
"Ah! Bibi ini ada-ada saja. Firasat apa sih? Nggak sudah macam-macam deh. Lagian, siapa juga yang harus aku bawa untuk mendampingi aku, bi? Mama lagi sakit. Bibi lagi jagain mama. Terus, siapa lagi coba? Nggak ada, kan?"
Bi Sari menatap Rere dengan tatapan prihatin. Sekarang, keadaan mereka memang sedang tidak baik-baik saja. Tidak ada yang bisa mereka jadikan tempat berpegang. Karena satu-satunya tempat berpegang itu adalah mamanya Rere.
"Tapi perasaan bibi emang gak enak, non. Bibi takut kalau ada apa-apa dipersidangan nanti."
"Bibi tenang saja. Nggak akan terjadi apa-apa. Karena mas Rohan nggak akan datang. Otomatis, persidangan kali ini akan lebih gampang. Karena yang dituntut gak akan datang untuk membela."
"Non Rere yakin akan hal itu, non?"
"Tentu saja yakin, bi. Waktu itu, mas Rohan bilang begitu padaku. Dia gak akan datang ke persidangan supaya perceraian kami bisa berjalan dengan cepat."
"Huh ... semoga saja benar, non. Semoga saja nggak akan terjadi apa-apa di persidangan nanti."
Rere mengangguk pelan. Kemudian, dia beranjak meninggalkan kamar rawat sang mama yang sekarang sudah seperti rumah kedua buat mereka bertiga.
Namun, ketika Rere membuka pintu kamar tersebut, ia langsung melihat Alvin muncul dengan senyum manis di bibirnya.
"Hai, nona. Mau ke mana?"
Basa-basi itu membuat Rere memutar malas bola matanya. "Mau shopping, mas. Apa mau ikut?"
"Uh ... durian jatuh yang sangat membahagiakan. Ayo berangkat!" Alvin berucap sambil tersenyum lebar.
Tidak hanya berucap sambil tersenyum, Alvin juga beranjak mendahului Rere layaknya dia emang diajak jalan-jalan oleh Rere. Seperti ... seseorang benar-benar menerima ajakan serius dari seseorang. Bukan hanya sekedar bercanda saja.
"Apa-apaan sih? Bercandaannya nggak lucu tahu." Rere langsung memasang wajah cemberut. Karena sebenarnya, dia tahu Alvin hanya menjawab candaan dia saja.
Sebaliknya, Alvin malah memasang wajah serius. "Tadi itu ... nggak serius?" Ucapnya balik bertanya.
__ADS_1
"Serius. Siapa bilang nggak?" Kali ini, wajah kesal yang serius Rere perlihatkan dengan sangat jelas.
Tentu saja Alvin langsung mengubah candaan seriusnya dengan wajah takut. Dia takut kalau Rere benar-benar merasa kesal padanya.
"Ya Tuhan ... aku hanya bercanda saja kok. Aku tahu kamu nggak akan pergi berbelanja. Jadi ... maafkan aku. Aku cuma bercanda saja, oke."
Wajah memelas yang penuh harap sambil mengangkat tangan setinggi telinga dengan dua jari terbuka membuat Rere tidak bisa menahan diri. Dia pun terkekeh melihat Alvin yang sangat lucu dengan wajah cemas yang terlihat sangat jelas.
"Ya ampun ... ternyata, kamu kejebak juga, Vin. Aku juga bercanda barusan. Nggak seriusan kok." Rere masih menahan tawa dengan susah payah.
Kedekatannya dengan Alvin terkadang bisa menjadi obat tersendiri untuk luka yang sudah ia alami selama ini. Alvin cukup bisa membuat hatinya bahagia meski hanya dengan cara yang paling sederhana. Saat bersama Alvin, Rere bisa merasakan jadi dirinya sendiri. Tidak perlu bersikap manja agar bisa mendapatkan perhatian. Karena Alvin dengan senang hati memberikan perhatian itu tanpa harus Rere bersusah payah mengusahakannya.
Tentu saja hal ini sangat amat jauh berbeda dari kehidupannya saat bersama Rohan. Sebisa mungkin, dia harus terlihat menonjol agar Rohan memperhatikannya. Itupun, sedikit dengan paksaan meski tidak secara terang-terangan.
