Cinta Sebelah Pihak

Cinta Sebelah Pihak
'42


__ADS_3

Hanya Amira dan Haris yang ngobrol sekarang. Sementara Rohan malah terus membisu. Serangan dari perubahan sikap Amira membuatnya terhenyak tak percaya. Wanita yang selama ini ia kagumi dengan semua kelembutan, eh ... sekarang malah tak kalah menyedihkan dari sang mantan istri yang sudah ia campakkan.


Sementara itu, Rere juga sedang ngobrol dengan si pengacara. Dia juga terkejut sebenarnya dengan apa yang baru saja ia hadapi. Ditambah, pengacara itu mendadak datang tanpa ia undang sama sekali.


"Pak. Terima kasih banyak udah bantuin saya. Tapi ... kenapa bapak bisa tiba-tiba datang buat bantuin saja. Kita nggak saling kontrak sebelumnya, bukan?"


Pengacara itu tersenyum lebar. Dia tahu apa yang saat ini Rere rasakan. Bagaimana tidak? Dia yang sangat amat sibuk dengan begitu banyak jadwal, tiba-tiba datang tanpa ada kontak sedikitpun terlebih dahulu dengan klien yang saat ini ia tangani. Siapa juga yang tidak terkejut coba?


"Mbak Rere. Saya datang karena permintaan seseorang. Orang yang sangat dekat dengan saya, yang tidak bisa saya tolak apapun yang ia katakan."


"Siapa dia, pak? Katakan siapa orangnya. Saya ingin berterima kasih pada orang itu. Saya juga ingin tahu alasan kenapa dia bisa membantu saya." Rere berucap dengan wajah yang sangat serius juga penuh dengan harap.


Tapi sayang, pengacara itu tidak akan mengatakan siapa orang yang sudah mengutus dirinya datang. Sebab, seperti yang sudah ia katakan sebelumnya. Dia akan menuruti apa yang orang itu katakan. Termasuk, merahasiakan jati diri orang tersebut.


"Maaf, mbak. Sepertinya, orang itu tidak ingin mbak Rere tahu siapa dirinya. Karena itu, dia meminta saya untuk merahasiakan siapa dia dari mbak."


"Karena pekerjaan saya sudah beres, maka saya harus pergi sekarang. Selamat tinggal, mbak Rere."


Rere pun tidak bisa menjawab apa-apa. Hanya anggukan pelan saja yang ia berikan sambil terus memikirkan siapa orang yang sudah menolongnya.


...


Plak! Sebuah tamparan kembali mendarat di wajah Rohan. Tamparan itu kembali bersarang setelah dia tiba di rumah.

__ADS_1


Saat Rohan pulang, dia sudah ditunggu oleh bapak, ibu, juga kedua adiknya. Mereka yang tahu kabar dari Ivan, kalau si kakak telah mengajukan gugatan untuk Rere, tentu saja langsung meradang.


Bagaimana tidak? Selama ini, mereka sudah sangat malu dengan apa yang Rohan lakukan. Belum lagi tahu, Rohan ternyata tidak menafkahi Rere selama pernikahan mereka. Dan, tentu saja karena semua jasa baik Rere yang terus saja datang meski tidak lagi menjadi menantu dari keluarga itu.


Karena Rere, Ivan yang masih kuliah bisa menduduki posisi direktur sekarang. Posisi yang kosong karena kepergian Rohan dari kantor tersebut.


Karena Ivan yang bekerja menggantikan Rohan, keluarga itu kembali bisa bernapas lega. Karena kondisi keluarga mereka tetap stabil meski Rohan tidak lagi bekerja.


Jasa Rere terus saja mengalir meskipun dia tidak lagi menjadi menantu dari keluarga ini. Karena itu, semua anggota keluarga pasti langsung marah besar saat tahu Rohan malah menggugat Rere yang jelas-jelas tidak ada hal yang bisa ia ambil dari perempuan itu.


"Anak bodoh, kamu Rohan! Di mana pikiranmu kamu letakkan, hah! Kamu nggak punya ot- ak lagi sekarang, hah!" Bapak Rohan benar-benar sangat murka sekarang.


