
Rere yang kesal sangat ingin membentak papanya dengan suara tinggi. Tapi, dia tidak akan melakukan hal itu. Kesabaran yang ia miliki memang ada batasnya. Namum, jika dia kelewatan batas, itu juga tidak akan baik untuk dirinya.
'Ya Tuhan ... tolong aku. Jika aku semakin melawan papa, maka papa juga semakin membuat hati ini kesal. Heh ... kalau begitu, mungkin akan lebih baik aku menuruti saja apa yang papa inginkan. Mengembalikan Amira ke kantor seperti yang papa mau.'
"Baiklah, pa. Aku akan mengembalikan Amira ke kantor seperti yang papa katakan. Tapi, hanya Amira saja. Tidak dengan mas Rohan. Itu keputusan terakhir. Jika papa tidak setuju, maka aku tidak akan mengembalikan kedua-kedua."
Ucapan itu membuat sang papa sangat bahagia. Dia pun tersenyum lebar sambil menyetujui apa yang baru saja Rere katakan.
Setelah kepergian sang papa, Rere baru bisa melepas napas lega. Beban berat yang sebelumnya dia rasakan, sekarang seperti sudah lenyap bersama perginya sang papa dari ruangan tersebut.
...
"Bapak ke mana, bu?" Rohan yang baru keluar dari kamar adik keduanya setelah hari sore, langsung menanyakan sang bapak ketika tidak melihat orang tua itu, padahal hari sudah mau senja.
"Bapakmu ke ... ah, itu bapak pulang, Han."
Tidak ada pembicaraan yang terjadi antara bapaknya dengan Rohan. Keduanya saling diam hingga makan malam tiba. Semua keluarga berkumpul di meja makan untuk menyantap hidangan sederhana yang ibu Rohan buatkan.
Kebetulan, malam ini adik kedua Rohan juga ada di rumah. Dia memang jarang pulang karena sering menginap di asrama kampus karena jarak kampus dengan rumah yang jauh. Ditambah, dia juga selalu mengambil kerjaan serabutan untuk memenuhi uang kuliahan nya yang memang tidak sedikit.
"Ivan, gimana dengan kuliah kamu sekarang? Apa semua berjalan lancar?" Tanya bapak membuka obrolan sambil menikmati makan malam hangat sesama keluarga.
"Alhamdulillah, lancar aja, pak."
__ADS_1
"Baguslah kalau gitu. Oh ya, soal uang bulanan, mungkin bulan ini agak sedikit terlambat bapak berikan ya, Van."
Ivan yang sudah tahu maksud perkataan bapaknya, hanya memberikan anggukan pelan saja. Kebetulan, adik Rohan yang ini sedikit berbeda. Dia sedikit terkenal dengan sebutan yang paling irit bicara dalam keluarga. Tapi dengan Rere, dia cukup ramah. Karena itu, Rere cukup dekat dengan Ivan meski dia dicap sebagai kulkas keluarga.
Sementara itu, Rohan yang juga mengerti maksud dari perkataan si bapak hanya bisa diam saja. Tapi, perasaan tidak enak, tentu sangat jelas ia rasakan setelah mendengar apa yang bapaknya katakan barusan.
"Ah, tapi bapak punya kabar bahagia buat kamu, Van."
"Kabar bahagia? Kabar apa, pak?" Bukan Ivan yang menjawab, melainkan ibunya.
Orang tua itu terlihat cukup penasaran. Dan dia tahu, anaknya tidak akan melontarkan pertanyaan dengan cepat. Karena itu, dialah yang menjadi perwakilan dari anaknya agar segera tahu kabar bahagia apa yang sebenarnya suaminya miliki saat ini.
"Rere minta kamu untuk datang ke kantornya besok, Van. Katanya, jika kamu bersedia, dia punya lowongan kerja yang posisinya mungkin sangat cocok sama kamu."
"Rohan ... kamu kenapa sih? Kok bisa-bisanya tersedak seperti itu saat makan," ucap sang ibu sambil menyodorkan segelas air ke tangan Rohan.
"Gak papa, bu. Cuman ingin batuk tapi gak jadi saja."
