Cinta Sebelah Pihak

Cinta Sebelah Pihak
'50


__ADS_3

Hingga akhirnya, Rohan di nyatakan mengalami gangguan jiwa di sana. Lalu, dia di pindahkan ke rumah sakit jiwa agar kondisinya tidak semakin memburuk.


Hari persidangan tiba. Amira di kenakan kurungan penjara selama dua puluh tahun. Karena dia dijerat dengan pasal berlapis, maka hukuman yang ia dapatkan juga terbilang cukup lama.


Sementara sang papa pula hanya dua belas tahun penjara. Hukuman itu karena dia terlibat dalam dua kasus yang Amira lakukan. Sedangkan Rohan, hukuman untuknya masih belum bisa di umumkan. Karena saat ini, Rohan masih berada di rumah sakit jiwa akibat gangguan jiwa yang ia alami sebelumnya.


Hukuman akan tetap di dapatkan bagaimanapun caranya kita ingin menghindar. Tidak secara hukum negara, hukum dari sang pencipta akan muncul. Begitulah sesungguhnya takdir yang akan berlaku yang disebut dengan KARMA.


....


Beberapa bulan kemudian.


"Rere Andayani Putri, maukah kamu menikah denganku?"


Sontak, taman kota yang awalnya hening, kini mendadak jadi riuh akibat lontaran pertanyaan dengan suara lantang yang Alvin ucapkan. Yah, Alvin sudah menyiapkan semuanya hanya untuk melamar Rere hari ini. Hari di mana Rere di lahir kan ke dunia fana ini.


"Vin. Ini .... " Wajah malu Rere terlihat dengan sangat jelas.


Pangeran berkuda putih saat ini sedang bersimpuh dengan satu kaki di hadapannya. Tentu saja dengan cincin berlian yang sedang ia angkat di depan wajah sang putri impian.


Beberapa saat sebelum lamaran itu terjadi, Rere dihubungi oleh sang mama. Mamanya meminta Rere datang untuk merayakan ulang tahun sederhana di taman yang berada tak jauh dari rumah Rere.


Karena permintaan sang mama tercinta, Rere yang sebelumnya masih sibuk dengan pekerjaan di kantor terpaksa meninggalkan pekerjaan tersebut. Karena bagi Rere, mama adalah hal yang paling penting untuk dirinya saat ini. Karena hanya mama satu-satunya keluarga yang ia punya.


Tanpa ia ketahui, semua rekan kantor juga ikut ambil andil dalam rencana itu. Mulai dari mengerjai Rere dengan berbagai rintangan saat Rere ingin meninggalkan kantor, hingga akhirnya, Rere berada dalam perjalanan. Di hadang preman, di mintai uang, dan bermacam-macam kesulitan yang Rere tempuh sebelumnya.

__ADS_1


Namun, tentu saja halangan dan rintangan itu adalah rencana sang mana belaka. Dia ingin membuat anaknya mengingat sesuatu yang berharga itu tidak akan ia dapatkan sebelum ia melewati rintangan.


Dari siang ke sore. Sore harinya, Rere baru tiba ke taman tersebut akibat banyaknya halangan. Dengan wajah cemas, dia berharap kalau sang mama tidak ada lagi di sana. Tapi nyatanya, setelah ia menghubungi bi Sari, bi Sari malah bilang kalau sang mama tidak pulang setelah pergi pada siang harinya.


Rere yang panik, bukannya bertemu sang mama langsung ketika dia memanggil sang mama. Eh ... yang muncul malah beberapa orang yang mengaku sudah bertemu sang mama yang sedih.


Ketika Rere berada dalam keputusasaan karena tidak menemukan sang mama. Saat itulah sang mama muncul. Memeluk tubuh Rere yang sedang menggigil karena sangat panik.


Setelah sang mama berhasil menenangkan hati Rere, baru Alvin muncul dengan gaya khas seorang pangeran yang sedang melamar sang putri tercinta. Konyol memang, tapi Rere sangat amat bahagia atas apa yang saat ini ia alami.


"Terima! Terima! Terima!"


