
"Tuan muda, nona Rere sedang bersama Maya saat ini. Mereka menuju sebuah bandara yang cukup jauh. Saat ini, GPS di ponsel nona masih aktif dan saya masih terus mengikuti nona sekarang."
"Kurang ajar! Benar-benar cari mati mereka ternyata. Sekarang, minta semua tim bersiap. Jangan lupa menghubungi polisi juga. Lakukan dengan sebaik mungkin. Jangan sampai istriku kenapa-napa."
"Baik, tuan muda. Jangan cemas, tugas akan kami laksanakan dengan sebaik mungkin. Lokasi keberadaan nona Rere juga sudah saya kirimkan ke ponsel tuan muda."
"Bagus. Aku juga akan bergerak sekarang."
Alvin pergi dengan memakai mobil salah satu mobil karyawan kantornya. Sementara mobil miliknya ia tinggal kan di kantor karena ban mobil tersebut telah di rusak oleh seseorang.
Sementara itu, anak buah yang Alvin tugaskan sudah menyebar di beberapa titik buat mengantisipasi keterlambatan polisi atas kasus penculikan yang sudah mereka laporkan.
Mobil yang membawa Rere kini sudah hampir memasuki jalan terakhir menuju bandara terpencil. Bandara yang mungkin sudah tidak berpenghuni lagi karena terlalu jauh dari pusat kota. Hanya jet pribadi, atau helikopter saja yang sering mendarat di bandara ini. Sementara pesawat penumpang, tidak pernah terlihat sama sekali.
"Aku sudah hampir sampai sekarang. Apa semuanya sudah siap pak Dimas?" Maya bicara lewat telepon dengan Dimas yang saat ini sudah menunggu ke datangan Rere ke bandara tersebut.
"Bagus kalau begitu. Aku juga sudah siap. Tapi, tolong perhatikan sekeliling. Jangan sampai terlihat mencolok. Jangan sampai kamu mengundang perhatian orang lain. Paham?"
"Tenang saja. Aku lakukan sesuai dengan apa yang kamu katakan. Tidak ada kesalahan sedikitpun. Untuk urusan pak Alvin, kamu juga tidak perlu cemas, pak Dimas. Karena aku sudah merusak mobilnya sebelum menjalankan rencana ini."
"Apa! Apa kamu pikir ini adalah rencana yang sudah aku katakan? Kenapa kamu malah merusak mobilnya? Dasar bodoh! Aku tidak mengatakan rencana itu, bukan?"
Dimas sangat kesal sekarang. Dia sungguh punya rencana lain sebenarnya. Dia akan melakukan hal gila lainnya untuk Alvin. Dia akan mencelakai Alvin setelah Alvin melakukan pengejaran untuk menolong Rere. Karena Dimas yakin, Alvin tidak akan tinggal diam begitu saja terhadap Rere. Alvin pasti sudah tahu kalau Rere saat ini sedang berada dalam bahaya.
__ADS_1
Sementara itu, Maya yang di katai bodoh dengan nada tinggi mendadak naik emosi. Dia pun membalas ucapan Dimas dengan nada tinggi pula.
"Kenapa kamu malah mengatakan aku bodoh! Hal yang aku lakukan itu adalah hal terbaik, pak Dimas. Aku melakukan agar pak Alvin tidak bisa melakukan pengejaran saat ia tahu istrinya sedang dalam bahaya."
"Tapi kamu memang bodoh, Maya. Kamu pikir, Alvin tidak punya mobil lain yang bisa ia pakai untuk mengejar kamu? Sungguh manusia gob-lok yang tidak ada duanya di dunia ini. Dengan Alvin pergi tanpa memakai mobilnya, bagaimana kita bisa tahu yang mana dia, hah?"
Maya langsung terdiam. Benaknya juga langsung membenarkan apa yang Dimas katakan. Sedangkan Dimas pula, dia langsung berkata dalam hati dengan kesal.
'Dan aku pula langsung kehilangan kesempatan untuk mencelakai Alvin sekarang. Dasar wanita tidak tahu di untung. Bisa-bisanya ia bertindak tanpa bicara dulu padaku.'
