
Tiba di rumah sakit, Alvin langsung menuju kamar rawat tempat di mana Rohan berada. Dia mengetahui kamar tersebut dari suster yang bertugas saat ini.
Ketika tiba di pintu kamar, mata Alvin langsung melebar saat melihat Rere yang sedang menyuapi Rohan makan. Pemandangan yang sangat menyakitkan bagi Alvin. Perempuan yang paling ia cintai sedang bersama pria lain. Ditambah, pria itu adalah mantan suaminya lagi. Orang yang sempat mengisi penuh hati Rere sebelumnya.
Namun, Alvin bukan anak remaja yang sedang labil. Sesakit apapun hatinya saat ini, dia tetap masih bisa menguasai hati. Setelah bisa menguasai diri, Alvin membuka pelan pintu kamar tersebut.
"Re."
Panggilan itu membuat Rere sedikit kaget. Tapi, dia yang tidak melakukan hal yang di luar logika, tentu langsung menyambut Alvin dengan hangat.
"Vin. Kamu kok ke sini sih? Nggak bilang-bilang aku lagi. Datang kapan?"
Ketika Rere ingin bangun setelah berucap, tangannya malah langsung di tahan oleh Rohan. Dengan tatapan tidak suka, Rohan menatap ke arah Alvin.
"Siapa dia? Mau ke mana kamu, Re?"
"Dia Alvin, mas Rohan. Calon .... "
"Calon investor perusahaan kak Rere, Kak." Seketika, Putri yang baru masuk langsung memotong perkataan Rere.
Sontak, Rere dan Alvin saling bertukar pandang sesaat. Baru kemudian, mereka melihat ke arah Putri yang saat ini sedang berharap perkataannya mendapat persetujuan dari Rere dan Alvin.
"Investor?" Rohan yang masih belum mendapat pembenaran dari Rere langsung angkat bicara. "Beneran, Re?"
"Iy-- iya, Mas. Investor."
Berat memang untuk membenarkan apa yang Rohan katakan. Tapi saat ingat kondisi Rohan yang masih guncang, Rere terpaksa pasrah. Apalagi Putri yang ada di dekatnya begitu berharap kalau Rere tidak mengatakan yang sebenarnya. Setidaknya, untuk saat ini saja. Karena Rohan baru saja sadar dari koma.
__ADS_1
"Ah, iy-- iya sudah kalo gitu. Aku mau bicara dengan Alvin sebentar. Mas Rohan tinggal dengan Putri dulu yah."
"Nggak, Re. Aku nggak mau kamu tinggal. Lagian, siapa itu Putri? Aku nggak kenal dia. Rere .... "
"Mas. Putri ini adiknya mas Rohan. Aku udah cerita semua saudara mas Rohan, bukan? Jadi, nggak papa tinggal dengan Putri. Kamu nggak akan kenapa-napa."
"Tidak mau, Rere. Aku tidak kenal dia! Aku ... tidak punya siapa-siapa di dunia ini selain kamu. Jangan tinggalkan aku, Rere. Tidak-tidak -tidak."
Rere langsung mendengus pelan. Rasa kesal mendadak muncul dalam hatinya. Tapi, mau bagaimana lagi? Rohan sedang tidak baik-baik saja. Guncangan perasaan yang ia alami masih sama seperti saat ia pertama masuk rumah sakir jiwa. Sekarang, guncangan itu malah semakin parah setelah mengalami kecelakaan berat yang belum lama ia alami.
"Mas Rohan. Kamu harus nurut yah. Jangan buat aku marah, oke."
Rere bicara dengan yang sangat lembut. Hal itu membuat Alvin merasa sangat jengkel karena hatinya langsung dilanda api kecemburuan.
"Re, aku tunggu kamu di luar. Ada yang ingin aku bicarakan." Setelah berucap, Alvin langsung beranjak pergi. Raut wajahnya juga terlihat dengan sangat jelas kalau ia sedang tidak baik-baik saja.
Ceritanya, ketika Dani masih menjadi sopir Rere, Alvin sering berselisih kecil-kecilan dengan Dani. Hingga pada akhirnya, Dani dia kirim kuliah keluar negeri agar jauh dari Rere.