Sekali lagi, Rere di buat terkejut dengan kemunculan para karyawan dari balik tanaman hias yang ada di sekitarnya. Bukan hanya itu, mama Alvin juga ada di sana. Orang tua itu menatap dengan penuh harap ke arah Rere. Manik matanya terlihat berkilau seperti ingin menjatuhkan buliran bening sambil tersenyum.


"Vin." Rere masih terlihat kebingungan untuk memberikan jawaban apa. Karena memang, Alvin sudah mencintainya sejak lama. Dan ternyata, cinta itu Alvin jaga selama bertahun-tahun. Meskipun hanya cinta sebelah pihak yang tidak Rere balas beberapa tahun yang lalu.


"Berikan saja aku jawaban sesuai yang ada dalam hatimu, Re. Jika memang tidak suka, maka aku siap terluka lagi. Karena sebelumnya, aku juga sudah pernah terluka, bukan?"


Ucapan dengan nada pasrah membuat Rere merasa sangat bersalah. Dengan cepat dia meminta Alvin bangun dari jongkok dengan cara mengangkat tubuh itu dengan lembut. Setelah itu, Rere langsung menghambur ke dalam pelukan Alvin.


'Jangan lagi, Re! Jangan. Cukup satu kali kamu menyia-nyiakan orang yang mencintai kamu. Jangan ulangi untuk yang kedua kalinya. Kamu beruntung karena telah mendapatkan orang yang tulus mencintaimu seperti Alvin. Rere. Lebih baik di cintai dari pada mencintai, Rere.' Rere sibuk berkata dalam hati untuk menguatkan perasaannya yang masih bimbang.


'Ingat, Re! Tidak banyak yang punya kesempatan kedua seperti yang kamu dapatkan saat ini. Jangan lupa akan hal itu, Rere.'


"Re. Jangan menangis. Jika hati tidak suka, kenapa harus dipaksakan? Aku nggak papa kok." Alvin berucap sambil membelai lembut rambut Rere.

__ADS_1


Rere lalu melonggarkan pelukan. Dengan sedikit air mata, dia menatap wajah Alvin haru.


"Yang tidak ingin bersama kamu siapa, Vin? Cukup sekali aku jadi wanita bodoh. Tidak akan ada untuk yang kedua kalinya."


"Alvin Brian Utama, aku setuju menikah dengan kamu. Lamaran mu kali ini aku terima," ucap Rere sambil menahan perasaan yang terasa cukup berat yang saat ini ada dalam hatinya.


Sungguh, kata-kata itu adalah kata-kata yang paling membahagiakan untuk Alvin. Tanpa sadar, dia langsung menarik Rere kembali ke dalam pelukannya. Dia peluk erat tubuh langsing itu dengan deraian air mata bahagia.


Untuk pertama kalinya, Alvin menjatuhkan air mata di depan umum. Air mata bahagia yang sang mama sendiri saja mendadak merasa kalau itu bukan anaknya.


"Tuan Utama. Anda bisa menangis juga ternyata."


Sontak saja, perkataan yang sang mama ucapkan membuat Alvin merasa malu. Suasana haru yang sedang tercipta berubah menjadi canggung seketika.


"Mama .... " Alvin berucap manja yang membuat semua yang ada di sana mengukir senyum kecil. Sisi lain dari Alvin saat ini terlihat. Sisi lain dari seorang raja bisnis yang kejam, ternyata sangat lembut dan terlalu setia ternyata.


"Aku beruntung bisa bekerja di perusahaan mbak Rere. Hari ini, aku bisa melihat sisi lain dari seorang raja bisnis." Salah satu karyawan Rere yang ada di sana berucap sambil menyeka air mata.


"Hei! Lo itu cowok, Men. Kok ikutan haru samapi nangis kek gitu sih."


"Lo juga cowok, kan? Tapi, lo juga nangis tuh. Cengeng amat."


"Ya elah. Kalian dua cowo sama aja. Ikutan haru sampai nangis. Tapi malah saling nggak mau ngaku."


Begitulah sesi lamaran Alvin untuk Rere akhirnya selesai. Para karyawan yang ikut hadir menyaksikan, tak kalah heboh karena ikut menghayati apa yang sedang terjadi.

__ADS_1


__ADS_2