Cinta Sebelah Pihak

Cinta Sebelah Pihak
'78


__ADS_3

Rere malah terkekeh kecil. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa geli di hatinya saat ini. Alvin memang cukup bawel akhir-akhir ini karena itu, sedikit-sedikit, dia hanya ingin Rere menjadi miliknya.


"Kenapa tertawa, hm? Aku lucu yah?"


"Oh iya, Re. Kok panggilan kamu ke aku lupa terus sih? Masih aja manggilnya Alvin. Aku semakin ngambek ni sekarang."


Bukannya menyesal apalagi merasa tidak enak hati, Rere malah tertawa lepas sekarang. Bukan karena ucapan Alvin barusan. Tapi, karena ekspresi wajah Alvin yang lucu saat ngambek.


"Rere ... kok malah tertawa?" Alvin semakin menjadi-jadi sekarang.


Susah payah Rere menenangkan hati untuk tidak tertawa lagi. Pada akhirnya, dia berhasil juga. "Ah ... iya maaf-maaf. Aku minta maaf kak Alvin. Aduh, tolong deh jangan ngambek lagi bayi besar. Nggak enak banget ini hati lihatnya."


Mereka pun terus menghabiskan waktu untuk bercanda hingga tiba di rumah. Sekarang, pak sopir sudah tidak dianggap sedikitpun lagi. Karena terbawa suasana, mereka seperti tidak ingat akan dunia sekeliling.


...


Lima bulan kemudian.


"Halo ... ini dengan nona Rere?"


"Iya. Ini dengan saya sendiri. Ini siapa ya? Dan, ada perlu apa?" Rere dengan nada bingung menjawab panggilan yang datang dari nomor yang tidak ia kenali.


"Kami dari rumah sakit, menghubungi nona untuk mengabarkan kabar duka."


Deg, seketika jantung Rere berdetak kencang. Dia yang awalnya duduk manis, kini langsung bangun dengan cepat dari duduknya.


"Ka-- kabar duka? Maksudnya ... maksudnya apa ya?" Perasaan yang tak karuan membuat Rere tidak bisa berpikir dengan baik lagi sekarang. Kata-kata yang ia ucapkan juga sepertinya jadi gelagapan akibat terkejut.


"Nona. Ibu dengan nama Amira sudah melahirkan bayi laki-laki yang sehat. Tapi sayangnya, kami gagal menyelamatkan ibu dari bayi tersebut. Sebelum ibu dari bayi itu pergi, dia menitipkan anaknya untuk kami serahkan pada perempuan yang bernama Rere yang menjadi pemilik dari perusahan Lestari Jaya. Sekarang, bayinya ada di rumah sakit menunggu kedatangan anda untuk menjemputnya."


Tidak ada kata yang bisa Rere ucapkan lagi sekarang. Tubuhnya mendadak kaku tanpa bisa ia gerakkan sedikitpun. Pikirannya berkecamuk, tak tahu harus mengatakan kata apa.

__ADS_1


Sementara itu, suara seorang perempuan yang sebelumnya sudah berucap panjang lebar pada Rere, kini terdengar lagi. "Nona Rere. Apakah anda masih mendengar saya?"


Pertanyaan itu seketika menyadarkan Rere akan keadaan yang sedang dia hadapi. Dengan perasaan yang masih sama dengan sebelumnya, Rere pun memberikan jawaban. "Iy-- iya. Saya masih mendengar. Baiklah, saya akan segera ke rumah sakit."


"Baik, nona. Kami tunggu kedatangan nona segera."


"Iy-- iya."


Tidak langsung ke rumah sakit. Rere malahan langsung ke kantor Alvin untuk mengatakan apa yang baru saja ia alami. Pendapat Alvin sangat ia butuhkan sekarang. Karena ini bukan hal kecil bagi Rere.


"Sayang. Tumben kamu datang ke kantor aku jam segini. Nggak ngomong dulu lagi." Alvin langsung menyambut Rere dengan hangat saat wajah istrinya itu muncul dari balik pintu yang menjadi pembatas ruangan kerjanya.


"Kak Alvin .... "


Karena panggilan itu bernada berat, ditambah wajah Rere yang terlihat tidak baik-baik saja. Alvin yang awalnya tidak beranjak dari tempat duduk, kini langsung bergegas menghampiri sang istri tercinta.


"Ada apa, sayang? Kenapa kamu?" Dengan lembut, Alvin menyentuh kedua pipi Rere.


