapati istrinya tengah memadu kasih dengan seorang pria yang sangat dikenalnya.
Setelah itu, Husein pun pergi meninggalkan istrinya, bersyukur dia mereka belum dikaruniai anak sehingga Husein dapat pergi tanpa beban.
Hingga akhirnya Husein memilih untuk bertahan hidup dengan berkebun di hutan itu.
__ADS_1
Flash back off.
Bersambung...