"Han. Ibu tak habis pikir sama kamu. Termakan apa kamu selama ini, Han? Kenapa kamu bisa mempermalukan diri sendiri dan keluarga seperti ini, nak? Mau ibu taruh di mana muka ibu sekarang, Rohan?" Ibu Rohan yang biasa tenang, kini tidak bisa memperlihatkan ketenangan lagi. Dia bicara dengan deraian air mata yang jatuh melintasi kedua pipinya.


Rohan tidak bisa apa-apa sekarang. Rasa sakit akibat tamparan yang bapaknya berikan pun tak bisa ia rasakan lagi. Karena yang lebih sakit itu adalah hatinya. Hati yang terluka akibat perkataan semua keluarga yang menyalahkan dirinya.


Bahkan, dia juga mengutuk dirinya yang begitu bodoh. Kenapa bisa ia mengikuti apa yang Amira katakan. Meminta harta yang memang tidak ada haknya sedikitpun.


"Bereskan barang-barang mu sekarang juga, Rohan. Bapak tidak ingin kamu tinggal di rumah ini lagi mulai dari detik ini."


Deg, mata Rohan langsung melebar dengan apa yang bapaknya katakan. Sungguh, dia tidak menyangka kalau bapaknya akan langsung mengusir dia keluar dari rumah ini. Rumah yang sudah dia tinggali sejak kecil.


"Pak. Jangan usir aku dari sini. Aku tidak punya apa-apa lagi sekarang. Satu-satunya harta yang aku punya juga sudah tidak ada lagi, pak. Rere sudah mengambilnya dari aku. Tolong, pak. Jangan usir aku."

__ADS_1


Rohan memohon dengan sangat. Tapi keputusan bapaknya sudah bulat. Si bapak tidak ingin tetap mempertahankan Rohan setelah apa yang Rohan perbuat. Yang perbuatannya itu sangat amat membuat malu mereka semua sebagai keluarga.


"Bukan Rere yang mengambil hartamu, Rohan. Tapi kamu yang bodoh jadi manusia. Pergi sekarang juga! Jangan buat bapakmu ini semakin muka, Rohan!"


Rohan tidak bisa berkata-kata lagi. Harapan satu-satunya adalah sang ibu. Tapi sayangnya, ibu juga tidak berada di pihak Rohan saat ini. Dengan berat hati, Rohan terpaksa melakukan apa yang bapaknya katakan. Membereskan semua barang, lalu meninggalkan rumah tersebut.


Tak ada tujuan membuat Rohan tidak tahu harus pergi ke mana. Satu-satunya tempat yang ia ingat hanya Amira. Rohan pun tanpa sadar melangkahkan kaki menuju rumah Amira.


Bel ia bunyikan ketika tiba di depan pintu setelah berjam-jam berjalan kaki agar bisa tiba ke rumah tersebut. Saat ia tiba, hari juga sudah mulai gelap.


"Mas Rohan!" Amira yang melihat kedatangan Rohan, tentu langsung memasang wajah kaget. Mana Rohan datang dengan koper besar di tangannya lagi.


"Amira. Aku diusir dari rumah orang tuaku. Tolong aku, Mi."


Belum sempat Amira menjawab, suara Haris terdengar dari belakang menanyakan siapa yang datang. Belum pula sempat menjawab, Haris malah sudah ada di depan pintu.


"Rohan! Kamu ... kok ada di sini sih?" Tentu saja orang tua itu juga terkejut dengan kedatangan Rohan yang tiba-tiba. Mana datang saat hari sudah senja menjelang malam lagi.


"Mas Rohan diusir, pa. Dia nggak punya tempat tinggal sekarang. Jadi, biarkan saja dia nginap di rumah ini ya, pa. Nggak papa, kan?"


"Apa! Kamu nggak salah ngomong, Amira? Kamu ingin Rohan tinggal di sini? Bagaimana kalau Rere tahu, Mi? Kita semua akan berada dalam masalah nantinya."


"Ya ... tapi kan kasihan, Pa. Mas Rohan nggak punya tempat tinggal. Biarkan saja dia tinggal di sini. Setidaknya, sampai dia punya tempat tinggal lain aja, pah."

__ADS_1


__ADS_2