Cinta Sebelah Pihak

Cinta Sebelah Pihak
'58


__ADS_3

Rere semakin jarang datang ke rumah sakit sekarang. Hal itu membuat Rohan semakin keras memberontak. Bahkan, malam ini, Rere sama sekali tidak datang. Karena besok, dia akan resmi menjadi istri dari Alvin. Karena itu, dia tidak datang ke rumah sakit untuk melihat Rohan.


"Bagaimana ini, bu? Kak Rohan benar-benar tidak bisa kita tenangkan." Putri dengan wajah cemas melihat si kakak yang saat ini sedang mogok makan dan juga tidak mau minum obat.


"Kita harus panggil Rere sekarang juga, Put. Hanya dia yang bisa menolong kita."


"Tidak, Bu. Kak Rere sudah banyak membantu kita. Malam ini, dia tidak akan bisa datang. Karena besok, dia akan menikah dengan kak Alvin."


"Tapi, Put. Jika kakakmu tidak minum obat, maka kondisinya akan kembali drop, bukan? Ibu takut jika kondisi kakak mu kembali seperti waktu itu."


"Lagian, Put. Kita hanya minta Rere datang sebentar saja, bukan? Nggak akan memakan waktu lama dia di sini. Ibu rasa, itu nggak akan bermasalah."


"Tidak, Bu. Bapak tidak akan setuju dengan ide ibu untuk memanggil Rere. Ibu kan tahu, Rere besok akan menikah. Mana mungkin dia diizinkan keluar rumah," ucap si bapak yang baru saja masuk ke dalam kamar tersebut.


"Tapi, Pak."


"Tidak ada tapi-tapian. Ucapan bapak barusan sudah jelas, bukan? Bapak tidak akan mengizinkan kalian memanggil Rere. Apapun yang terjadi."


Malam itu pun berlalu dengan lambat. Karena mereka sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Rohan yang berteriak meminta Rere datang membuat mereka harus ekstra keras untuk membujuk dengan berbagai alasan.


Jika saja bisa, mungkin Rohan sudah diberikan obat penenang oleh dokter. Tapi kondisinya yang tidak baik-baik saja, membuat dokter tidak bisa melakukan apapun untuk membuat Rohan tenang.


Pagi harinya, Dimas yang sudah mengatur rencana agar bisa menggagalkan pernikahan Alvin dan Rere mendapat sedikit hambatan. Dia kesulitan untuk bertemu Rohan yang saat ini sedang di jaga dengan ketat oleh pihak keluarga.


Sementara itu, Rere yang sudah di dandan cantik, turun dengan anggun untuk menemui Alvin yang saat ini sedang menunggu di ruang tamu rumahnya. Yah, ijab kabul akan diadakan di rumah Rere pada pagi hari ini. Selanjutnya, baru resepsi akan di adakan di gedung mewah yang sudah Alvin sewa.


Mata Alvin tidak bisa berkedip ketika melihat Rere yang berdandan dengan sangat cantik.


Kebaya hijau yang melekat ditubuh Rere, seakan menambah aura kecantikan yang memang sudah Rere miliki.

__ADS_1


"Ehem! Ngeliatin nya kok gitu amat, Vin. Kek mau di terkam sekarang aja." Sang mama yang ada di samping Alvin langsung menggoda anaknya.


Godaan itu tentu saja membuat Alvin langsung bersemu malu. Kupingnya seketika memerah akibat godaan sang mama. Dengan rasa enggan, dia mengalihkan pandangannya dari Rere.


"Mama apa-apaan sih? Ada-ada saja." Alvin berucap kecil sambil melirik sesaat sang mama. Hanya sesaat. Karena detik berikutnya, dia kembali melihat ke arah Rere yang sedang berjalan semakin mendekati dirinya.


"Sabar, Vin. Sabar." Bukannya berhenti, sang mama malah semakin gencar memberikan godaan untuk Alvin.


Alvin yang gugup, tentu saja semakin bertambah gugup lagi. Tangannya sampai berkeringat ketika pak penghulu menjabat tangannya untuk melaksanakan ijab kobul.


Di sisi lain, Dimas baru berhasil menjauhkan para keluarga dari Rohan. Dengan keberhasilan itu, dia langsung masuk ke dalam kamar Rohan untuk mengatakan apa yang sedang terjadi pada Rohan.