Dan sekarang, pak Iyas lah yang menjadi sopir Rere sebagai pengganti anaknya.
Sebenarnya, Rere merasa kalau Alvin sedikit berlebihan. Bisa-bisa berselisih paham dengan pria yang masih sangat muda seperti Dani. Yang tidak akan pernah mungkin jadian dengan Rere karena dia tidak layak untuk Rere jadikan pasangan.
Tapi, ya seperti itulah Alvin. Dia punya pola pikirnya sendiri. Dia memang sedikit sensitif jika itu menyangkut Rere.
"Vin." Akhirnya, Rere bisa keluar juga setelah susah payah membujuk Rohan agar mau ditemani Putri.
Dengan wajah yang masih terlihat gusar, Alvin memutar tubuhnya agar langsung berhadapan dengan Rere. "Udah selesai membujuk anak kecilnya, Re?"
__ADS_1
"Vin. Aku tahu kamu kesal. Tapi, saat ini, mas Rohan beneran sedang tidak baik-baik saja."
"Aku tahu, Re. Tapi, hati ini yang tidak bisa bohong. Aku marah saat melihat kamu bersama mantan suamimu itu. Rasanya, risih sekali, Re."
"Vin .... "
"Aku berusaha untuk memahami keadaan kok, Re. Tapi rasanya, sangat amat sulit. Kamu tahu aku, bukan? Aku orangnya memang seperti ini, Rere. Apalagi itu menyangkut kamu. Aku yang berlebihan."
Ucapan Alvin yang bernada sedih tidak bisa Rere tanggapi dengan perkataan. Karena dia tahu apa yang Rere rasakan saat ini. Yang bisa Rere lakukan adalah, segera menghambur ke dalam pelukan Alvin. Agar perasaan calon suaminya bisa sedikit membaik. Dan, agar Alvin tahu, kalau dirinya juga sedang merasakan perasaan yang tidak baik. Sama seperti yang sedang Alvin rasakan saat ini.
"Maafkan aku, Vin. Semua ini karena aku yang tidak tegaan jadi manusia. Aku tidak bisa tegas menolak permintaan keluarga mantan suamiku. Aku .... "
Dengan penuh perasaan, Alvin memegang kedua pipi Rere dengan lembut. "Bukan salah kamu, Rere. Semua ini karena keadaan. Kamu memang tidak akan tega. Karena mantan suamimu itu memang sangat membutuhkan kamu."
"Namun, tolong berikan aku sedikit waktu juga. Tidak lama lagi, kita akan menikah, bukan? Kita juga butuh waktu untuk kita, Re."
"Aku mengerti, Vin. Kamu tenang saja, setelah dokter bilang kalau mas Rohan sudah sedikit membaik, dan memungkinkan untuk aku tinggalkan, maka aku tidak akan ambil andil dalam urusan mas Rohan lagi. Aku janji," ucap Rere penuh dengan keyakinan.
Alvin langsung mengangguk setuju. Namun, ada yang tidak mereka ketahui. Di sisi lain, ada seseorang yang sedang menguping pembicaraan mereka berdua. Orang itu tidak akan membiarkan Rere pergi, apalagi menjauh dari Rohan. Karena niatnya adalah, untuk menggagalkan pernikahan Rere dengan Alvin.
"Kalian tidak akan punya waktu berdua. Aku akan buat kalian tidak akan pernah bersama. Aku janji itu." Orang tersebut berucap sambil tersenyum menyeringai. Senyuman yang sangat menakutkan.
...
Begitulah hari-hari berlalu dengan cepat. Meskipun Rere masih belum bisa lepas dari Rohan, tapi pernikahan tetap mereka lakukan sesuai dengan jadwal yang telah di tentukan.
Rere semakin jarang datang ke rumah sakit sekarang. Hal itu membuat Rohan semakin keras memberontak. Bahkan, malam ini, Rere sama sekali tidak datang. Karena besok, dia akan resmi menjadi istri dari Alvin. Karena itu, dia tidak datang ke rumah sakit untuk melihat Rohan.
__ADS_1