Rere lalu menceritakan apa saja yang sudah terjadi padanya beberapa saat yang lalu. Awalnya, Alvin kaget bukan kepalang. Tapi, dia yang cukup bisa menenangkan diri dengan cepat akhirnya mampu memperlihatkan ketenangan pada Rere.


"Bagaimana kalau kita temui papa kamu dulu, Re? Setelah itu, minta pendapat mama tentang permintaan yang besar ini."


"Tapi, Kak ... aku nggak sesanggup itu untuk merawat anak Amira. Karena .... " Rere menggantungkan kalimatnya.


Alvin paham apa yang sedang istrinya pikirkan. Karena itu, dia langsung menyunggingkan bibir untuk membuat hati gundah istrinya bisa sedikit mereda.


"Sayang, jika kamu keberatan karena orang tuanya, pikirkanlah kalau anak itu tidak salah."


"Kamu tidak keberatan, Kak?"


Lagi-lagi, Alvin tersenyum lebar.

__ADS_1


"Aku hanya akan mengikuti apa yang kamu inginkan. Jika kamu setuju, maka aku juga akan setuju. Semua keputusan ada di tangan kamu, sayang. Aku yakin kamu mampu memilih yang terbaik, istriku yang cantik."


Karena ucapan Alvin, Rere pun sedikit tercerahkan. Mereka langsung menuju kantor polisi untuk mencari tahu apa saja yang sudah terjadi. Setelah mendengar keterangan polisi, mereka pun di pertemukan dengan papa Rere yang saat ini masih berada dalam penjara.


"Papa." Rere berucap pelan. Orang tua itu adalah papanya yang terlihat semakin tua saja. Padahal, waktu berlalu belum terlalu lama.


"Rere." Wajah penuh penyesalan itu tak ingin menatap lurus ke mata Rere. Mungkin, pria tua itu tak sanggup melihat sang anak yang sudah ia sakiti selama ini.


"Pa. Apa kabar?"


"Seperti yang kamu lihat. Oh ya, Amira sudah tidak ada lagi sekarang, Re. Ini, dia titipkan satu surat untuk kamu." Masih dengan wajah murung yang tertunduk malu, papa Rere menyerahkan selembar kertas yang terlihat rapi ke hadapan Rere.


Rere menerima surat tersebut tanpa berucap. Kemudian, papanya kembali angkat bicara.


"Maafkan Amira, Re. Maafkan juga papamu yang tidak berguna ini. Tolonglah, tolong jaga anak Amira. Seperti pesan Amira untuk kamu, dia menginginkan anaknya kamu yang jaga."


"Rere. Anak itu tidak akan jadi seperti Amira jika ia ada di tangan kamu. Karena yang salah di sini papa sebenarnya. Bukan Amira. Jika papa membiarkan mama kamu yang merawat Amira sepenuhnya, maka Amira tidak akan jadi manusia yang tidak tahu berterima kasih."


"Papa yang salah, Re. Papa yang sudah merawat Amira dengan kesalahan papa sendiri. Karena itu, Amira jadi jahat seperti yang telah lalu. Untuk anak Amira, kamu jangan cemas, didikan mu tidak akan membuat anak Amira menjadi seperti ibunya. Didikan yang benar akan menciptakan kepribadian yang baik pula, Re. Percaya sama papa."


Pria tua itu bicara dengan penuh harap. Buliran bening yang terjatuh cepat ia seka agar tidak terlihat nyata. Walaupun pada kenyataannya, itu sudah pasti bisa dilihat Rere dan Alvin yang ada di sebelah Rere dengan baik.


Setelah pertemuan itu, Rere masih merasa bimbang. Ia bingung mau menggambil keputusan apa sekarang. Anak Amira yang ada di rumah sakit masih belum ia jemput karena hatinya yang masih merasa was-was.


"Sayang. Sekarang kita harus apa?"


Pertanyaan Alvin membuat Rere langsung menoleh. Setelah itu, ia menggeleng pelan kepalanya tanda ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.


Alvin pun menggenggam erat tangan Rere. Sambil tersenyum, ia tatap wajah sang istri dalam-dalam.


"Sayang, semua akan baik-baik saja. Cobalah memikirkan secara perlahan apa yang harus kita lakukan selanjutnya. Dan, cobalah pikirkan ulang apa yang sudah papa kamu katakan tadi. Mungkin, kamu bisa mengambil keputusan yang baik nantinya."

__ADS_1


__ADS_2