Cinta Sebelah Pihak

Cinta Sebelah Pihak
'49


__ADS_3

"Kak Dimas. Apa hubungan kamu dengan Rere, hah? Kenapa kamu selalu keluar masuk dari kantor Rere, kak?"


"Apa hubungannya dengan kamu, Amira? Mau aku keluar masuk, atau menetap di kantor itu juga tidak akan ada hubungannya dengan kamu. Karena kamu adalah masa lalu, orang yang sudah tidak ada hubungannya dengan hidup aku saat ini. Jadi, jangan sok ikut campur jika ingin tetap bernapas, Amira."


"Kamu kejam, kak Dimas. Kamu buang aku setelah kamu dapatkan hal berharga dari hidupku. Kamu benar-benar bajingan. Apa kurangnya aku, hah? Kenapa kamu lebih memilih Rere dari padaku, kak?"


"Karena Rere jauh lebih baik dari kamu, Mira. Rere spesial. Tidak seperti kamu. Sampah yang tidak ada harganya. Kamu cuma anak har- am yang terbuang. Apa untungnya aku jika menikah dengan kamu. Tidak ada, bukan?"


"Tapi sekarang, Rere sudah janda, kak Dimas. Apa bagusnya perempuan janda ketimbang aku yang kamu bilang anak har- am yang terbuang ini."


"Meskipun dia janda, tapi dia masih jauh lebih berharga dari kamu yang hanya sebatas sampai terbuang, Mira."


"Heh! Jangan kamu pikir aku tidak tahu semuanya, Amira. Kamu lebih naif dan buruk ketimbang pela- cur yang ada di klab malam. Menjijikan."


Saat Dimas mendorong Amira, tas yang Amira bawa terjatuh. Tas itu pun menumpahkan hampir sebagian isi yang ada di dalamnya. Termasuk, USB yang menjadi sarana penyimpanan semua data yang Amira curi dari kantor Rere.


Karena USB itu membuat hati Dimas tertarik, Dimas pun mengambilnya. Amira sudah mencoba menghalangi, tapi sayangnya, dia gagal. Akhirnya, USB itu saat ini ada di tangan Dimas.


Karena penjelasan Amira itu, Dimas pun jadi tersangka buruan untuk mendapatkan data kantor Rere kembali. Alvin yang begitu gencar untuk mendapatkan data itu, tentu saja ikut melakukan sesuatu agar data tersebut bisa sampai ke tangan Rere lagi.


....


Tidak membutuhkan waktu yang sangat lama, Dimas pun datang ke kantor polisi. Dimas mengakui kalau USB itu dia yang mengambilnya. Awalnya, Dimas enggan untuk menyerahkan barang berharga tersebut, karena dia sedang mengincar Rere. Dengan adanya kartu besar perusahaan Rere, Dimas berharap bisa menjerat Rere. Sayangnya, polisi dengan tegas mencegah rencana itu. Mau tidak mau, dia harus menyerahkan data tersebut ke tangan polisi.


"Terima kasih atas kerja samanya, pak Dimas."

__ADS_1


"Sama-sama, pak. Oh, iya. Apa saya boleh menemui tahanan yang bernama Rohan?"


"Boleh. Silahkan!"


"Terima kasih, pak."


'Kalian susah hancur. Maka tidak ada salahnya jika aku tambah kehancuran kalian sedikit saja lagi,' kata Dimas dalam hati sambil berjalan menuju ruang tunggu.


Dimas pun duduk di kursi yang ada di ruang tersebut. Tak lama kemudian, seorang polisi datang bersama Rohan.


"Siapa kamu? Kenapa kamu ingin bertemu dengan aku?" Dengan nada ketus, Rohan melontarkan pertanyaan pada Dimas.


Dimas pun langsung menanggapi dengan senyum lebar di bibirnya. Tak lupa, uluran tangan dia berikan.


"Aku Dimas. Pria dari masa lalu, Amira."


Hal tersebut tentu langsung membuat murka Rohan. Dengan wajah merah, Rohan ingin memukul Dimas. Tapi tentu saja, polisi tidak membiarkan hal itu terjadi.


"Sungguh sangat bodoh kamu jadi pria, Rohan. Mau-maunya kamu mengejar kerikil dan melepas berlian yang sudah ada dalam genggaman. Berlian yang sangat di dambakan banyak pria. Yang saat ini, bahkan adik kandungmu sendiri juga menginginkannya."


