Cinta Sebelah Pihak

Cinta Sebelah Pihak
'75


__ADS_3

Setelah kepergian Alvin untuk menjawab panggilan, Rere pun ngobrol santai dengan Dani. Tentunya, tidak ada perdebatan yang terdengar lagi di antara mereka berdua.


"Dan, kamu kok bisa kerja di sini sih? Bukannya kemarin, aku dengar kamu pergi keluar negeri untuk melanjutkan pelajaran mu?"


"Yah ... kemarin sih iya, kak. Tapi, semua ini karena suami kamu yang keras kepala itu. Sudah aku bilang aku tidak mau pergi, tapi dia paksa aku buat pergi. Lah, setelah aku pergi, dia malah panggil aku pulang kembali. Dia bilang, dia membutuhkan asisten yang terampil dan bisa ia percaya. Eh, dia malah memilih aki sebagai asistennya."


"Alvin emang susah di tebak seperti itu ya, Dan?"


"Nggak juga, kak. Dia om muda yang baik. Semua yang ia lakukan, pasti ada alasan. Jadi, harus memahami dirinya dengan baik saja. Karena kenyataannya, dia itu tidak mudah ditebak hanya jika tidak memahami dia dengan baik saja. Tapi, jika sudah memahami dia dengan baik, maka dia adalah orang yang asik. Dia juga orang yang baik kok, kak Rere."


Rere terdiam. Tidak ada kata yang bisa ia ucapkan sekarang. Tapi, pikirannya mencoba untuk mencerna dengan baik apa yang baru saja Dani katakan.


"Aku bicara seperti ini, bukan karena aku keponakan jauh om muda, kak Rere. Tapi, inilah kenyataan yang sesungguhnya. Dia memang sedikit menakutkan di depan. Tapi sebaliknya, dia sangat menyenangkan jika kakak kenal dia dengan sangat baik."


"Kamu ini."


Sementara Rere dan Dani terus melanjutkan obrolan, Alvin juga sedang berbicara dengan mata-mata yang ia tugaskan mengawasi Dimas. Yah, selama ini, Alvin sudah tahu semua tentang pria itu. Masih diam karena belum ingin bergerak menghukum semua yang telah pria itu lakukan saja.


"Oh, maksud kamu, sekarang, Maya juga sudah bekerja sama dengan Dimas? Begitu?"


"Ya, tuan muda. Sekretaris tuan muda sudah sepakat untuk bekerja sama. Saya akan kirim salinan rekamannya pada tuan muda nanti."


"Bagus. Aku sudah tidak sabar untuk membuat perhitungan dengan pria itu. Sekarang, malah asistenku yang tidak tahu malu ini pula yang ikut campur. Sekalian saja aku hukum semuanya."


....


Beberapa hari berlalu, ketika Rere sedang ingin makan siang, ia di temui oleh Maya. Pertemuan pertama dengan jarak dekat membuat Rere mendadak merasa ada yang tidak beres dengan perempuan ini.

__ADS_1


"Mbak Rere. Bisa ikut saya sebentar? Ada yang ingin saya bicarakan dengan mbak."


"Mau bicara apa? Ke mana?"


"Ke cafe sebelah sana. Ada hal penting yang ingin saya bahas."


Kebetulan, saat ini Rere sedang sendirian. Alvin sudah mengabari kalau dia tidak bisa datang untuk makan siang bersama. Sedangkan Mona, dia sibuk mengurus acara pertunangan yang sebentar lagi akan dilaksakan untuknya.


Di tambah dengan rasa penasaran, Rere pun menyetujui ajakan ngobrol dari Maya barusan.


"Baiklah. Saya bersedia. Tapi tidak bisa lama-lama. Saya juga ada janji temu dengan klien saya."


"Baik. Nggak akan lama kok, mbak. Tenang saja. Nggak akan selama saya menunggu waktu cantik perubahan pak Alvin untuk saya dekati."


Mulai comel aja nih mulut si perempuan. Rere yang mendengarkan ucapan ingin sekali angkat bicara. Tapi sayangnya, keduluan perempuan itu melangkah pergi meninggalkan Rere di belakang.


