
Rere dan Alvin pun saling bertukar pandang, lalu tersenyum lebar. Saat ini, keraguan dalam hati Rere telah pun sirna. Yang ada, semangat yang kuat untuk menjaga anak yang tidak berdosa ini dengan baik.
Kesalahan orang tua tidak bisa dibawa ke anak yang tidak punya salah. Untuk itu, mereka akan merawat anak ini dengan sepenuh hati.
...
Kabar kelahiran anak itu sampai ke telinga anggota keluarga Rohan. Mereka sebenarnya menginginkan anak tersebut karena anak itu adalah darah daging mereka. Tapi wasiat Amira tertulis dengan sangat jelas, kalau anak itu harus di asuh oleh Rere yang masih punya ikatan keluarga dengannya.
"Tapi, Pak. Anak itu cucu kita, bukan? Bagaimana bisa dia diasuh oleh orang lain? Sedangkan, itu adalah anak Rohan. Satu-satunya yang Rohan tinggalkan untuk kita." Ibu Rohan gundah bukan kepalang.
"Bu, dengar! Ibu dari anak itu menginginkan Rere yang menjaganya. Jadi tolong, hormati keputusan ibu dari anak tersebut. Bagaimanapun, Rere juga tante dari anak itu. Dia juga anggota keluarga yang sah dari cucu kita. Apa yang harus kita perbuat lagi, ha?"
"Tapi kita adalah keluarga yang lebih dekat, bukan?"
"Cukup, bu. Hormati apa yang sudah menjadi keputusan orang lain. Apalagi, orang itu sudah tidak ada lagi di dunia ini sekarang. Dan, tolonglah berhenti mengganggu kehidupan kak Rere. Biarkan mereka hidup bahagia sekarang. Jangan ganggu kak Rere lagi, bu." Ivan yang sudah tak tahan dengan sikap sang bunda kini langsung bicara tegas.
"Tapi, Van."
"Yang kak Ivan katakan itu sangat benar adanya, bu. Biarkanlah kak Rere hidup damai sekarang. Biarkan anak itu bersama dengannya. Jika dia memang tidak menginginkan anak itu, sudah pasti dia serahkan pada kita. Karena kita adalah anggota keluarga yang sah dari anak tersebut. Tapi sepertinya, kak Rere juga menginginkan anak itu, bu. Jadi, biarkan dia memilikinya."
Putri pula berucap membenarkan apa yang kakaknya katakan. Kemudian, sebelum sang bunda menyanggah apa yang sudah ia katakan, Putri kembali melanjutkan ucapannya dengan tegas.
"Lagian, anak itu akan jadi orang berguna jika kak Rere yang mengasuhnya. Karena selain ia punya dana untuk menyekolahkan si anak dengan baik, dia juga akan mewarisi sifat baiknya kak Rere kelak. Aku yakin, kak Rere pasti akan mengasuh anak itu dengan caranya yang lemah lembut dan juga penuh kasih."
__ADS_1
Penjelasan demi penjelasan membuat sang bunda semakin naik pitam saja. Emosi yang ia tahan langsung meledak seketika setelah dia mengetahui kalau tidak ada satupun anggota keluarganya yang memihak padanya saat ini.
"Kalian ini gimana sih! Ibu hanya menginginkan cucu ibu saja. Anak itu adalah darah daging kalian! Apa kalian tidak mengerti juga."
"Bukan kami yang tidak mengerti, bu. Tapi sekarang, anak itu ada di tempat yang paling benar. Jadi, untuk apa kita ambil kembali?"
Si bapak juga angkat bicara kembali.
"Ibu juga harus mikir sekarang, bu. Anak itu punya segalanya di sana. Itu tempat yang paling baik buat cucu kita. Selain punya biaya untuk hidup yang baik, dia juga punya keluarga yang utuh. Sedangkan di sini, dia tidak akan bisa hidup dengan baik. Karena kita hidup dengan kesederhanaan saja, bukan?"