Mobil yang membawa Rere akhirnya tiba di area bandara. Saat Maya keluar, seketika, bunyi tembakan terdengar dengan sangat keras. Hal itu langsung membuat Maya kehilangan kesadaran seketika.
Tembakan itu Dimas yang melayangkannya. Karena dia tidak ingin apa yang terjadi hari ini terbongkar, maka dia langsung berpikir untuk melenyapkan Maya yang ia anggap tidak bisa menyimpan rahasia dan tidak bisa ia peringati dengan baik.
Namun, apa yang Dimas rencanakan ternyata tidak berjalan seperti yang ia harapkan. Seketika, bandara itu di kepung oleh polisi. Tangan Dimas yang memegang senjata, langsung di tebak polisi untuk mengamankan Dimas yang pastinya akan melakukan perlawanan.
Tapi, usaha memang tidak akan mengkhianati hasil. Rere berhasil mereka selamatkan. Dan, Dimas beserta anak buahnya juga berhasil di bekuk oleh polisi sekarang.
Saat Alvin tiba, semua masalah sudah hampir selesai di bereskan. Dia dengan wajah cemas memasuki area bandara untuk menemui istrinya.
"Di mana Rere? Di mana istriku? Apa dia baik-baik saja sekarang?"
"Tuan muda. Nona muda baik-baik saja, dia ada dalam mobil polisi yang itu," ucap anak buah itu sambil mengarahkan telunjuknya. "Tapi nona masih belum sadarkan diri tadi, tuan. Efek obat bius yang membuatnya masih pingsan."
__ADS_1
"Ah! Baiklah. Aku akan ke sana sekarang juga."
Setelah minta izin pada salah satu polisi, Alvin langsung masuk ke dalam mobil. Kebetulan, ketika pintu mobil Alvin buka, Rere baru mau sadarkan diri dari pengaruh obat bius.
"Sayang. Ya Tuhan. Kamu nggak papa, kan Re?" Alvin bergegas merangkul tubuh Rere yang masih setengah sadar saat ini.
"V-- Vin. Aku ... gak papa kok. Cuma sedikit pusing aja sekarang." Rere berucap sambil membalas pelukan Alvin. Rasa takut yang ada dalam hati, saat ini sudah tidak tersisa lagi. Karena Alvin memang benar-benar menepati apa yang ia katakan.
Namun, apa yang Alvin rasakan malah sebaliknya. Dia sangat menyesal karena telah membiarkan Maya melakukan hal gila yang mungkin bisa menyakiti istrinya.
"Maafkan aku, Re. Maafkan aku. Hampir saja aku bikin kamu dalam bahaya besar. Aku yang terlalu egois sebelumnya. Tidak aku pikirkan bahaya buat dirimu."
"Alvin. Apa yang kamu katakan, hm? Aku nggak akan kenapa-napa karena ada kamu yang akan menolong aku, bukan? Untuk itu, kenapa kamu yang malah terlihat seperti sedang menyesali sesuatu yang salah sekarang?"
Alvin tidak berucap. Tubuh langsing Rere ia dekap erat sambil menutup mata. Hatinya berkata, jika hal buruk terjadi pada istrinya, maka ia tak layak untuk hidup. Karena semua itu salah dia sendiri.
"Vin, sudahlah. Aku baik-baik saja," ucap Rere sambil membelai lembut punggung sang suami. Rere tahu apa yang sedang Alvin rasakan sekarang. Karena itu dapat ia lihat dari cara Alvin memeluk tubuhnya.
....
Ternyata, Maya masih bisa di selamatkan. Tapi karena tuduhan penculikan, Maya harus di tahan meskipun belum sembuh dari sakitnya.
Kondisi Maya memang cukup memprihatinkan. Tangan sebelah kirinya terluka parah sampai tidak bisa ia gerakkan. Meskipun begitu, tidak ada ampun bagi seorang tindakan kejahatan bagi hukum negara. Dia tetap di tahan di kantor polisi karena kejahatan yang sudah ia perbuat.
__ADS_1
"Halo, Maya. Apa kabar kamu sekarang?" Rere menyapa Maya ketika ingin di bawa ke sel tahanan.
Maya tidak menjawab satu patah katapun. Dia malu. Sangat amat malu sekarang. Ternyata, yang bodoh, memanglah dia. Bukan Rere.