Namun, tiba di luar gerbang kantor, Maya malah memaksa Rere untuk masuk ke dalam mobil. Ia bilang, dia akan bicara di dalam mobil saja supaya tidak memakan waktu lama. Semakin curiga Rere dengan hal tersebut. Tapi, ia yakin dengan apa yang Alvin katakan.


"Jika dia mengajak kamu untuk bicara, maka lakukan saja, sayang. Ikuti saja apa yang ia katakan. Karena aku, pasti akan selalu menjaga kamu."


Ucapan Alvin membuat Rere yakin kalau perempuan ini punya sesuatu yang buruk untuk ia lakukan. Tapi, Rere juga yakin kalau Alvin pasti akan melindunginya.


"Jalan!" Maya malah memerintahkan sopir untuk menjalankan mobil setelah Rere masuk. Tentu saja Rere menjadi cukup bingung sekarang.


"Jalan? Bukannya kamu bilang ingin ngobrol berdua dengan aku di mobil saja? Kenapa malah menjalankan mobil sekarang?"


Bukannya menjawab, Maya malah tertawa terbahak-bahak. "Ha ha ha .... Ternyata, istri yang pak Alvin banggakan dan sayangi ini cukup gob- lok yah."

__ADS_1


"Dengar ya mbak Rere yang tidak punya pikiran baik! Aku ngajak kamu masuk mobil itu bukan untuk ngobrol. Tapi, untuk bawa kamu pergi menjauh dari pak Alvin. Pergi jauh, sangat jauh sampai pak Alvin tidak akan bisa menemukanmu lagi. Mengerti?"


Ucapan Maya membuat Rere langsung terkekeh. "Kamu pikir kamu bisa menjauhkan aku dari suamiku? Sayang sekali. Kamu tidak akan pernah bisa."


"Kamu! Kita lihat saja nanti. Siapa yang akan menertawakan siapa." Maya berkata dengan nada dan perasaan sangat kesal.


"Oke. Sama-sama kita buktikan siapa yang akan tertawa. Siapa yang gob- lok akan terbukti tak lama lagi."


"Ah, iya. Kenapa sih kamu malah menginginkan apa yang tidak seharusnya bisa kamu dapatkan, Maya? Alvin itu sudah punya istri. Kenapa harus menginginkan sesuatu yang sudah menjadi milik orang lain, hm?"


"Banyak omong kamu perempuan. Aku menginginkan siapa itu bukan urusan kamu. Siapa bilang aku tidak akan bisa mendapatkan sesuatu yang sudah dimiliki oleh orang lain. Tinggal aku singkirkan saja pemiliknya, maka aku bisa mendapatkan milik orang tersebut. Kamu mengerti, mbak Rere yang tidak punya pikiran?"


"Heh ... emang kamu pikir semua akan berjalan semudah yang kamu katakan? Nggak akan, Maya. Nggak akan pernah sama dengan apa yang kamu pikirkan. Karena walau kamu menyingkirkan aku, Alvin juga tidak akan kamu dapatkan. Karena hati, tidak akan pernah bisa dipaksakan."


"Berisik sekali kamu yah!" Maya berucap sambil menyemprotkan obat bius ke wajah Rere. Seketika, Rere mulai kehilangan kesadaran akibat obat bius tersebut.


"Makan tuh! Kamu akan sadar setelah kamu tidak lagi ada di dekat pak Alvin. Biar kamu tahu rasa, kalau ucapan mu itu hanya sebatas omong kosong yang memekakkan saja."


Di sisi lain, Alvin yang sedang menghadiri rapat penting langsung menerima panggilan. Panggilan itu datang dari si mata-mata yang ingin mengabarkan prihal Rere saat ini.


"Semua, saya permisi sebentar. Pimpinan akan di ambil alih oleh Dani. Silahkan, Dani."


"Baik, pak Alvin. Ayo kita lanjutkan!"


Tidak ada yang berani membantah apa yang Alvin katakan. Rapat penting pun terus berlanjut meski tanpa Alvin di sana.


"Tuan muda, nona Rere sedang bersama Maya saat ini. Mereka menuju sebuah bandara yang cukup jauh. Saat ini, GPS di ponsel nona masih aktif dan saya masih terus mengikuti nona sekarang."

__ADS_1


__ADS_2