Saat itu, yang ada dalam pikiran si ibu hanyalah, pernikahan Ivan yang tak lama lagi akan berlangsung. Sekolah Putri akan terbengkalai karena tidak punya dana untuk tetap di lanjutkan. Sebab, ketika Ivan menikah, otomatis, dia tidak akan lagi membiayai sekolah adiknya. Karena Ivan dan Rohan itu adalah dua orang dengan sifat yang sangat jauh berbeda.
Karena itu, si ibu pun mau tidak mau akhirnya mengalah. Dia mengikuti dan menyetujui apa yang keluarganya katakan. Anak itu memang tidak cocok berada di keluarganya. Memang, yang paling cocok ada di keluarga Rere dan Alvin.
Anak itu mereka beri nama Adnan Arham. Rere inginkan anak tersebut menjadi anak yang penuh dengan kebaikan dan selalu membuatnya bahagia.
....
Waktu berjalan dengan cepat. Empat minggu berlalu sejak kejadian itu. Sekarang, anak itu sudah benar-benar berbaur dengan keluarga Alvin dan Rere. Anak itu cukup dianggap ada dalam keluarga tersebut. Tidak ada yang mengganggap nya anak angkat.
Mungkin, karena mereka memang menyayangi anak tersebut. Atau mungkin juga karena Rere yang masih belum kunjung hamil setelah hampir satu tahun usia pernikahan mereka.
Kesibukan Rere dalam dunia pekerjaan mulai berkurang. Alvin meminta sedikit melebihkan waktu untuk bayi kecil yang saat ini menghiasi setiap sudut rumah mereka.
__ADS_1
Ya. Sekarang, mereka juga sudah tinggal di rumah mereka sendiri. Seperti yang Alvin katakan. Dia ingin adil dengan tidak tinggal di rumah mamanya, juga tidak tinggal di rumah mama Rere. Karena itu, ia membeli sebuah hunian mewah dengan dua lantai dan halaman yang cukup besar.
Alvin juga menyewa beberapa pekerja baru untuk bekerja di rumahnya. Semua pekerja ia pilih yang sudah cukup berumur alias bukan gadis lagi. Itu untuk mengantisipasi agar tidak terjadi hal buruk dengan perasaan sang istri.
Lebih baik berpikiran buruk duluan dari pada memperbaiki yang sudah terjadi. Seperti itulah pendapat Alvin tentang menjaga hati istri tercinta agar selalu dalam keadaan baik-baik saja.
Sementara itu, pernikahan Ivan dan Mona akan segera dilaksanakan. Alvin dengan penuh perasaan memesan gaun beserta set perhiasan untuk sang istri.
"Sayang, lihat ini! Kamu suka nggak?" Set perhiasan juga gaun mewah Alvin perlihatkan pada Rere yang saat ini sedang duduk santai di sofa ruang keluarga.
"Ini ... ya ampun, kak. Cantik banget."
Mata Rere mendadak berbinar. Gaun dengan warna hijau tua itu memang terlihat sangat indah di matanya. Di tambah dengan set perhiasan senada. Hal itu semakin menambah kesan mempesona dari gaun indah yang ada di hadapannya saat ini.
"Kamu suka, sayang? Jika kamu senang dengan gaun ini, maka aku pun langsung merasa bangga dengan diriku sendiri. Karena aku sudah bisa memilih gaun yang istriku sukai dengan baik."
Rere menoleh ke arah Alvin yang saat ini ada di sampingnya. Dengan wajah kesal yang ia buat-buat, ia melihat Alvin sambil mencibir.
"Aku gak jadi suka kalo gitu, kak. Biar rasa bangga dalam hatimu itu langsung sirna."
"Sayang .... Kamu kok jadi semakin tegaan gitu sih sama suami sendiri? Aku ngambek nih sekarang."
Akhirnya malah jadi bercanda mereka berdua. Yang pada akhirnya langsung berakhir dengan pelukan hangat saling memiliki satu sama lain.
__ADS_1