"Hai." Dimas menyapa dengan seringai lebar di bibirnya.


"Siapa kamu!" Tentu saja reaksi Rohan sangat keras saat melihat orang baru datang mendekati dirinya.


"Tenang. Jangan bertindak gegabah. Aku datang dengan kabar penting tentang Rere."


"Ya. Rere. Dia siapanya kamu?"


"Dia istriku. Di mana dia sekarang? Kenapa kamu tidak datang bersama dengannya. Kenapa .... "


"Hei! Tenang. Aku akan ceritakan apa yang sedang Rere lakukan sekarang, oke."


Dimas langsung mengatakan kebenaran tentang Rere dengan wajah yang sangat serius. Hal itu langsung membuat Rohan langsung panik luar biasa.


"Tidak! Tidak mungkin! Kamu bohong!"


"Aku tidak bohong. Lihatlah ini semua." Dimas berucap sambil memperlihatkan pelaminan megah yang sempat anak buahnya kirimkan. Dan, di sisi lain, tepatnya tak jauh dari pelaminan itu, sebuah foto prewedding dengan ukuran besar terpampang dengan jelas. Wajah Rere dan Alvin terlihat dengan sangat jelas pula di dalam foto tersebut.

__ADS_1


Seketika, teriakan Rohan langsung terdengar menggema memenuhi ruangan. Dimas yang menyadari kalau hal ini tidak menguntungkan untuknya, segera ia tinggalkan kamar tersebut.


"Huh! Semoga saja tidak ada yang melihat aku keluar dari kamar itu," ucap Dimas dengan perasaan lega.


Tapi, buk! Tubuhnya langsung bertabrakan dengan tubuh Putri yang baru saja kembali dari kantin. Sontak, Dimas langsung kaget dengan pertemuan antara dirinya dengan Putri.


"Kak Dimas. Dari mana?"


"Aish. Putri. Dari periksa gula darah, Put. Kamu dari mana? Oh, iya. Gimana kabar kakakmu? Apa sudah baik-baik saja."


Dimas yang mampu menguasai diri dengan cepat, tentu saja langsung terlihat biasa saja. Meskipun sebelumnya dia di serang rasa terkejut, namun Dimas bisa langsung menyembunyikan apa yang ia rasakan.


"Oh. Pantesan aku sering ngeliat kamu ke rumah sakit, kak. Ternyata kamu juga sedang sakit ya?"


Deg, Dimas kembali cemas setelah mendengarkan apa yang Putri katakan.


'Selalu? Dia bilang selalu lihat aku ke rumah sakit? Hadeh ... semoga saja dia tidak curiga.' Dimas berkata dalam hati.


"Hm ... sudah tua, Put. Maklum. Emang jadi sering sakit ini tubuh. Oh ya, aku ada urusan penting nih. Cabut dulu yah."


Belum sempat Putri menjawab, keadaan rumah sakit mendadak jadi sibuk. Hal tersebut langsung mengalihkan perhatian Putri dari Dimas yang saat ini sudah beranjak ingin meninggalkan dirinya.


"Ada apa, Sus? Apa yang sedang terjadi?" Putri bertanya pada suster yang sedang berlari kecil menuju lantai dasar.


"Ada kecelakaan. Pasien kamar 034 membenturkan kepalanya ke kaca jendela."


"Apa!" Seketika, tubuh Putri bergetar hebat. Kamar 034 adalah kamar sang kakak. Bagaimana pula dia tidak kaget luar biasa.


Tanpa melanjutkan pertanyaan, Putri bergegas berlari menuju kamar sang kaka. Dengan air mata berderai, dia berharap jika kakaknya baik-baik saja meskipun apa yang sedang sang kakak alami sangat memprihatinkan.

__ADS_1


Tiba di kamar tersebut, suasana panik luar biasa terdengar. Ibu Putri histeris tak terkira. Sang bapak dengan sekuat tenaga mencoba menenangkan istrinya. Sementara Putri yang baru saja tiba, sontak langsung diam membeku saat melihat tubuh sang kakak yang baru saja ingin di pindahkan ke ruangan lain.


Tubuh dengan kepala berdarah itu terlihat sangat memprihatinkan. Sampai-sampai, Putri tidak tahu lagi harus berucap apa.


__ADS_2