
Hal tersebut membuat Rere begitu sedih. Rasa bersalah yang muncul dalam hatinya semakin membesar saja. Rere pun bertekad untuk bertemu Alvin di rumahnya. Kali ini, dia akan meminta maaf dengan sungguh-sungguh, agar Alvin bisa memberikannya kesempatan untuk membuktikan apa yang ia katakan itu memang benar adanya.
"Mau ke mana, Re?"
Pertanyaan dari sang mama langsung menghentikan langkah Rere. Dengan sedikit senyum, ia lihat mamanya yang saat ini baru saja muncul dari dapur.
"Ke rumah Alvin, Ma."
Sang mama terdiam. Sebenarnya, dia sangat prihatin akan kehidupan anaknya yang terbilang cukup malang. Pernikahan pertama, dia dibenci karena tidak saling cinta. Lah yang sekarang, Rere juga mengalami hal buruk akibat salah paham. Sungguh memprihatinkan.
"Re. Apa tidak sebaiknya mama ikut menjelaskan pada Alvin apa yang sebenarnya terjadi? Kali-kali aja Alvin bisa mengerti keadaan kamu yang sebenarnya."
"Nggak, Ma. Mama tidak perlu membantu Rere. Biar Rere sendiri saja yang menyelesaikan masalah yang sudah Rere ciptakan. Rere yakin kalau Rere bisa melakukannya."
"Heh ... baiklah, Re. Lakukan dengan baik ya, nak. Jangan melakukan sesuatu perbuatan berdasarkan emosi. Kamu harus lebih sabar lagi sekarang."
Rere tersenyum kecil. Ucapan mama menciptakan semangat dalam hatinya. Setelah berpamitan, Rere meninggalkan rumah dengan penuh rasa yakin.
Sekarang, dia sudah menikah. Tapi, masih hidup terpisah dengan sang suami. Masalah yang sudah ia ciptakan membuat jarak antara dirinya dengan suami. Pernikahan yang seharusnya harmonis dan bahagia, kini malah sebaliknya.
Tiba di rumah Alvin, Rere di sambut dengan wajah judes oleh para dua pelayan. Salah satu mengatakan kalau Alvin tidak ada di rumah saat ini. Sementara yang satunya lagi malah mengabaikan dirinya. Selayaknya dia tidak terlihat sama sekali.
"Alvin ke mana? Kok nggak ada di rumah pagi-pagi begini?" Rere berusaha mengabaikan perilaku tidak baik dari dua pelayan tersebut.
"Tuan muda kerja, nona. Jadi wajar kalo dia gak ada di rumah jam segini." Jawaban dengan nada jutek itu terdengar begitu saja. Si pelayan yang memberikan jawaban malah tidak melihat Rere sama sekali.
"Kerja? Dia ... ke kantor maksudnya?"
__ADS_1
Karena lontaran pertanyaan lagi dari Rere, si pelayan langsung mendengus kesal. Pelayan itu juga menghentikan pekerjaannya. Namun tetap, dia tidak melihat Rere sama sekali.
"Heh .... Tuan muda sudah pergi ke kantor. Sebaiknya, nona jangan bertanya lagi. Kami banyak pekerjaan yang harus kami selesaikan."
Rere terdiam. Dalam hati dia bertanya.
'Sebenarnya, seberapa tidak sukanya sih mereka padaku? Sampai-sampai, mereka begitu berani bicara dengan nada dan ucapan yang kurang sopan seperti ini?'
'Aish. Biarkan sajalah. Orang ini juga bukan rumah aku yang sekarang. Mereka benci aku, aku gak akan ambil pusing dulu. Karena yang paling penting untuk saat ini, masih maaf dari Alvin.'
Rere pun beranjak setelah bisa menenangkan hati. Namun, baru juga Rere berjalan beberapa langkah, sama seperti sebelumnya, dua pelayan itu langsung membicarakan dirinya.
"Ngapain sih dia nyari tuan muda? Bukannya dia lebih milik pergi dari tuan muda saat resepsi pernikahan?"
"Iya. Gak tahu malu banget jadi orang. Kemarin ia tinggalkan. Lah sekarang, ia cari-cari kek butuh banget gitu."
"Ah! Mungkin sekarang dia baru sadar kali, hidup tanpa tuan muda kita nggak enak."