Setelah beberapa saat penjelasan itu Rohan berikan, tatapan lekat pada Rohan sebelumnya pun langsung teralihkan kembali. Bapak Rohan pun kembali menceritakan prihal pertemuannya dengan Rere tadi sore.
"Rere bilang, dia gak punya nomor ponsel kamu , Van. Karena itu, dia titip pesan ke bapak."
"Bapak ketemu kak Rere di mana, pak?" Ivan ternyata cukup antusias mendengar apa yang bapaknya katakan. Di luar dugaan Rohan. Adik kulkas, ternyata cukup hangat saat mendengar satu nama yang sudah ia sia-siakan selama hampir dua tahun usai pernikahan mereka.
__ADS_1
"Yah ... tentu saja di rumah sakit. Iya, kan pak?" Lagi, ibu Rohan yang memberi jawaban itu. Ia mendahului sang suami untuk menjawab.
"Rumah sakit? Jadi, bapak ke rumah sakit tadi sore? Pas aku pulang, bapak gak ada di rumah itu karena bapak ke rumah sakit?" Lagi-lagi, binar terang yang biasanya tak pernah terlihat dari mata Ivan, kini langsung terlihat dengan sangat jelas saat membicarakan seputar Rere.
"Iya. Bapak ke rumah sakit tadi. Bapak baru berani datang untuk menjenguk mama Rere setelah beberapa hari mamanya ada di rumah sakit. Ah ... beruntung anak itu masih sama seperti sebelumnya. Jika tidak, bapak tidak tahu harus berbuat apa saat bapak berhadapan dengannya."
Dan, seperti itulah obrolan terus berlanjut di tengah-tengah makan malam. Bapak, adik-adik, dan ibu Rohan pun ikut ambil andil dalam obrolan itu. Sementara yang diam layaknya figuran tak bernyawa hanya Rohan saja.
Dia diam karena tidak tahu harus ngomong apa. Yang paling malangnya, diamnya Rohan sama sekali tidak dianggap oleh keluarganya. Mereka terus ngobrol hangat tentang pertemuan si bapak dengan Rere.
Hingga pada akhirnya, Rohan yang tak dianggap ada memilih untuk pergi setelah menghabiskan nasi yang ada di piringnya dengan cepat. Tapi sepertinya, kepergian Rohan juga hanya mengalihkan perhatian para keluarga sesaat saja. Karena detik berikutnya, adik-adik Rohan, terutama si bungsu Putri itu terus melanjutkan pertanyaan demi pertanyaan pada si bapak tentang Rere.
Di sisi lain, Amira begitu bahagia setelah mendengar penuturan dari papanya. Dia semakin berbangga diri sekarang.
'Sudah aku katakan kalau Rere tidak akan menang jika bersaing dengan aku. Amira dilawan. Tentu saja dia akan kalah. Huh ... emangnya enak, Re? Kamu dipaksa papa untuk menerima aku kembali bekerja di kantor kamu?'
'Kamu memang pemilik sah dari kantor keluarga mama kamu. Tapi sayangnya, kamu tidak bisa membuang aku yang jelas-jelas sudah menjadi duri dalam hidupmu. Itu karena, meskipun kamu seorang pemilik, tapi akulah penguasanya. Karena itu, kamu tidak akan bisa menang dalam melawan aku.'
Amira pun terus tersenyum-senyum dengan bangga. Dia membaringkan tubuhnya dengan lembut ke atas kasur sambil memikirkan apa saja yang akan ia lakukan besok hari.
"Sampai bertemu besok, Rere. Siap-siap saja untuk bertemu aku lagi. Hahaha ... ini adalah permulaan, Rere. Kamu akan merasa sangat tidak nyaman setelah aku kembali nanti. Lihat saja ulah apa yang bisa aku lakukan nanti."
Seketika, Amira pun langsung membalikkan tubuhnya setelah ingat sesuatu.
__ADS_1
"Huh ... jika saja mas Rohan juga bisa ikut aku kembali ke kantor besok. Semua pertunjukan pasti akan semakin menyenangkan. Tapi sayang, papa malah tidak bisa membujuk Rere agar mas Rohan juga bisa ikut kembali ke kantor."