Perlahan tapi pasti, Rere merasakan sebuah penyesalan. Kenapa dulu dia tidak pernah merasakan hal ini saat Alvin berusaha mengejarnya. Padahal, pria itu sudah bersusah payah dulunya untuk mendapatkan perhatian dari Rere. Tapi, bukannya perhatian yang Rere berikan, dia malah merasa kesal akibat ulah Alvin yang terkesan terlalu memaksakan diri.
'Apakah sakit hati yang aku alami sebelumnya karena aku mengabaikan Alvin waktu itu yah? Tuhan ... maafkan aku. Aku juga ingin sekali minta maaf pada Alvin atas semua kesalahan di masa lalu. Tapi sayangnya, nyali ini masih sebesar kacang hijau yang tidak akan terlihat jika jatuh ke tanah.'
"Re. Mikir apa sih? Bengong aja kamu. Ada aku nih di depan. Kok malah dianggurin."
Rere kembali terkekeh pelan. Alvin sekarang memang sedikit berbeda. Dia lebih santai dan lebih humoris. Tidak terkesan memaksa, tapi malah terlihat berusaha dengan kesabaran. Hal itu yang membuat Rere merasa lebih nyaman.
"Apaan sih? Kamu itu kek jailani, tau nggak? Pantas tuh dianggurin. Orang datang nggak di undang jugak."
"Yah ... jailani. Jailangkung mbak."
"Serah aku dong. Mau jailani kek, jailangkung kek. Suka-suka aku ajah."
"Yah ... apapun itu. Mbak kunkun emang paling benar. Tertawa siang-siang juga benar kok."
__ADS_1
Seketika, Rere langsung mendaratkan pukulan pelan ke bahu Alvin. Saat bercanda, mereka bisa lupa waktu. Lupa umur juga. Nggak mikir lagi kalau mereka bukan anak remaja. Segala nama akan tersebut sesuka hati.
"Ah! Iya, Re. Aku hampir lupa nanyain sama kamu. Kamu mau ke persidangan, bukan? Aku ikut yah. Mumpung lagi libur nih."
Sontak, wajah Rere langsung berubah. Langkah kakinya pun langsung terhenti seketika.
"Tau dari mana kamu kalau aku hari ini ada persidangan?"
"Itu ... aku nggak sengaja denger saat kamu dan bi Sari ngobrol. Aku ... maaf yah, udah nguping pembicaraan kamu sama bi Sari."
"Kamu sengaja nguping atau cuma kebetulan kedengaran? Hayo ... yang mana yang benar nih?"
"Nggak sengaja kedengaran kok, Re. Mm ... boleh ikutkan? Kamu nggak ada yang nemenin juga kan yah. Biar aja aku yang temenin kamu. Sekalian refreshing karena libur kerja."
Rere menoleh ke arah Alvin. Wajah penuh harap itu sebenarnya tidak ingin Rere tolak. Tapi, mengingat beberapa hal. Rere tidak bisa membiarkan Alvin untuk ikut dengannya ke persidangan.
"Maaf, Vin. Sebaiknya jangan. Aku ingin menghadiri sidang perceraian. Kamu akan dapat masalah jika ikut aku. Karena kamu tahu sendiri kan, bagaimana pendapat orang-orang nantinya."
"Tapi kamu tidak bisa sendiri, Re. Ada .... "
Alvin langsung menggantungkan kalimatnya. Apa yang ingin ia katakan, tidak bisa ia lepaskan sekarang. Dia tidak ingin Rere kembali menjauh seperti waktu itu. Usahanya yang sudah sedikit membuahkan hasil akan terbuang sia-sia saja.
"Ada apa, Vin?"
"Ah! Ng-- nggak. Gak ada apa-apa. Aku hanya ingin ikut saja. Beneran deh, nggak akan keberatan jika aku juga terkena imbasnya. Lagian, kamu juga butuh teman, bukan?"
Pada akhirnya, Rere tetap tidak setuju dengan permintaan Alvin. Dia tetap tidak ingin Alvin berada dalam masalah. Sedangkan Alvin pula, dia juga tidak akan menyerah. Meski Rere tidak mengizinkan ia ikut secara terang-terangan. Maka dia akan tetap ikut secara sembunyi-sembunyi.
"Maaf, Re. Aku tidak bisa membiarkan kamu dalam masalah lagi kali ini. Aku akan bantu kamu dengan sekuat tenaga. Kamu itu bidadari ku. Meskipun hanya aku yang mencintai kamu. Tetap saja, aku tidak akan membiarkan kamu berada dalam masalah."
__ADS_1