Ingin rasanya Rere putar balik, lalu memarahi mereka. Tapi, itu semua tidak ia lakukan. Karena Rere sadar, dengan memarahi dua pelayan itu tidak akan memperbaiki keadaan. Namun malahan, akan memperburuk keadaan yang memang sudah buruk.
Lagian, dua pelayan itu tidak salah. Mereka hanya mengatakan apa yang mereka pikirkan. Dan juga, memang kenyataannya seperti itu. Rere mengakui kalau dia memang jahat. Dia pergi meninggalkan sang suami di hari pernikahan. Perbuatan yang sangat jahat meskipun untuk menyelamatkan seseorang.
'Tenanglah, Re. Mereka tidak penting. Yang terpenting itu pengertian Alvin. Karena dia adalah hidupmu sekarang.'
Rere meninggalkan rumah sang mertua menuju kantor Alvin. Sebelumnya, Rere tak percaya jika Alvin sudah memutuskan untuk masuk kerja hari ini. Karena Alvin bilang, dia akan mengambil cuti kerja selama satu minggu. Tapi, mungkin kesalahan dan kekacauan yang sudah terjadi membuat Alvin membatalkan cuti yang sudah ia ambil.
Tiba di kantor Alvin, Rere langsung masuk ke dalam. Tapi ternyata, Alvin tidak sedang tidak ada di kantor saat ini. Salah seorang karyawan mengatakan, Alvin sedang berada di taman samping kantor bersama sekretarisnya.
__ADS_1
"Taman ... samping kantor ini maksudnya?"
"Iya, mbak. Pak Alvin sedang ada di taman sekarang."
Anehnya, karyawan itu tidak menjelaskan kenapa Alvin bisa ada di taman. Rere yang merasa penasaran, langsung menuju taman karena ia pikir, sekarang masih pagi. Seharusnya, Alvin ada di dalam ruangannya, bukan taman.
Setelah kepergian Rere, karyawan itu langsung menghubungi Alvin.
"Iya. Ada apa?"
"Maaf, pak. Istri bapak datang ke kantor. Barusan keluar untuk menemui bapak di taman. Apa tidak masalah, pak?"
Alvin tidak langsung menjawab. Ia malah mencerna baik-baik apa yang karyawan itu katakan. Sebuah ide buruk langsung melintasi benak Alvin saat perkataan karyawan itu berhasil ia cerna.
Sebelumnya, tadi malam dia dinasehati sang mama. Alvin diminta menjemput Rere tadi malam.
"Tidak baik suami istri tinggal terpisah seperti ini, Vin. Apalagi kalian berdua baru menikah. Mana boleh berjauhan seperti ini."
"Vin, mama sebenarnya tidak ingin ikut campur urusan pribadi kamu. Tapi mama sangat tidak nyaman dengan apa yang sedang terjadi di antara kalian berdua. Kalian harus bicara baik-baik untuk menyelesaikan masalah ini."
"Kami sudah bicara, Ma. Hasilnya malah Rere yang pergi ninggalin aku. Sepertinya, pernikahan ini memang hanya aku yang menginginkannya. Tidak dengan Rere sedikitpun."
Alvin lalu melepas napas berat. Ia tahu apa yang ia katakan pada sang mama itu salah. Perkataannya mungkin akan menyulitkan perjalanan hidupnya bersama Rere. Karena sejak awal, sang mama sudah cukup tahu bagaimana perjuangannya untuk memiliki Rere.
Keinginannya untuk menikah dengan Rere pun sang mama pertanyakan baik-baik sebelumnya. Namun, terlepas dari semua itu, mama Alvin sangat bahagia ketika tahu Rere sudah bisa menerima anaknya.
Karena itu, mungkin sang mama juga akan ikut terluka setelah ucapan yang Alvin utarakan barusan. Alvin tidak berniat untuk merusak hubungan sang mama dengan Rere. Tapi bibir mengatakan apa yang hati rasakan dengan begitu saja.
__ADS_1
Tapi sepertinya, apa yang Alvin pikirkan tidak sama dengan apa yang mamanya rasakan. Sang mama malah tersenyum kecil sambil menyentuh lembut tangan Alvin.
"Vin. Sebagai sesama wanita, mama ingin bilang padamu, cobalah untuk sedikit bersabar. Mengalah adalah hal yang paling baik untuk hubungan yang utuh ke depannya. Pahami Rere lagi, mama yakin kamu akan tahu kalau Rere juga sedang ada dalam keadaan sulit saat ini."