
Prank! Sebuah guci pecah berserakan. Ruangan kamar itu tidak mirip kamar lagi sekarang. Lebih tepatnya, gudang lama yang tak terurus lagi.
"Kurang ajar! Benar-benar kurang ajar. Kenapa tuan muda Utama sialan itu muncul lagi sih? Kenapa juga rencana yang aku buat selalu ada dia? Aku benci pria lak- nat itu."
Ya. Itu Dimas. Dia sedang marah besar akibat Rere dibawa pergi oleh Alvin. Sekarang, sebagai pelampiasan amarahnya, Dimas menghancurkan kamar tidurnya sendiri. Ingin menghancurkan Alvin, dia masih cukup sadar diri. Karena Alvin masih bukan tandingannya untuk saat ini.
"Kedudukan-kedudukan! Kenapa aku tidak bisa berada di atas tuan muda lak- nat itu sih? Agh! Aku benar-benar ingin membunuh tuan muda itu rasanya."
Seketika, Dimas terdiam. Benaknya mulai berpikir ulang dengan apa yang baru saja ia katakan.
"Bunuh? Benarkah aku bisa membunuh tuan kuda Utama dengan tanganku?"
"Ah! Tidak. Tidak dengan tanganku, tapi dengan tangan orang lain. Aku harus mencari cara jitu untuk menyingkirkan saingan tanpa harus mengotori tanganku sendiri."
Karena pikiran itu, Dimas langsung menghubungi orang suruhannya. Orang yang selama ini susah ia percayai mampu mengerjakan semua yang ia perintahkan dengan sangat baik.
"Iya, Bos." Terdengar jawaban cepat dari seberang sana. "Ada perintah apa sekarang?"
"Bagus. Kamu pintar. Bisa menebak apa yang aku inginkan."
Dalam hati si anak buah berkata. 'Bagaimana tidak bisa aku menebak? Karena kamu pasti datang saat butuh denganku saja. Jika tidak butuh, maka kamu akan melupakan aku. Dasar manusia yang tidak tahu berterima kasih. Beruntung aku masih bisa menghasilkan uang dari kamu. Jika tidak, sudah lama aku meninggalkan kamu.'
"Aku ingin kamu cari tahu orang yang ada di sekitar Alvin, yang bisa kira gunakan untuk menghukum dia."
"Maksud bos bagaimana?"
"Bodoh! Itu saja kamu tidak mengerti. Cari tahu siapa orang yang kemungkinan bisa diajak bekerja sama dengan aku. Orang yang ada di sekitar Alvin, tapi bisa aku jadikan peluru untuk menyakiti Alvin. Kamu mengerti apa yang aku katakan?"
"Iya, bos. Kalau itu saya paham. Baiklah, akan saya selidiki secepatnya."
"Ya. Aku ingin cepat. Sangat cepat malahan."
"Baik. Akan saya usahakan."
Panggilan itu berakhir, Dimas pun langsung tersenyum kecil memikirkan rencananya yang akan berhasil. Kali ini, dia akan melakukannya. Benar-benar melakukan hal yang diluar logika hanya untuk mendapatkan Rere.
...
"Carikan aku obat pereda nyeri secepatnya! Aku butuh sekarang juga." Alvin berucap pada salah seorang pelayan yang ia temui di lantai bawah.
"Ba-- baik, tuan muda."
Sang mama yang baru pulang, langsung menatap Alvin dengan tatapan penasaran. "Obat pereda nyeri? Untuk siapa, Vin?"
"Tunggu! Kamu baik-baik saja 'kan, nak?" Kali ini, mama Alvin bicara sambil memutar tubuh Alvin dengan perasaan cemas.
"Mama. Aku gak papa kok. Aku baik-baik aja. Mama gak perlu cemas."
__ADS_1
"Lalu, untuk siapa obat pereda nyeri? Katakan terus terang pada mama! Untuk apa, hm?"
Alvin mendadak di serang rasa malu. Dia pun langsung menggaruk kan kepalanya yang tidak terasa gatal sedikitpun.
"Itu ... ee ... Rere ... anu .... "
"Alvin." Kali ini, sang mama menatap wajah Alvin dengan mata yang melebar. Alvin semakin merasa tak karuan.
"Aish. Anak ini."
"Eh! Tapi tunggu deh. Barusan kamu bilang apa, Vin? Rere? Di mana dia? Sejak kapan ia datang?"