Mata Rohan semakin membulat karena ucapan tersebut. "Omong kosong apa lagi yang kamu katakan, hah! Dasar pria laknat!"


"Hei! Aku tidak bicara tentang omong kosong, Rohan. Kau saja yang bodoh. Malah tergila-gila dengan sampah. Padahal, di sampingmu dulu ada permata yang tak ternilai harganya. Yang diincar oleh banyak pria."


"Aku tahu semuanya, Rohan. Bukan hanya aku dan tuan muda Utama saja yang menginginkan Rere, mantan istri yang kamu ceraikan itu. Tapi juga adik kandungmu yang bernama Ivan itu. Bahkan, Dani juga mendambakan istrimu. Anak dari sopir yang bekerja dengan kalian dulu."

__ADS_1


Lidah Rohan mendadak kelu sekarang. Apa yang Dimas katakan mungkin ada benarnya. Dani, sejak awal, anak itu selalu tersenyum saat bersama Rere. Bahkan, ketika sesekali ia datang membantu sang ayah pun dia akan selalu mencari kesempatan untuk bicara dengan Rere dulunya.


Sementara Ivan, iya, anak itu selalu berbeda saat bersama dengan Rere. Bahkan, dia yang terkenal sebagai kulkas keluarga itupun langsung berbeda status saat berhadapan dengan Rere. Bisa-bisanya dia menjadi hangat seketika.


Lalu ... tuan muda Utama. Satu-satunya tuan muda yang bisa melakukan apa saja di dunia bisnis. Yang paling berkuasa karena kedudukan bisnis yang paling tinggi ada di dalam genggamannya. Ternyata orang itu juga mendambakan mantan istrinya.


Saat itu Rohan baru menyadari akan semuanya. Kenapa mantan istrinya bisa mendatangkan pengacara handal, kenapa mantan istrinya tetap bisa bangkit meskipun sudah jatuh ke jurang kebangkrutan. Ternyata, ada orang yang paling berkuasa di belakangnya saat ini.


Dan yang paling ia sadari adalah, rasa menyesal akan dirinya yang bodoh. Seperti yang sudah Dimas katakan, dia membuang berlian hanya untuk menggenggam kerikil yang tidak berguna. Yang bahkan karena kerikil itu, dia saat ini berada di dalam kehancuran sampai tidak bisa di tolong lagi.


Berulang kali Rohan mencoba untuk menguatkan diri sambil bersandar di tembok sel yang saat ini menjadi pembatas antara dirinya dengan kebebasan. Tapi tetap saja, usaha itu tidak berhasil. Ucapan Dimas seperti kaset rusak, yang terus berputar terus dan terus di satu rekaman saja.


"Agh!" Rohan berteriak sambil mengacak-acak rambutnya.


Teriakan itu membuat teman satu sel terganggu. Karena itu, mereka tak segan memarahi Rohan dengan nada kasar.


"Bisa diam gak sih lo! Lo pikir ini hutan belantara yang bisa lo teriakin sesuka hati!"


Rohan tidak menanggapi akan ucapan itu. Karena beban hati yang terlalu berat, rasanya, dia sangat ingin mengulangi semua hal yang sudah salah ia lewati. Dan, dia juga ingin sekali bertemu dengan Amira. Mengatakan semuanya, menyampaikan semua amarah yang saat ini ada dalam hatinya. Tapi untuk bertemu Rere, Rohan tidak ingin. Hatinya terlalu malu untuk menampakkan diri di depan orang yang seharusnya ia pertahankan sekuat tenaga.


....


Hari demi hari berlalu. Rohan yang mendapat pukulan berat tidak kuat untuk tetap bertahan. Hampir setiap malam, Rohan berteriak mengatakan kalau dia menyesali semuanya.


Meskipun dirinya di pukuli sampai memar dan bengkak oleh sesama tahanan, Rohan tetap tidak menghiraukan rasa sakit yang ia terima. Dia tetap melakukan apa yang ingin ia lakukan.

__ADS_1


Hingga akhirnya, Rohan di nyatakan mengalami gangguan jiwa di sana. Lalu, dia di pindahkan ke rumah sakit jiwa agar kondisinya tidak semakin memburuk.


__ADS_2