"Dia ... di kamar, mama. Se-- sejak tadi," ucap Alvin sambil nyengir kuda.
"Sejak tadi? Aish! Kok dia nggak turun sih?"
"Rere ... nggak enak badan, Ma. Karena itu ... dia nggak turun sekarang."
"Alvin kenapa sih? Kok bicaranya putus-putus begini? Aish, ada yang tidak beres nih dengan anak mama."
Setelah berucap, tanpa menunggu jawaban dari Alvin, sang mama langsung beranjak. Langkah kaki yang ingin menuju lantai dua mengingatkan Alvin akan sesuatu.
"Mama, tunggu!"
"Ada apa lagi sih?"
"Ke kamar kamulah."
"Hah! Ngapain?"
Sang mama langsung melepas napas kasar.
"Heh ... ngapain lagi, Vin? Kamu kan bilang sama mama barusan, Rere nggak enak badan. Ya mama mau lihat Rere lah sekarang."
"Eehh ... itu ... nggak bisa sekarang dong, Ma."
"Kok nggak bisa?"
"Rere sedang istirahat. Kasihan dia kalo mama ganggu. Jangan sekarang yah."
Sang mama merasa sangat curiga akan sikap baru dari ajaknya. Sikap layaknya Alvin kecil yang sedang menyembunyikan kesalahan. Sikap ini benar-benar mamanya pahami dengan sangat baik. Karena itu, sang mama berusaha mengalah untuk saat ini.
"Jangan sembunyikan kesalahan dari mama, Vin. Mama tahu jika kamu melakukan hal yang tidak-tidak yah."
Ucapan itu hanya sebatas godaan saja. Karena saat ini, mama Alvin sedang merasa cukup senang akan sikap anaknya yang lembut. Meskipun dia sangat penasaran akan apa yang sudah terjadi, tapi dia berusaha untuk tetap menahan rasa penasarannya.
Obat nyeri Alvin dapatkan. Dia pun bergegas meninggalkan sang mama dengan membawa obat tersebut kembali ke kamar.
__ADS_1
Sementara itu, sang mama pun langsung menanyakan prihal yang telah terjadi selama ia tidak ada di rumah pada pelayan yang baru saja memberikan obat untuk Alvin.
"Alvin beneran membawa Rere pulang ya, setelah aku tidak ada di rumah tadi?"
"Iy-- iya, Nya. Tuan muda beneran membawa nona Rere pulang. Tapi .... "
"Tapi apa?" Wajah penasaran dari mama Alvin semakin terlihat.
Pelayan itu lalu menceritakan semua yang terjadi. Meskipun hati mereka merasa senang awalnya, tapi pada akhirnya mereka tahu, ending dari kejadian itu pasti akan menyatukan dua manusia di kemudian hari.
"Begitu ceritanya, nya."
"Hah? Kamu beneran?"
"Iy-- iya, nya. Benar. Itulah yang sudah terjadi sekarang."
Sang mama langsung memegang kepalanya dengan satu tangan. "Ya Tuhan. Anak ini benar-benar deh. Ya sudah. Lanjutkan pekerjaan mu sekarang."
"Baik, nyonya."
....
"Apa sekarang sudah mendingan, Re?"
Alvin terlihat masih menyimpan rasa bersalah. Karena itu, dia masih berada di samping Rere meskipun sudah hampir sore sekarang.
"Aku baik-baik aja, Vin. Tidak ada yang perlu kamu cemaskan."
"Kamu tidak marah lagi denganku sekarang, kan Re?"
"Marah."
"Rere .... " Alvin merengek seketika. Tak lupa, wajah sedih juga ia pasang di wajahnya. Dia tak ubah seperti anak kecil yang merengek minta dibelikan permen pada mamanya.
"Heh ... jangan lebay, Vin. Kamu nggak cocok dengan wajah itu. Sekarang, aku mau pulang."
"Eh, jangan. Itu ... aku sudah menghubungi mama, bilang kamu nginap di sini malam ini."
"Apa!"
"Jangan marah, Re. Aku ingin kamu tetap berada di sisiku sekarang. Aku mohon pengertiannya."
Rere terdiam sejenak. Akhirnya, dia tidak tega melihat wajah takut dan juga penuh harap yang Alvin perlihatkan saat ini.
"Apa tanggapan mama saat kamu bilang begitu?"
"Awalnya dia kaget. Tapi selanjutnya, dia lega dan bahagia karena hubungan kita sudah mulai menemukan titik terang."
__ADS_1